Nasib Kalibiru Kulonprogo, Spot Wisata Viral yang Kini Terpuruk

4 hours ago 1

Nasib Kalibiru Kulonprogo, Spot Wisata Viral yang Kini Terpuruk

Aktris Prilly Latuconsina berpose saat mencoba berbahai wahana termasuk Flying Fox di Obyek Wisata Alam Kalibiru, Kulonprogo, (DOKUMENTASI OBWIS KALIBIRU)

Harianjogja.com, KULONPROGO— Suasana berbeda terlihat di Wisata Alam Kalibiru, Kulonprogo. Destinasi yang pernah ramai dikunjungi wisatawan tersebut kini lebih banyak diisi kesunyian.

Sejumlah spot foto yang dahulu menjadi daya tarik utama terlihat tidak beraktivitas. Warung-warung UMKM di dalam kawasan juga tampak kosong. Beberapa fasilitas bahkan mulai rusak karena tidak mendapat perawatan optimal.

Pantauan Harian Jogja di kawasan wisata Kalibiru, Selasa (1/9/2026) siang, menunjukkan jalan setapak yang sebelumnya ramai dilalui wisatawan kini lebih banyak dipenuhi dedaunan kering yang gugur dari pepohonan.

Kondisi serupa terlihat di sejumlah fasilitas yang dahulu menjadi magnet wisatawan. Tidak banyak pengunjung yang datang untuk menikmati pemandangan maupun berfoto di spot yang tersedia.

Di dekat papan kayu bertuliskan Kalibiru, Sumarjono duduk sembari memandangi kawasan wisata tersebut. Pengelola Kalibiru itu mengatakan berbagai upaya telah dilakukan untuk kembali menghidupkan kunjungan wisatawan.

Namun, jumlah wisatawan yang datang saat ini masih jauh dibandingkan masa kejayaan Kalibiru.

“Bisa dikatakan kalau sekarang ini memang merosot. Kalau dulu mungkin bisa ribuan, bahkan puluhan ribu per bulan, tapi sekarang ini dalam satu bulan paling-paling ya 100-an,” tuturnya saat ditemui di lokasi, Selasa (1/9/2026).

Menurut Sumarjono, pandemi Covid-19 menjadi salah satu pukulan paling berat bagi keberlangsungan destinasi tersebut.

Kalibiru sempat ditutup total selama berbulan-bulan. Kondisi itu membuat arus wisatawan terhenti sekaligus menguras modal yang dimiliki pengelola.

Ketika aktivitas wisata kembali diperbolehkan, persoalan belum selesai. Pengelola harus memperbaiki berbagai sarana dan prasarana secara mandiri, sementara kemampuan pendanaan sudah terbatas.

Di sisi lain, persaingan industri pariwisata juga semakin ketat. Sejumlah destinasi baru bermunculan dengan menawarkan konsep dan inovasi serupa, tetapi dikemas lebih segar.

Kondisi tersebut membuat Kalibiru semakin sulit mengembalikan popularitasnya.

Dari berbagai wahana yang pernah menjadi daya tarik wisatawan, saat ini terdapat empat wahana yang harus dihentikan operasionalnya. Penghentian dilakukan demi alasan keamanan karena pengelola tidak memiliki biaya yang cukup untuk melakukan perawatan peralatan berbahan besi.

Persoalan kunjungan kemudian berimbas langsung kepada orang-orang yang menggantungkan penghasilan dari Kalibiru.

Jika sebelumnya karyawan mendapatkan gaji tetap, kini sistem tersebut tidak lagi dapat dipertahankan. Pengelola menerapkan sistem penjagaan secara bergantian untuk menyesuaikan kemampuan keuangan.

“Ini kalau misalnya ada karyawan dikasih gaji tetap kayak dulu enggak mungkin. Makanya sekarang ini memang kita untuk semacam gantian yang jaga,” ungkap Sumarjono.

Pada masa Kalibiru masih ramai, karyawan bisa memperoleh gaji hingga Rp2 juta per bulan. Penghasilan tersebut bahkan dapat bertambah apabila mereka bekerja lembur di luar jam kerja.

Besarnya perbedaan kondisi tersebut juga terlihat dari catatan kunjungan dan omzet pengelola.

“Medio 2016 itu Kalibiru dalam setahun dikunjungi 40 ribu lebih wisatawan dengan omzet sampai Rp5 miliar, sekarang ratusan juta saja tidak mampu dan pengunjung ribuan saja sudah sulit dicapai,” lanjutnya.

Tekanan finansial bahkan membuat pengelola harus melepas sejumlah aset untuk mempertahankan operasional destinasi.

Sumarjono mengatakan, pada masa kejayaan Kalibiru, pengelola sempat memiliki tiga unit mobil. Namun, aset tersebut akhirnya dijual untuk membiayai kebutuhan operasional.

Di tengah kondisi tersebut, pengelola membuka peluang bagi investor yang berminat membantu mengembangkan kembali Kalibiru.

Sumarjono mengaku terbuka terhadap pemodal yang ingin ikut mengelola destinasi tersebut. Namun, pengelolaan tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku karena Kalibiru berada di kawasan hutan lindung.

“Kalau ada investor yang mau mengelola Kalibiru kami sangat terbuka, asalkan masih berdasarkan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Hingga kini, menurut dia, belum ada pemodal yang bersedia masuk untuk mengembangkan kembali kawasan wisata tersebut.

Pemkab Sebut Kalibiru Dikelola Masyarakat

Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo, Sutarman, mengatakan Kalibiru merupakan destinasi yang dikelola oleh kelompok masyarakat.

Karena status tersebut, pemerintah kabupaten tidak menerima retribusi secara langsung dari aktivitas wisata di Kalibiru.

Menurut Sutarman, Dinas Pariwisata Kulonprogo selama ini lebih berperan dalam memberikan pembinaan terhadap desa wisata.

Meski demikian, Sutarman menilai kondisi Kalibiru tidak sepenuhnya kehilangan daya tarik. Ia mencontohkan kunjungan artis Prilly Latuconsina ke Kalibiru sekitar sebulan sebelumnya.

“Prilly Latuconsina baru ke Kalibiru sebulan lalu, videonya masih bagus,” tandasnya.

Kondisi Kalibiru kini menunjukkan tantangan yang dihadapi destinasi wisata yang pernah berada di puncak popularitas. Ketika jumlah pengunjung turun drastis, kemampuan pengelola untuk merawat fasilitas ikut tertekan.

Bagi pengelola, persoalannya bukan hanya bagaimana mendatangkan kembali wisatawan, tetapi juga bagaimana memiliki sumber pembiayaan yang cukup agar fasilitas yang tersisa tetap aman dan dapat digunakan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |