Serangan Siber di Ponsel Naik 49 Persen Pengguna Wajib Waspada

1 hour ago 1

Jumali

Jumali Rabu, 02 September 2026 12:17 WIB

Serangan Siber di Ponsel Naik 49 Persen Pengguna Wajib Waspada

Foto ilustrasi peretas/hacker. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Ancaman kejahatan siber terhadap pengguna perangkat seluler di kawasan Asia-Pasifik terus berkembang dengan pola yang semakin canggih. Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah serangan tertinggi berdasarkan laporan terbaru Kaspersky pada kuartal pertama 2026.

Meski jumlah korban secara keseluruhan mengalami penurunan, intensitas serangan yang diterima setiap pengguna justru meningkat signifikan. Data Kaspersky menunjukkan rata-rata ancaman yang terdeteksi per pengguna naik 49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dari 4,9 menjadi 7,3 deteksi.

Indonesia dan India menjadi dua negara dengan volume serangan tertinggi di kawasan. Sepanjang periode pengamatan, Indonesia mencatat 15.163 deteksi ancaman seluler, sementara India mencapai 18.187 deteksi.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber kini semakin agresif membidik pengguna ponsel yang menyimpan banyak data pribadi, mulai dari informasi perbankan hingga akun media sosial.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu yang didominasi email phishing, para peretas kini memanfaatkan berbagai saluran komunikasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tautan berbahaya disebarkan melalui SMS, aplikasi pesan instan, media sosial, promosi palsu, hingga lowongan kerja fiktif. Bahkan dalam sejumlah kasus, penjahat siber menggunakan akun milik keluarga atau kerabat yang telah diretas terlebih dahulu untuk mendapatkan kepercayaan korban.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan turut memperumit situasi. Riset global Kaspersky berjudul The Great Messaging Heist menemukan bahwa 66% korban penipuan meyakini pelaku memanfaatkan AI dalam menjalankan aksinya.

Teknologi tersebut digunakan untuk membuat pesan yang tampak alami, melakukan kloning suara, hingga menghasilkan video deepfake yang menyerupai orang-orang yang dikenal korban.

Data riset menunjukkan 42% kasus melibatkan teks yang dihasilkan AI, 31% menggunakan teknologi kloning suara, dan 25% memanfaatkan manipulasi video berbasis deepfake.

Modus seperti ini membuat korban lebih sulit membedakan komunikasi asli dan palsu, terutama ketika pesan dikirim menggunakan identitas yang terlihat terpercaya.

Yang lebih mengkhawatirkan, proses penipuan berlangsung sangat cepat. Lebih dari separuh kasus yang dianalisis Kaspersky menunjukkan korban kehilangan uang atau data pribadi dalam waktu kurang dari 30 menit sejak kontak pertama terjadi.

Dalam beberapa skenario, perangkat bahkan dapat terinfeksi malware tanpa perlu mengklik tautan tertentu. Pengguna cukup mengunjungi situs yang telah disusupi untuk membuka celah serangan.

Head of Consumer Channel Asia Pacific Kaspersky, Choon Hong Chee, menegaskan bahwa pola ancaman saat ini menuntut pendekatan perlindungan yang lebih proaktif.

Menurutnya, pengguna tidak cukup hanya mengandalkan kewaspadaan, tetapi juga memerlukan sistem keamanan yang mampu mendeteksi ancaman sebelum serangan berkembang lebih jauh.

Untuk mengurangi risiko menjadi korban, pengguna ponsel disarankan melakukan sejumlah langkah pencegahan. Pertama, selalu memeriksa sumber aplikasi sebelum mengunduh dan memperhatikan izin akses yang diminta.

Kedua, hindari mengklik tautan yang menawarkan hadiah, cashback, atau promosi dengan iming-iming yang tidak masuk akal. Ketiga, aktifkan autentikasi multi-faktor (MFA) pada akun penting seperti layanan perbankan, email, dan portal pemerintah.

Selain itu, pengguna perlu memeriksa kembali alamat situs atau URL yang diterima, termasuk apabila tautan tersebut dikirim oleh kontak yang dikenal. Akun teman atau anggota keluarga bisa saja telah diretas tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Langkah lain yang tidak kalah penting adalah memperbarui sistem operasi dan aplikasi secara berkala. Pembaruan perangkat lunak umumnya berisi perbaikan celah keamanan yang dapat dimanfaatkan peretas untuk menyusup ke perangkat.

Meningkatnya pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber menunjukkan bahwa ancaman digital akan semakin kompleks pada masa mendatang. Karena itu, kombinasi antara literasi digital, kewaspadaan pengguna, dan perlindungan keamanan yang memadai menjadi faktor penting untuk menjaga data pribadi tetap aman dari serangan siber.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |