Harga Elektronik Naik, Polytron dan Sharp Atur Ulang Produksi

8 hours ago 1

Harianjogja.com, JAKARTA—Pelemahan daya beli masyarakat mulai berdampak pada industri elektronik nasional pada semester II/2026. Di tengah kenaikan harga komponen impor dan pelemahan nilai tukar rupiah, konsumen kini semakin selektif membeli produk elektronik rumah tangga sehingga produsen harus melakukan efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usaha dan menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

Tekanan tersebut mendorong sejumlah produsen elektronik melakukan penyesuaian strategi bisnis, mulai dari menata ulang rantai pasok, mengoptimalkan proses produksi, hingga memperluas jaringan penjualan ke berbagai daerah. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga harga produk tetap kompetitif di tengah tingginya biaya produksi.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (Apkonik) Deny Irawan mengatakan masyarakat kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, terutama untuk produk elektronik yang tergolong barang tahan lama.

“Masyarakat saat ini lebih selektif dalam melakukan pembelian, khususnya untuk produk elektronik yang bersifat tahan lama,” ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Kondisi tersebut membuat utilisasi pabrik anggota Apkonik masih berada pada kisaran 65% hingga 70% atau belum kembali ke tingkat optimal. Rendahnya utilisasi produksi memaksa sejumlah perusahaan mengambil langkah efisiensi dengan mengurangi jam lembur, menyesuaikan jadwal produksi, hingga menunda ekspansi usaha dan perekrutan tenaga kerja baru.

Menurut Deny, sebagian perusahaan bahkan mulai melakukan penyesuaian tenaga kerja melalui pengurangan jam kerja, tidak memperpanjang kontrak karyawan, hingga melakukan PHK. Namun, kondisi tersebut belum terjadi secara merata di seluruh industri elektronik nasional.

“Apabila kondisi utilisasi yang rendah berlangsung dalam jangka waktu yang panjang tanpa adanya perbaikan permintaan pasar, tentu tekanan terhadap kondisi ketenagakerjaan akan semakin besar,” tegasnya.

Apkonik berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu memperkuat daya beli masyarakat dan menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif. Dengan meningkatnya permintaan domestik, perusahaan diharapkan memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan produksi dan memperluas penyerapan tenaga kerja.

Harga Elektronik Berpotensi Naik

Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, memproyeksikan prospek industri elektronik pada semester II/2026 cenderung melemah akibat kenaikan harga produk yang dipicu depresiasi rupiah, kelangkaan pasokan chip semikonduktor, serta kenaikan harga bahan baku plastik dan logam.

Ia mengungkapkan harga komponen chip untuk produk smart TV sejak awal tahun melonjak hingga tiga kali lipat. Kondisi tersebut membuat produsen terpaksa menaikkan harga jual produk secara bertahap di tengah kecenderungan konsumen yang memilih menunda pembelian.

“Produsen juga sudah menaikkan secara bertahap ke harga jual produk,” katanya dalam pesan singkat kepada Bisnis, Kamis (16/7/2026).

Tekno menjelaskan Indonesia masih belum memiliki industri chip dalam negeri sehingga produsen elektronik belum memiliki alternatif pemasok domestik untuk memenuhi kebutuhan komponen utama produk elektronik.

Karena itu, Polytron kini melakukan berbagai langkah efisiensi melalui optimalisasi proses produksi dan penataan ulang rantai pasok (supply chain) guna menjaga keterjangkauan harga di pasar domestik.

Menurut dia, kenaikan biaya produksi belum sepenuhnya dapat dibebankan kepada konsumen sehingga margin keuntungan perusahaan ikut tertekan.

“Menekan margin sudah pasti karena belum semua kenaikan bisa dibebankan secara penuh ke konsumen. Dibutuhkan efisiensi proses dan rebalancing supply chain untuk mencegah terjadinya PHK,” ujarnya.

Tekno menambahkan stabilitas nilai tukar rupiah dan konsistensi kebijakan pemerintah menjadi faktor penting dalam menarik investasi industri hulu elektronik, termasuk pengembangan industri chip di dalam negeri.

Sementara itu, National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia Andry Adi Utomo mengakui pelemahan daya beli masyarakat turut memengaruhi penjualan produk elektronik rumah tangga. Meski demikian, ia menilai kebutuhan elektronik lebih bersifat pembelian yang ditunda daripada dihilangkan sepenuhnya.

Menurut Andry, konsumen saat ini semakin mempertimbangkan efisiensi energi sebelum membeli produk elektronik. Produk dengan teknologi inverter dan fitur hemat listrik menjadi salah satu pilihan yang paling banyak diminati masyarakat.

“Saya lihat konsumen saat membeli produk elektronik mereka akan mencari produk elektronik yang hemat energi,” ujarnya kepada Bisnis.

Sharp juga menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku dan dampak depresiasi rupiah terhadap biaya impor komponen. Perseroan telah melakukan penyesuaian harga jual produk secara bertahap sekitar 10%.

“Di samping itu, kita mengefisienkan rantai logistik dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada,” ungkapnya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Sharp menerapkan berbagai strategi efisiensi operasional, melakukan diversifikasi pemasok, serta memperluas jaringan distribusi hingga ke kota-kota kecil untuk mempertahankan pangsa pasar.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Andry masih optimistis pasar elektronik Indonesia pada semester II/2026 hingga 2027 akan tumbuh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Permintaan diperkirakan tetap ditopang oleh produk LED TV, AC, lemari es, mesin cuci, serta berbagai peralatan rumah tangga berukuran kecil yang masih menjadi kebutuhan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |