Bulog Usulkan Beras SPHP Premium untuk Redam Lonjakan Harga

3 hours ago 2

Harianjogja.com, JAKARTA— Perum Bulog mengusulkan kehadiran beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kategori premium sebagai instrumen baru operasi pasar untuk meredam lonjakan harga beras premium. Produk yang akan menggunakan merek Beras Kita itu diharapkan melengkapi program SPHP yang selama ini hanya menyediakan beras kategori medium, sehingga intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran ketika harga beras premium mengalami kenaikan.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan usulan tersebut telah disampaikan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman serta Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah berikutnya.

"Kami menyarankan ke Pak Menteri Pertanian maupun Pak Menko Pangan untuk menentukan kebijakan berikutnya, untuk kenaikan harga beras premium ini kami juga adakan beras SPHP premium yang bernama Beras Kita," kata Rizal saat dikonfirmasi mengenai harga beras premium yang mencapai Rp16.000 per kilogram usai fun match minisoccer di Jakarta, Sabtu.

SPHP Premium Dinilai Lebih Tepat Sasaran

Menurut Rizal, Bulog mengusulkan kehadiran SPHP premium karena operasi pasar menggunakan beras medium dinilai belum cukup efektif ketika kenaikan justru terjadi pada beras premium.

"Jadi bukan hanya beras SPHP medium tapi kami juga coba munculkan beras SPHP premium yang bernama Beras Kita," ujarnya.

Ia menjelaskan konsep tersebut disiapkan agar pemerintah memiliki instrumen yang lebih sesuai dalam menekan harga beras premium yang belakangan mengalami kenaikan di sejumlah daerah.

Harga Masih Menunggu Keputusan Pemerintah

Bulog menyatakan harga jual beras SPHP premium belum diputuskan. Penetapannya masih menunggu pembahasan dalam rapat koordinasi terbatas pemerintah bersama kementerian dan lembaga terkait.

Menurut Rizal, pemerintah akan mempertimbangkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium sebesar Rp14.900 per kilogram sebagai salah satu acuan dalam menentukan harga jual program tersebut.

Selain memperhitungkan HET, pemerintah juga akan menghitung biaya produksi beras premium agar kebijakan yang diambil tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan pelaku usaha.

Volume Distribusi Disesuaikan Kebutuhan

Bulog juga belum menetapkan besaran alokasi beras SPHP premium. Volume distribusi nantinya akan mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat dan kondisi pasar.

Rizal menegaskan penetapan kuota sejak awal berpotensi tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Karena itu, distribusi akan disesuaikan berdasarkan permintaan yang berkembang.

Ia menambahkan arahan Menteri Pertanian terkait penyediaan 2 juta ton beras komersial tetap menjadi bagian dari pembahasan dalam penyusunan skema penyaluran SPHP premium.

Komposisi distribusi antara beras SPHP medium dan premium, lanjutnya, akan ditentukan berdasarkan hasil evaluasi kebutuhan masyarakat sehingga intervensi pemerintah dapat berjalan lebih efektif.

Preferensi Masyarakat Berubah

Rizal menilai peningkatan produksi beras nasional turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Di sejumlah wilayah, khususnya kawasan perkotaan, masyarakat kini semakin banyak memilih beras premium.

Karena itu, Bulog optimistis kehadiran beras SPHP premium melalui merek Beras Kita dapat memperkuat efektivitas operasi pasar sekaligus menjaga stabilitas harga dan memastikan masyarakat memperoleh beras berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |