
Foto ilustrasi impor dan eksport. - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN— Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan pada sejumlah pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kabupaten Sleman, terutama sektor usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman menyebut dampak pelemahan rupiah tidak dirasakan secara merata oleh pelaku IKM. Ada kelompok usaha yang lebih rentan karena masih memiliki keterkaitan kuat dengan rantai pasok global, meskipun produk yang dihasilkan dipasarkan di dalam negeri.
“UMKM yang berbasis konsumsi domestik tetapi memiliki ketergantungan pada rantai pasok global akan mengalami tekanan margin akibat inflasi barang impor,” kata Kepala Disperindag Sleman, Dwi Wulandari, Minggu (21/6/2026).
Tekanan utama datang dari kenaikan harga bahan baku impor yang berdampak langsung pada biaya produksi. Sejumlah komoditas seperti kedelai untuk industri tahu dan tempe, tepung terigu untuk usaha roti dan kue, hingga jagung untuk pakan ternak disebut berpotensi mengalami lonjakan harga seiring melemahnya rupiah. Kondisi ini turut diperparah oleh meningkatnya biaya energi serta transportasi yang berpengaruh pada ongkos distribusi.
Dalam situasi tersebut, pelaku IKM didorong melakukan sejumlah langkah penyesuaian agar tetap bertahan. Strategi yang disarankan antara lain efisiensi biaya operasional, penyesuaian ukuran produk, penyesuaian harga jual secara terbatas, hingga substitusi bahan baku impor dengan bahan lokal yang lebih stabil dan terjangkau.
Meski demikian, Disperindag menilai pelemahan rupiah tidak sepenuhnya membawa dampak negatif. Kondisi ini justru membuka peluang bagi IKM yang berorientasi ekspor. Produk seperti kerajinan, fesyen, perhiasan, dan produk kulit berpotensi mendapatkan keuntungan lebih besar karena nilai pendapatan dalam dolar meningkat saat dikonversi ke rupiah.
Selain sektor ekspor, IKM berbasis bahan baku lokal juga dinilai memiliki daya tahan lebih kuat. Produk bernilai tambah dari bahan lokal dipandang semakin kompetitif di tengah naiknya harga bahan impor.
Sektor pendukung pariwisata di DIY, khususnya usaha kuliner dan suvenir, juga diperkirakan masih memiliki prospek positif. Tingginya kunjungan wisatawan, terutama pada periode liburan, menjadi faktor penopang permintaan produk IKM di daerah tersebut.
Untuk menjaga ketahanan sektor ini, Disperindag Sleman menyatakan akan memperkuat pembinaan melalui peningkatan kualitas produk, fasilitasi sertifikasi, pengembangan pemasaran digital, serta perluasan akses promosi dan kemitraan usaha. Pemerintah daerah juga mendorong pelaku IKM untuk memperluas pasar agar lebih adaptif menghadapi dinamika ekonomi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































