Kisah Ruhaeni Intan, Penulis Jogja yang Tembus Kusala Sastra 2026

2 hours ago 1

Kisah Ruhaeni Intan, Penulis Jogja yang Tembus Kusala Sastra 2026

Diskusi buku bersama Ruhaeni Intan. Ist/dok.pribadi

Harianjogja.com, JOGJA — Di tengah hiruk-pikuk Jogja sebagai kota kreatif, Ruhaeni Intan justru membangun kariernya dari sesuatu yang tak kasatmata: kegelisahan. Bukan sekadar cerita tentang perantau, tetapi bagaimana rasa “tak punya rumah” diolah menjadi strategi kreatif yang mengantarkannya ke panggung sastra nasional.

Perempuan asal Pati, Jawa Tengah itu tak datang ke Jogja dengan rencana besar. Ia hanya membawa satu tekad sederhana: bekerja sambil terus menulis.

“Pokoknya nulis terus. Aku lihat Jogja itu tempat yang pas karena banyak ruang diskusi dan komunitas,” ujar Intan, Jumat (26/6).

Namun perjalanan kreatifnya tidak semulus bayangan tentang Jogja sebagai “kota pelajar”. Di balik produktivitasnya, ada kegamangan yang terus mengendap—perasaan tidak sepenuhnya menjadi bagian dari kota yang kini ia tinggali.

Ketika Perantauan Jadi Metode Berkarya

Berpindah dari Semarang ke Jakarta, lalu ke Jogja, membuat Intan terbiasa hidup tanpa titik pijak yang benar-benar tetap. Alih-alih menjadi hambatan, kondisi itu justru ia jadikan cara membaca dunia.

Ia tidak memaksakan diri untuk “menguasai” sebuah kota dalam tulisannya. Sebaliknya, ia memilih fokus pada ruang paling dekat: relasi manusia.

“Kadang kita nggak benar-benar merasa punya tempat. Itu yang bikin aku akhirnya lebih fokus ke cerita-cerita yang dekat, ke hubungan antarorang,” katanya.

Pendekatan ini terlihat jelas dalam novela Seakan Bisa Dipisahkan. Alih-alih membangun latar kota yang kompleks, Intan mempersempit ruang cerita pada lingkungan rumah—tempat konflik emosional justru terasa paling kuat.

Menolak Latar Besar, Memilih Intimasi Cerita

Di tengah tradisi sastra Indonesia yang kuat dengan eksplorasi ruang—seperti yang dilakukan Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia atau Ahmad Tohari lewat Ronggeng Dukuh Paruk—Intan memilih jalur berbeda.

Ia tidak mengejar lanskap besar, melainkan kedalaman emosi.

Kisah Sofia dalam Seakan Bisa Dipisahkan menjadi contoh bagaimana konflik keluarga mampu berdiri tanpa bergantung pada identitas geografis yang kuat. Cerita bergerak dari relasi yang rapuh antara anak dan orang tua, bukan dari tempat.

Strategi ini bukan kebetulan, melainkan hasil kesadaran panjang atas keterbatasan sekaligus kelebihan dirinya sebagai perantau.

Dari Film Jepang ke Realitas Indonesia

Proses kreatif Intan juga dipengaruhi konsumsi budaya populer, khususnya film-film Jepang karya Hirokazu Kore-eda. Tema keluarga disfungsional yang sering muncul dalam film tersebut memantik refleksi baru.

Ia mulai melihat bahwa realitas serupa juga banyak terjadi di Indonesia—sesuatu yang kemudian ia konfirmasi saat bekerja di media parenting The Asian Parent.

“Dari situ aku sadar, mungkin justru banyak keluarga yang nggak baik-baik saja,” ujarnya.

Pengalaman masa kecil di Pati, hidup di lingkungan keluarga besar, memperkuat perspektif tersebut. Ia tumbuh dengan pengamatan langsung terhadap dinamika hubungan dalam rumah tangga—bahan mentah yang kemudian diolah menjadi cerita.

Menulis Bukan Sekadar Ekspresi, Tapi Strategi

Yang membedakan Intan dari banyak penulis lain adalah cara ia memandang karier kepenulisan. Baginya, menulis bukan hanya soal ekspresi, tetapi juga strategi bertahan.

Ia menetapkan target menerbitkan buku setiap tahun dan aktif mengikuti sayembara sastra. Tujuannya jelas: membangun visibilitas dan kepercayaan pembaca.

“Aku ingin orang notice. Penghargaan itu membantu orang percaya untuk membaca karyaku,” katanya.

Strategi ini terbukti efektif. Pada Juni 2026, Seakan Bisa Dipisahkan masuk longlist Kusala Sastra Khatulistiwa—penghargaan bergengsi yang mempertemukan namanya dengan penulis-penulis mapan seperti Nukila Amal dan Ratih Kumala.

Di bulan yang sama, ia juga meraih Juara II Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula.

Jogja, Kegelisahan, dan Masa Depan Karya

Kini, Jogja bukan sekadar tempat tinggal bagi Intan. Kota ini menjadi ruang di mana kegelisahan, pengalaman personal, dan strategi kreatif bertemu.

Dari kamar sederhana, ditemani kucing peliharaannya, ia terus merancang karya-karya berikutnya.

Tema perempuan masih akan menjadi benang merah, tetapi dengan eksplorasi yang lebih luas.

“Aku ingin tetap menulis tentang perempuan, tapi dengan cara yang bikin aku terus merasa tertantang,” ujarnya.

Bagi Intan, mungkin rumah bukan lagi soal tempat. Melainkan sesuatu yang ia bangun perlahan—melalui cerita demi cerita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |