Mengapa Gempa Jepang Tak Separah Venezuela? Ini Penjelasan Pakar

8 hours ago 5

Mengapa Gempa Jepang Tak Separah Venezuela? Ini Penjelasan Pakar

Petugas mencari korban di puing reruntuhan akibat gempa di Veezuela. /Antara.

Harianjogja.com, JOGJA—Perbedaan dampak gempa bumi di Venezuela dan Jepang menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam memperkuat mitigasi gempa. Meski kedua negara sama-sama diguncang gempa berkekuatan besar, tingkat kerusakan yang ditimbulkan berbeda signifikan. Pakar Kegempaan Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Sarwidi, menilai kualitas bangunan dan kesiapan mitigasi menjadi faktor utama yang menentukan besarnya risiko bencana.

Fenomena tersebut bermula ketika Venezuela mengalami rangkaian gempa besar, sedangkan Jepang diguncang gempa kuat di wilayah Iwate pada hari yang sama. Menurut Prof. Sarwidi, peristiwa itu menjadi "laboratorium alam" untuk menguji sejauh mana penerapan rekayasa kegempaan, standar bangunan, dan budaya mitigasi mampu melindungi masyarakat dari ancaman gempa bumi.

Prof. Sarwidi mengatakan gempa bumi merupakan fenomena alam yang tidak dapat dicegah. Namun, jumlah korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur dapat diminimalkan apabila suatu negara memiliki sistem mitigasi gempa yang kuat dan diterapkan secara konsisten.

Sebagai informasi, Venezuela diguncang fenomena seismic doublet atau gempa beruntun berkekuatan Magnitudo 7,2 yang kemudian disusul Magnitudo 7,5 pada kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer. Guncangan di permukaan diperkirakan mencapai intensitas IX MMI.

Sementara itu, wilayah Iwate, Jepang, mengalami gempa Magnitudo 6,9 pada kedalaman sekitar 15 kilometer dengan intensitas guncangan permukaan mencapai VIII MMI.

Meski sama-sama tergolong gempa besar, Prof. Sarwidi menjelaskan tingkat kerusakan di kedua negara berbeda jauh karena kualitas penerapan standar konstruksi atau building code yang digunakan.

"Di Venezuela, bangunan beton dan tembokan non-daktail yang kaku dan rapuh langsung retak parah saat gempa pertama, lalu ambruk total ketika gempa kedua datang hanya 39 detik kemudian. Pola kehancuran ini identik dengan wilayah yang mengabaikan building code," ujar Prof. Sarwidi dalam keterangan tertulis kepada Harian Jogja, Kamis (25/6/2026).

Berbeda dengan Venezuela, bangunan di Jepang telah menerapkan teknologi tahan gempa sehingga mampu menyerap dan meredam energi guncangan secara lebih efektif.

"Struktur bangunan di sana didesain daktil, artinya mampu bergoyang secara fleksibel untuk meredam energi gempa, bukan justru melawan guncangan secara kaku hingga patah," jelas Anggota Dewan Pengarah BNPB RI periode 2009–2025 tersebut.

Budaya Mitigasi Dinilai Sama Penting dengan Teknologi Bangunan

Prof. Sarwidi yang juga dikenal sebagai inovator teknologi BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa) menegaskan bahwa keberhasilan mitigasi gempa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan konstruksi bangunan. Budaya mitigasi yang telah tertanam di tengah masyarakat juga menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko bencana.

Menurutnya, Jepang telah mengembangkan sistem peringatan dini (early warning system) yang terintegrasi dengan baik. Selain itu, masyarakat dibiasakan mengikuti simulasi kebencanaan sejak usia dini sehingga memahami langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.

Saat alarm peringatan dini berbunyi melalui telepon seluler, masyarakat merespons dengan tenang. Sistem transportasi otomatis berhenti, sedangkan warga segera menuju lokasi aman sesuai prosedur yang telah dipelajari melalui berbagai latihan kebencanaan.

"Kondisi ini kontras dengan negara-negara yang sistem peringatan dininya kurang memadai, seperti di Venezuela. Minimnya sistem peringatan dini justru memicu kepanikan massal, yang sering kali dampaknya jauh lebih mematikan daripada guncangan gempa itu sendiri," imbuhnya.

Melalui perbandingan dua peristiwa tersebut, Prof. Sarwidi mengingatkan Indonesia untuk terus memperkuat mitigasi gempa melalui penerapan bangunan tahan gempa, penegakan standar konstruksi, serta peningkatan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Sebagai negara yang berada di kawasan Ring of Fire, Indonesia memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi sehingga kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari pembangunan nasional.

"Gempa tidak pernah menjadi mesin pembunuh. Yang mematikan adalah bangunan yang tidak ramah gempa dan masyarakat yang tidak teredukasi. Itulah sebabnya setiap gempa harus kita jadikan laboratorium alam untuk belajar, agar bangsa ini tidak terus mengulang kesalahan yang sama," pungkasnya.

Penguatan mitigasi gempa melalui pembangunan infrastruktur yang memenuhi standar, sistem peringatan dini yang andal, serta peningkatan literasi kebencanaan masyarakat dinilai menjadi langkah penting agar risiko korban jiwa dan kerusakan dapat terus ditekan ketika gempa bumi terjadi di masa mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |