Jumali Senin, 29 Juni 2026 15:57 WIB
Kalah dari Toy Story 5, Supergirl Jadi Alarm Bahaya bagi DC Universe
Harianjogja.com, JOGJA—Harapan besar yang disematkan pada film Supergirl justru berujung kekecewaan. Film yang dibintangi Milly Alcock itu hanya mampu mengumpulkan pendapatan sekitar 38 juta dolar AS atau setara Rp678 miliar pada akhir pekan perdananya di pasar domestik Amerika Serikat.
Menurut perkiraan studio yang dirilis Rentrak, Minggu (28/6/2026), raihan tersebut jauh di bawah proyeksi awal industri yang memperkirakan film itu mampu membuka debut mendekati 50 juta dolar AS. USA Today mengungkapkan, dengan hasil tersebut juga kalah jauh dibandingkan Toy Story 5 yang masih mendominasi box office pada pekan keduanya dengan pendapatan sekitar 70 juta dolar AS.
Capaian ini menjadi sorotan karena Supergirl merupakan salah satu proyek penting dalam era baru DC Universe yang dipimpin oleh James Gunn. Film tersebut diharapkan mampu melanjutkan momentum positif yang tercipta setelah kesuksesan Superman pada 2025.
Sebagai perbandingan, Superman yang juga disutradarai Gunn berhasil meraih pembukaan sekitar 125 juta dolar AS di box office domestik. Angka tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan pendapatan perdana Supergirl. Padahal, karakter Supergirl sebelumnya diperkenalkan melalui penampilan singkat yang cukup mencuri perhatian dalam film Superman.
Jika dibandingkan dengan sejumlah film DC lainnya, performa Supergirl juga belum mampu menunjukkan kebangkitan signifikan. Pendapatan pembukaannya berada di bawah The Flash yang pernah mencatat sekitar 55 juta dolar AS pada pekan pertama. Bahkan, hasilnya nyaris setara dengan Joker: Folie à Deux yang sebelumnya dianggap gagal memenuhi target box office.
Kondisi ini memunculkan kembali pertanyaan mengenai daya tarik merek DC di mata penonton setelah proses perombakan besar-besaran yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah analis industri menilai hasil Supergirl dapat menjadi indikator awal bahwa membangun kembali kepercayaan penonton tidak semudah yang dibayangkan.
Dari sisi respons penonton, film ini juga menerima sambutan yang tidak terlalu kuat. Survei penonton menunjukkan nilai rata-rata yang relatif rendah untuk ukuran film superhero beranggaran besar. Beberapa kritik mengarah pada cerita yang dianggap kurang emosional serta konflik yang tidak sekuat film-film DC yang lebih sukses.
Dalam film tersebut, Supergirl diceritakan berupaya menyelamatkan anjing kesayangannya, Krypto, sambil membantu seorang gadis muda yang ingin membalas dendam terhadap pelaku pembunuhan orang tuanya. Selain itu, David Corenswet juga tampil singkat sebagai Superman.
Meski hasil awalnya mengecewakan, DC Studios masih memiliki sejumlah proyek besar yang akan datang. Salah satunya adalah Clayface yang dijadwalkan tayang pada Oktober 2026. Film bergenre horor tersebut disebut memiliki anggaran lebih kecil sehingga tekanan komersialnya tidak sebesar film superhero utama.
Namun perhatian terbesar akan tertuju pada Man of Tomorrow yang dijadwalkan rilis pada Juli 2027. Film tersebut akan kembali menghadirkan Corenswet sebagai Superman dan Alcock sebagai Supergirl. Banyak pihak menilai proyek itu akan menjadi ujian sesungguhnya bagi keberlangsungan DC Universe versi baru.
Di luar semesta utama DC Universe, Warner Bros juga masih memiliki proyek terpisah berupa The Batman Part II. Film yang kembali dibintangi Robert Pattinson tersebut diperkirakan tetap memiliki daya tarik besar mengingat kesuksesan film pertamanya yang meraih hampir 800 juta dolar AS secara global.
Bagi DC Studios, performa Supergirl menjadi peringatan bahwa membangun kembali jagat sinematik superhero membutuhkan lebih dari sekadar karakter populer. Kualitas cerita, keterikatan emosional penonton, dan konsistensi visi jangka panjang akan menjadi faktor penentu apakah era baru DC Universe mampu bersaing dengan rival-rivalnya di industri film global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































