Harianjogja.com, JAKARTA—Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengumumkan rencana penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia. Langkah ini diambil sebagai respons atas tudingan pelanggaran kesepakatan damai oleh Amerika Serikat serta berlanjutnya serangan Israel di wilayah Lebanon.
Melalui Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya, militer Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat dinilai gagal menjalankan komitmen dalam nota kesepahaman (MoU) perdamaian, khususnya terkait penghentian konflik di seluruh front, termasuk di Lebanon.
“Penutupan Selat Hormuz diumumkan sebagai respons atas pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan serta kegagalan implementasi gencatan senjata,” demikian pernyataan resmi yang disiarkan televisi nasional Iran.
Iran juga memperingatkan bahwa langkah ini bukanlah satu-satunya respons. Jika serangan Israel ke Lebanon terus berlanjut, Teheran membuka kemungkinan untuk mengambil tindakan tambahan guna menekan pihak-pihak yang dianggap melanggar kesepakatan.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, yang menjadi penghubung utama distribusi minyak global dari kawasan Teluk. Penutupan jalur ini berpotensi memicu gangguan besar terhadap perdagangan internasional, khususnya sektor energi.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz akan tetap terbuka selama masa gencatan senjata berlangsung, yang disepakati selama 60 hari.
Melalui pernyataan di platform Truth Social, Trump memastikan tidak akan ada biaya yang dikenakan terhadap kapal yang melintasi jalur tersebut selama periode tersebut.
“Tidak akan ada biaya di Selat Hormuz selama 60 hari masa gencatan senjata, dan tidak akan ada biaya setelah periode itu berakhir,” tulisnya.
Namun demikian, ia juga memberi sinyal kemungkinan perubahan kebijakan di masa depan. Jika kesepakatan damai dengan Iran gagal tercapai, Amerika Serikat dapat mempertimbangkan penerapan biaya pelayaran sebagai bentuk kompensasi atas layanan dan biaya operasional yang telah dikeluarkan.
Situasi ini menambah ketidakpastian global, terutama bagi sektor manufaktur dan energi yang sangat bergantung pada stabilitas jalur distribusi internasional. Penutupan Selat Hormuz, jika benar-benar terjadi, diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap harga minyak dunia dan rantai pasok global.
Para pengamat menilai, eskalasi ini menjadi ujian serius bagi diplomasi internasional dalam menjaga stabilitas kawasan sekaligus memastikan kelancaran perdagangan global di tengah konflik yang belum mereda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































