Kebiasaan Mengeluh Berlebihan Bisa Ganggu Relasi Sosial

6 hours ago 3

Jumali

Jumali Senin, 29 Juni 2026 18:47 WIB

Kebiasaan Mengeluh Berlebihan Bisa Ganggu Relasi Sosial

Ilustrasi dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JOGJA— Wajar jika seseorang ingin meluapkan uneg-uneg setelah menjalani aktivitas harian yang melelahkan. Namun, ketika kebiasaan mengeluh menjadi terlalu sering, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga dapat membuat orang-orang di sekitar mulai menjaga jarak, baik di lingkungan pertemanan maupun tempat kerja.

Sejumlah psikolog modern menilai bahwa keluhan yang berulang tanpa diiringi upaya mencari solusi dapat menjadi cerminan kondisi psikologis tertentu. Jika dibiarkan, pola ini tidak hanya memengaruhi suasana sosial, tetapi juga dapat membentuk cara otak dalam memproses informasi, sehingga seseorang semakin mudah terjebak dalam pola pikir negatif.

Dalam teori kepribadian Big Five, salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan kebiasaan mengeluh adalah neurotisisme. Individu dengan kecenderungan ini cenderung lebih sensitif terhadap stres, mudah cemas, dan melihat situasi sehari-hari sebagai sesuatu yang berpotensi mengancam. Akibatnya, rasa tidak puas kerap muncul bahkan pada hal-hal kecil yang sebenarnya masih dapat ditoleransi orang lain.

Mengutip referensi psikologi dari Encyclopaedia Britannica, individu dengan tingkat neurotisisme tinggi tidak hanya bereaksi terhadap masalah besar, tetapi juga terhadap hal-hal minor yang memicu ketidaknyamanan emosional secara berulang.

Selain faktor kepribadian, fenomena negativity bias juga berperan besar dalam kebiasaan mengeluh. Secara psikologis, manusia memang lebih mudah mengingat pengalaman negatif dibandingkan yang positif. Studi yang banyak dikutip dalam literatur psikologi menunjukkan bahwa otak manusia secara alami lebih peka terhadap ancaman sebagai mekanisme bertahan hidup.

Dalam konteks modern, bias ini dapat menjadi tidak seimbang. Satu pengalaman buruk sering kali terasa lebih dominan dibandingkan banyak pengalaman positif lainnya. Akibatnya, seseorang lebih mudah fokus pada kekurangan dan mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sudah berjalan baik, sebagaimana dibahas dalam literatur psikologi populer seperti American Psychological Association dan sumber edukasi psikologi seperti Verywell Mind.

Faktor lain yang turut memicu kebiasaan mengeluh adalah perfeksionisme. Individu dengan standar yang terlalu tinggi cenderung sulit merasa puas terhadap hasil kerja sendiri. Mereka sering kali terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis, sehingga hal-hal kecil yang tidak sempurna dapat memicu frustrasi berkepanjangan.

Menurut kajian psikologi dari American Psychological Association, perfeksionisme yang tidak sehat dapat mendorong seseorang menunda pekerjaan, mudah merasa gagal, dan pada akhirnya menyalurkan tekanan tersebut dalam bentuk keluhan yang berulang.

Meski ketiga faktor tersebut sering dikaitkan dengan kebiasaan mengeluh, para ahli menegaskan bahwa tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan perilaku ini secara menyeluruh. Lingkungan sosial, tekanan kerja, serta pengalaman hidup juga turut membentuk cara seseorang merespons masalah.

Pada akhirnya, mengeluh sebenarnya merupakan hal yang طبیعی dan bisa menjadi mekanisme pelepas stres. Namun, ketika sudah berubah menjadi pola yang dominan tanpa diiringi upaya perbaikan, kondisi ini dapat berdampak pada kualitas hubungan sosial dan kesehatan mental. Menggeser fokus dari sekadar mencari kesalahan menjadi mencari solusi menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan emosional dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |