Peta Persaingan Ketum PBNU 2026-2031: Ada Gus Yahya hingga Gus Rozin

1 hour ago 1

Harianjogja.com, JOMBANG—Persaingan memperebutkan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 menjadi salah satu agenda yang paling dinanti dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.

Sejumlah alim ulama, baik dari kalangan muda maupun senior, dikabarkan masuk dalam bursa kandidat. Pemilihan Ketua Umum PBNU tersebut direncanakan ditentukan melalui sidang pleno pemilihan pada Sabtu (29/8/2026) malam.

Salah satu nama yang dipastikan tidak masuk dalam kontestasi adalah Menteri Agama RI Nasaruddin Umar. Ia menyatakan tidak akan maju karena harus memikul tanggung jawab besar untuk menunaikan tugasnya sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih di bawah komando Presiden Prabowo Subianto.

Selain petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, sejumlah nama lain santer disebut dalam bursa Ketua Umum PBNU. Berikut profil dan gagasan sejumlah kandidat yang mencuat selama Muktamar ke-35 NU.

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin

KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, saat ini menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Gus Kikin merupakan cicit langsung salah satu pendiri (muassis) Nahdlatul Ulama KH M Hasyim Asy'ari. Ia juga dipercaya menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng kedelapan setelah KH Solahudin Wahid (Gus Solah), yang meninggal dunia pada 2020 silam.

Sebelum mengabdikan diri kepada dunia pesantren maupun jam'iyah, Gus Kikin pernah menggeluti dunia manajemen pelayaran. Pada 1988, ia tercatat menjadi Kepala Cabang Kota Cilegon perusahaan Djakarta Lloyd.

Gus Kikin juga dikenal sebagai pengusaha di bidang minyak dan gas bumi. Ia merupakan pemilik PT Energi Mineral Langgeng (EML), perusahaan migas nasional yang diberi amanat mengelola South East Madura Block meliputi wilayah Sumenep dan Situbondo.

Dalam gagasannya, Gus Kikin menonjolkan pentingnya panduan dasar dan pemikiran atau Qanun Asasi yang telah disusun oleh KH M Hasyim Asy'ari sebagai dasar penting dalam menjalani kehidupan organisasi NU.

KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin

KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin merupakan putra Rais Aam PBNU periode 1999-2014 KH MA Sahal Mahfudh. Saat ini ia dipercaya memegang amanah sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah masa kepemimpinan 2024-2029.

Pengalaman Gus Rozin di lingkungan NU cukup panjang. Ia pernah aktif di berbagai organisasi underbouw NU, seperti PP IPNU, GP Ansor, Lembaga Pendidikan Ma'arif PBNU, RMI PWNU Jawa Tengah, RMI PBNU hingga masuk dalam struktur PBNU sebagai Katib Syuriyah.

Di pemerintahan, Gus Rozin pernah menjadi Anggota Dewan Ketahanan Pangan Nasional periode 2017-2020. Ia juga pernah menjadi Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Keagamaan Dalam Negeri pada 2017-2019 serta anggota Tim Komunikasi Sosial Kementerian Sekretariat Negara RI pada 2019.

Sejak 2020, Gus Rozin menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat. Ia juga dipercaya sebagai Dewan Pakar Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah, Dewan Pengarah Badan Arbitrase Syariah Nasional, serta Ketua Majelis Masyayikh Pesantren Indonesia.

Gagasan yang dibawanya mencakup penguatan pesantren, kemandirian jam'iyyah, serta penguatan struktur NU hingga tingkat akar rumput. Ia juga membawa rencana agar NU dapat berperan lebih jauh sebagai katalisator ekonomi di Indonesia.

KH Zulfa Musthafa

KH Zulfa Musthafa merupakan salah satu ulama dengan latar belakang intelektualitas. Pada 25 September 2024, Zulfa tercatat menerima gelar doktor honoris causa di bidang Ilmu Arudl Kesusastraan Arab dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.

Garis keturunan ibundanya terkoneksi langsung dengan Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar Nusantara yang masyhur. Ia juga merupakan keponakan KH Ma’ruf Amin, salah satu ulama sepuh sekaligus Wakil Presiden RI ke-13.

Zulfa pernah mengemban sejumlah jabatan, antara lain Ketua Komite Fatwa BPJPH Kementerian Agama, Wakil Ketua Umum PBNU, Wakil Majelis Pertimbangan MUI Pusat, Sekjen MUI DKI Jakarta, Mutasyar PBNU, hingga Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU.

Visi yang dibawanya menekankan dua kapasitas yang perlu dimiliki pengurus NU, yakni pemahaman agama secara mendalam sekaligus kepekaan terhadap kemaslahatan masyarakat.

Menurut dia, NU perlu memberi ruang kepada kader yang dapat memusatkan perhatian dan pengabdiannya secara penuh kepada kepentingan jam'iyah. Sementara kader yang sedang mengemban amanah di pemerintahan maupun partai politik sebaiknya tetap fokus menjalankan tanggung jawab masing-masing.

KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf

KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

Ia juga pernah dikenal sebagai politikus kawakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Gus Yusuf pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Wilayah PKB Jawa Tengah.

Jika terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, visi yang dibawanya antara lain memulihkan marwah organisasi dan memperkuat soliditas internal. Ia juga membawa gagasan pembenahan tata kelola, pengembangan pendidikan pesantren, hingga pemberdayaan ekonomi umat.

KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam

KH Abdussalam Shohib merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif, Denanyar, Jombang. Gus Salam juga merupakan cucu langsung salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri.

Pengalaman organisasinya mencakup jabatan sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa NU, Katib PBNU pada masa kepemimpinan KH Said Aqil Siradj, hingga Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU sebelum mengundurkan diri.

Pria kelahiran Bangkalan, Madura pada 1977 tersebut mengatakan apabila menerima amanah sebagai Ketua Umum PBNU, langkah pertamanya adalah membangun rekonsiliasi secara keseluruhan melalui forum silaturahmi yang melibatkan para masyayikh maupun segenap elemen NU.

Menurut Gus Salam, rasa kebersamaan yang telah terbangun ulang menjadi modal utama bagi NU untuk menjawab berbagai tantangan yang mengintip perjalanan organisasi pada masa mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |