
Foto ilustrasi kuota internet. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Penghentian bertahap layanan jaringan 2G di Indonesia dinilai berpeluang dipercepat setelah pemerintah menyelesaikan lelang spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz.
Kalangan industri telekomunikasi memperkirakan langkah tersebut akan menjadi bagian dari optimalisasi penggunaan spektrum untuk memperkuat layanan 4G dan 5G, meski proses transisinya masih menghadapi tantangan besar karena jutaan pelanggan masih mengandalkan perangkat berbasis jaringan 2G.
Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Marwan O. Baasir, mengatakan pembahasan mengenai penghentian atau phase out jaringan 2G sebenarnya telah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir, setelah migrasi jaringan 3G mulai dijalankan.
Menurutnya, setelah proses lelang spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz selesai, pemerintah diperkirakan akan semakin serius mendorong penghentian layanan 2G agar spektrum yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk teknologi yang lebih mutakhir.
“Begitu 2G phase out maka spektrumnya kan dialokasikan mungkin ke 4G kan gitu ya. Artinya [nanti] ada dua network element 4G dan 5G,” kata Marwan saat dihubungi Bisnis pada Sabtu (11/7/2026).
Jutaan Pengguna 2G Masih Menjadi Tantangan
Meski peluang penghentian jaringan 2G semakin besar, Marwan menilai implementasinya tidak akan mudah. Alasannya, masih terdapat jutaan pelanggan yang menggunakan perangkat berbasis jaringan generasi kedua tersebut.
Ia memperkirakan pengguna layanan 2G saat ini berada di bawah 10% dari total pelanggan seluler nasional, atau sekitar 6% hingga 7%. Persentasenya memang relatif kecil, tetapi jumlah penggunanya tetap signifikan mengingat populasi Indonesia telah mencapai sekitar 287,9 juta jiwa.
“Jadi PR kita terbesar itu sekarang bagaimana memigrasi yang masih menggunakan 2G. Itu juga PR besar kita,” kata Marwan.
Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan untuk mempercepat proses migrasi adalah mendorong masyarakat beralih dari feature phone ke smartphone. Menurut Marwan, pembatasan impor feature phone juga dapat menjadi alternatif, meski pelaksanaannya tetap perlu dibahas bersama pemerintah.
Operator Kejar Efisiensi Operasional
Selain aspek migrasi pelanggan, operator telekomunikasi juga mempertimbangkan efisiensi operasional apabila jaringan 2G dihentikan.
Marwan menjelaskan setiap generasi teknologi, mulai dari 2G, 4G, hingga 5G, membutuhkan network element atau perangkat jaringan tersendiri. Kondisi tersebut membuat operator harus mengoperasikan beberapa sistem sekaligus di satu lokasi BTS sehingga kebutuhan listrik ikut meningkat.
“Sekarang average [rata-rata] tuh kan mereka [operator seluler] bayar satu site tuh Rp3 sampai Rp4 juta,” katanya.
Dengan berkurangnya jumlah teknologi yang harus dioperasikan secara bersamaan, operator berpeluang menekan biaya operasional sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan spektrum untuk layanan yang lebih modern.
Transisi Harus Tetap Melindungi Hak Pelanggan
Meski industri menginginkan migrasi menuju layanan digital yang lebih maju, Marwan menegaskan penghentian jaringan 2G tidak boleh mengabaikan hak masyarakat dalam memperoleh layanan telekomunikasi.
Karena itu, ia menilai pemerintah bersama pelaku industri perlu menyusun mekanisme transisi yang adil agar pelanggan yang masih menggunakan jaringan 2G tetap memperoleh akses layanan selama proses migrasi berlangsung.
“Para pengguna ini [2G] kan juga punya hak untuk menikmati telekomunikasi. Namun bagaimana memigrasinya nah itu yang kita harus bahas sama pemerintah supaya fairness-nya ada di semuanya,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































