Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. - ist - Wikipedia
Harianjogja.com, LONDON—Nama Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru dari media Inggris, Daily Mail, Jumat (13/3/2026) menyebut putra Ayatollah Ali Khamenei itu berada dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Teheran.
Situasi tersebut memicu perhatian internasional karena Mojtaba Khamenei disebut sebagai pemimpin baru Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah sumber di Teheran menyebut Mojtaba Khamenei saat ini dirawat di Rumah Sakit Universitas Sina, di Teheran, setelah mengalami luka serius akibat serangan udara. Pria berusia 56 tahun itu dilaporkan belum sadar dan masih menjalani perawatan intensif sehingga tidak mengetahui situasi konflik yang sedang berlangsung di kawasan maupun posisinya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Kondisi Kesehatan Mojtaba Khamenei
Laporan yang juga dikutip dari The Sun, tersebut menyebutkan Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, setelah sang ayah dilaporkan tewas pada 28 Februari lalu. Namun kondisi medis Mojtaba yang disebut kritis membuatnya belum dapat menjalankan peran kepemimpinan secara aktif.
Informasi dari sumber di Teheran menyatakan bahwa Mojtaba kini berada di unit perawatan intensif (ICU) dengan pengamanan ketat dari aparat keamanan Iran. Sebagian besar area rumah sakit dilaporkan telah ditutup sehingga informasi mengenai kondisi kesehatannya sangat terbatas.
Menurut laporan tersebut, Mojtaba disebut tidak mengetahui bahwa konflik militer sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Ia juga dilaporkan belum menyadari kematian sejumlah anggota keluarganya, termasuk istri dan putranya, serta penunjukannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Sebuah pesan yang disebut dikirim secara rahasia kepada seorang aktivis di London bahkan menggambarkan kondisi Mojtaba lebih parah. Pesan tersebut menyebut beberapa bagian tubuhnya mengalami luka serius dan kemungkinan telah diamputasi, sementara organ dalamnya dilaporkan mengalami kerusakan sehingga ia masih berada dalam kondisi tidak sadar.
Pernyataan yang Mengatasnamakan Mojtaba
Di tengah laporan mengenai kondisi kesehatan Mojtaba, pemerintah Iran merilis sebuah pernyataan yang disebut sebagai pernyataan pertama Mojtaba Khamenei pada Kamis. Pernyataan tersebut tidak disampaikan langsung oleh Mojtaba, melainkan dibacakan oleh pembawa berita televisi pemerintah Iran.
Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Iran tidak akan ragu membalas apa yang disebut sebagai “darah para martir”. Pernyataan tersebut juga menyatakan bahwa serangan terhadap pangkalan Amerika Serikat di kawasan akan terus berlanjut serta menuntut penutupan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara tetangga.
Pernyataan yang mengatasnamakan Mojtaba itu juga menyebutkan kehilangan sejumlah anggota keluarga, termasuk ayah, istri, dan kerabat lainnya dalam serangan udara yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Spekulasi Kepemimpinan di Iran
Ketidakhadiran Mojtaba Khamenei di ruang publik memicu berbagai spekulasi mengenai siapa yang sebenarnya mengendalikan pemerintahan Iran saat ini. Sejumlah analis menilai struktur kekuasaan negara tersebut kemungkinan sementara dijalankan oleh para komandan regional Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Situasi tersebut bahkan memunculkan sebutan “Ayatollah Hantu” di sejumlah kalangan yang merujuk pada kondisi Mojtaba yang disebut menjadi pemimpin tetapi tidak muncul di hadapan publik.
Seorang mantan rekan studinya, Jaber Rajabi, memberikan penilaian keras terhadap sosok Mojtaba Khamenei. Ia menyebut Mojtaba dinilai lebih berbahaya dibandingkan ayahnya dan memiliki obsesi terhadap konsep “akhir zaman”. Rajabi juga memperingatkan bahwa Mojtaba dapat mengambil langkah ekstrem demi memperluas pengaruh Iran di kawasan.
Dampak pada Situasi Global
Ketidakpastian mengenai kondisi pemimpin Iran tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent dilaporkan bertahan di atas 100 dolar AS per barel setelah Iran disebut memblokade Selat Hormuz.
Di sisi lain, laporan juga menyebut Iran meluncurkan puluhan drone ke Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Dalam pernyataannya, Trump menyebut Iran harus bersiap menghadapi “kehancuran total” dan menyatakan para pemimpin negara tersebut dapat “disapu dari muka bumi”.
Hingga kini belum ada rekaman video atau bukti visual yang menunjukkan kondisi terbaru Mojtaba Khamenei sejak ia disebut menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Iran. Situasi ini membuat berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatan serta dinamika kepemimpinan Iran terus berkembang di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Dailymail, The Sun


















































