Project Fikih Hijau: Mahasiswa UNISA Yogyakarta Tanam 1.500 Mangrove di Pantai Baros, Wujudkan AIK yang Berdampak
BANTUL - Sebanyak 1.500 pohon mangrove ditanam oleh mahasiswa Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta di kawasan Pantai Baros, Bantul, pada 20 Juni 2026. Kegiatan yang melibatkan mahasiswa Program Studi Psikologi, Manajemen, Akuntansi, dan Administrasi Publik tersebut merupakan bagian dari implementasi Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) melalui program Project Fikih Hijau.
Program ini menjadi bukti bahwa pembelajaran AIK tidak hanya berorientasi pada pemahaman teori keagamaan di ruang kelas, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
Dosen pengampu sekaligus penggagas Project Fikih Hijau, Dr. M. Nurdin Zuhdi, menegaskan bahwa pembelajaran AIK harus mampu menjawab berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk isu lingkungan hidup yang kini menjadi tantangan global.
“Pembelajaran AIK jangan hanya berhenti secara teoritis di ruang-ruang kelas saja. AIK harus dibawa keluar kelas dalam bentuk gerakan praksis aplikatif. AIK harus berdampak,” ujarnya.
Menurut Nurdin, selama ini pendidikan agama kerap dipahami sebatas transfer pengetahuan dan penguatan aspek kognitif. Padahal, nilai-nilai keislaman seharusnya mampu menjadi energi perubahan sosial yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk kerusakan lingkungan.
Spirit Al-Ma'un dalam Pelestarian Lingkungan
Dalam perspektif Muhammadiyah, gerakan ini berangkat dari semangat teologi Al-Ma'un yang selama ini dikenal sebagai ajaran tentang kepedulian terhadap kaum lemah. Namun, menurut Nurdin, pemaknaan Al-Ma'un perlu diperluas agar tetap relevan dengan tantangan zaman.
Ia menilai bahwa kerusakan lingkungan yang menyebabkan bencana, hilangnya mata pencaharian, hingga meningkatnya kemiskinan juga merupakan bentuk persoalan kemanusiaan yang harus mendapat perhatian serius.
“Al-Ma'un jangan hanya dimaknai secara sempit bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan enggan menganjurkan memberi makan fakir miskin. Penafsiran pendusta agama harus lebih aktual. Salah satu pendusta agama di era kekinian adalah aktor-aktor perusak lingkungan,” tegasnya.
Menurutnya, kerusakan lingkungan akibat eksploitasi alam, pencemaran, dan deforestasi telah memicu berbagai persoalan sosial yang dampaknya dirasakan secara luas oleh masyarakat. Oleh karena itu, menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari upaya melindungi manusia dari kemiskinan dan kerentanan sosial
Menanam Mangrove, Menanam Kesadaran
Pemilihan mangrove sebagai fokus kegiatan bukan tanpa alasan. Selain berfungsi menahan abrasi, mangrove juga berperan penting dalam menyerap karbon, menjaga keanekaragaman hayati, serta mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran bahwa keberagamaan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi sesama dan alam.
Project Fikih Hijau menjadi contoh bagaimana pendidikan tinggi dapat mengintegrasikan nilai keagamaan dengan isu-isu keberlanjutan yang menjadi perhatian dunia saat ini. Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, gerakan semacam ini menunjukkan bahwa agama dapat hadir sebagai solusi dan kekuatan transformasi sosial.
Berpotensi Menjadi Gerakan Nasional PTMA
Nurdin berharap inovasi pembelajaran AIK berbasis aksi sosial dan lingkungan dapat direplikasi oleh seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) di Indonesia.
“Saya berharap pembelajaran AIK di seluruh PTMA terus berinovasi agar AIK benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. AIK harus mampu menjadi solusi bagi problem sosial, kemanusiaan, lingkungan, ekonomi, dan berbagai persoalan kebangsaan lainnya,” katanya.
Ia bahkan membayangkan apabila seluruh PTMA yang jumlahnya mencapai lebih dari 170 perguruan tinggi melaksanakan Project Fikih Hijau secara rutin setiap semester.
“Ini adalah gerakan Eco-AIK. Bayangkan jika seluruh PTMA melaksanakan Project Fikih Hijau setiap semester. Dampaknya tidak hanya ribuan pohon yang ditanam, tetapi bisa mencapai jutaan pohon. Ini bukan hanya gerakan akademik, tetapi juga gerakan peradaban yang menunjukkan bahwa PTMA hadir untuk menjaga keberlanjutan bumi,” ungkapnya.
Berawal dari Riset dan Diadopsi dalam Pedoman Nasional AIK
Project Fikih Hijau merupakan hasil penelitian hibah kompetitif Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) yang dilakukan secara multiyears oleh Dr. M. Nurdin Zuhdi. Penelitian tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap model pembelajaran agama yang lebih banyak menekankan aspek kognitif dibandingkan dampak sosial.
Signifikansi gagasan tersebut semakin kuat setelah konsep pembelajaran berbasis proyek sosial dan lingkungan diadopsi dalam Pedoman Pengembangan Kurikulum Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) yang diterbitkan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan PP Muhammadiyah pada tahun 2025.
Masuknya konsep tersebut ke dalam pedoman nasional menunjukkan bahwa arah pengembangan AIK di masa depan tidak hanya berorientasi pada pembentukan kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial dan ekologis.
Melalui Project Fikih Hijau, UNISA Yogyakarta berupaya menghadirkan model pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu, iman, dan aksi dalam satu kesatuan. Sebuah ikhtiar untuk membuktikan bahwa pendidikan Islam tidak hanya melahirkan insan yang saleh secara personal, tetapi juga generasi yang bertanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan bumi dan masa depan kemanusiaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































