Menkes: Kusta Bukan Kutukan, Penyintas Tak Boleh Didiskriminasi

2 hours ago 1

 Kusta Bukan Kutukan, Penyintas Tak Boleh Didiskriminasi

Ilustrasi gatal-gatal. - Freepik

Harianjogja.com, MAKASSAR—Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa kusta bukanlah kutukan, melainkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan dapat disembuhkan apabila ditemukan sejak dini. Pesan tersebut disampaikan saat meninjau Komplek Kusta Jongaya, Kota Makassar, Sabtu, dalam rangka memperkuat sinergi penanganan kusta sekaligus menghapus stigma yang masih melekat terhadap para penyintas.

Dalam kunjungan tersebut, Menkes didampingi Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham. Keduanya berdialog langsung dengan para penyintas, termasuk Muhammad Ali yang saat ini masih menjalani pengobatan kusta.

Menkes: Kusta Bisa Disembuhkan jika Ditemukan Lebih Awal

Di hadapan para penyintas dan masyarakat, Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa kusta tidak perlu ditakuti selama segera ditangani. Ia menekankan bahwa penderita yang telah memulai pengobatan tidak lagi menjadi sumber penularan.

"Kusta bukan kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan ada obatnya. Kalau ditemukan sejak dini, bisa sembuh. Bahkan setelah mulai minum obat, penderita sudah tidak menularkan penyakitnya. Jadi masyarakat tidak perlu takut, tetapi segera membawa anggota keluarga yang memiliki gejala untuk diperiksa," ujarnya.

Menurut Menkes, pengalaman Muhammad Ali menjadi gambaran bahwa keterlambatan menemukan kasus kusta dapat berujung pada kecacatan, padahal penyakit tersebut sebenarnya dapat disembuhkan apabila terdeteksi sejak awal.

Hapus Stigma terhadap Penyintas

Selain memperkuat upaya penemuan kasus, Budi Gunadi Sadikin menilai tantangan besar dalam penanggulangan kusta adalah menghilangkan stigma sosial yang masih menyebabkan penyintas dijauhi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.

"Kita ingin para penyintas tidak hanya sembuh secara medis, tetapi juga kembali diterima di tengah masyarakat. Tidak boleh ada lagi diskriminasi terhadap penyintas kusta," katanya.

Menurutnya, keberhasilan penanganan kusta tidak hanya diukur dari aspek medis, tetapi juga dari penerimaan sosial terhadap orang yang pernah mengalami penyakit tersebut.

Pemkot Makassar Sambut Dukungan Pemerintah Pusat

Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat di Komplek Kusta Jongaya. Ia menilai kehadiran Menteri Kesehatan membawa semangat sekaligus harapan baru bagi orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK).

"Atas nama Pemerintah Kota Makassar, kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Menteri Kesehatan beserta seluruh rombongan. Kehadiran ini menjadi kehormatan sekaligus membawa harapan besar bagi warga Kompleks Jongaya," ujarnya.

Aliyah berharap kunjungan tersebut menjadi awal kolaborasi yang berkelanjutan untuk menghapus stigma sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Empat Kasus Gizi Kurang Masih Didampingi

Dalam kesempatan yang sama, Aliyah melaporkan kondisi kesehatan masyarakat di Kelurahan Balang Baru. Dari total 2.806 penduduk, tidak ditemukan kasus gizi buruk, sedangkan terdapat empat kasus gizi kurang yang masih mendapatkan pendampingan.

Pemerintah Kota Makassar, lanjutnya, terus memperkuat pelayanan kesehatan melalui berbagai program promotif dan preventif agar kondisi kesehatan masyarakat semakin membaik.

Skrining Kusta Masuk Program Cek Kesehatan Gratis

Kunjungan tersebut juga diisi dengan sesi dialog antara masyarakat dan Menteri Kesehatan RI. Berbagai persoalan dibahas, mulai dari akses pelayanan kesehatan hingga stigma sosial yang masih dihadapi penyintas kusta.

Dalam diskusi itu disampaikan bahwa skrining kusta kini telah menjadi bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat deteksi dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

Melalui kunjungan ini, Pemerintah Kota Makassar berharap sinergi dengan Kementerian Kesehatan, WHO Indonesia, Sasakawa Health Foundation, serta berbagai organisasi mitra semakin kuat dalam mewujudkan eliminasi kusta sekaligus menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan bebas dari stigma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |