Penjualan Mobil Listrik China Anjlok 7 Persen di Juni 2026

8 hours ago 3

Jumali

Jumali Jum'at, 10 Juli 2026 15:57 WIB

Harianjogja.com, JOGJA— Kabar mengejutkan datang dari pasar otomotif terbesar di dunia. Penjualan mobil listrik China pada Juni 2026 justru anjlok di tengah gencarnya promosi besar-besaran yang ditawarkan para produsen. Data pengiriman kendaraan energi baru (NEV) gagal menyamai atau bahkan melebihi angka periode yang sama tahun lalu, menjadi sinyal buruk bagi industri kendaraan listrik di Negeri Tirai Bambu.

Bagi masyarakat awam yang mungkin sedang mempertimbangkan membeli mobil listrik, kondisi ini justru bisa menjadi kabar baik karena persaingan harga diprediksi akan semakin ketat di tengah lesunya permintaan.

Berdasarkan data awal dari Asosiasi Mobil Penumpang China, sebanyak 1,04 juta mobil listrik murni dan plug-in hybrid diserahkan ke konsumen di China pada Juni 2026. Angka penjualan kendaraan energi baru (NEV) itu turun 7 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.

Selama paruh pertama tahun 2026, pengiriman EV di pasar otomotif terbesar di dunia itu turun 13 persen dari tahun sebelumnya. Enam bulan tahun ini China hanya bisa menjual 4,73 juta unit kendaraan listrik. Ini disebut menjadi pertanda buruk bagi pasar kendaraan listrik China tahun ini.

"Sentimen konsumen yang lemah merupakan pertanda buruk bagi pasar EV tahun ini. Para pembeli mengharapkan produsen mobil untuk lebih memangkas harga kendaraan mereka karena mereka mengambil sikap 'wait and see'," kata Manajer Penjualan di Yiyou Auto Service di Shanghai, Tian Maowei, dikutip SCMP.

Sikap menunggu ini semakin memperkuat tekanan pada produsen untuk menurunkan harga guna menarik minat pembeli di tengah ketidakpastian ekonomi.

Pekan lalu, perusahaan konsultan global AlixPartners memprediksi penjualan kendaraan ringan di China akan merosot 10 persen. Hal ini disebabkan kondisi ekonomi yang sedang goyah dan melemahnya dukungan pemerintah terhadap insentif kendaraan listrik.

AlixPartners memperkirakan, hanya tujuh dari 30 produsen mobil listrik di China yang akan balik modal pada tahun 2030. Sedangkan pemain kecil kemungkinan akan keluar dari pasar atau diakuisisi oleh produsen otomotif yang lebih kuat. Ini menunjukkan bahwa industri EV China sedang memasuki fase konsolidasi yang ketat.

Sementara itu, produsen mobil China telah meningkatkan ekspansi ke luar negeri untuk mengimbangi penurunan penjualan domestik. Mereka meluncurkan model baru dan membuka showroom di luar China untuk menarik klien asing.

Dalam laporannya, AlixPartners mengatakan mereka memperkirakan ekspor mobil buatan China, yang sebagian besar EV, akan melonjak 41 persen menjadi 10 juta unit pada 2026. Strategi ini diharapkan dapat menyelamatkan industri otomotif China dari keterpurukan di pasar domestik.

Bagi konsumen Indonesia yang tertarik dengan mobil listrik, kondisi ini bisa menjadi peluang karena produsen China kemungkinan akan semakin agresif memasarkan produk mereka ke pasar ekspor, termasuk Indonesia, dengan harga yang lebih kompetitif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |