
Sejumlah karyawan pigura sedang memotong dan merangkai pigura di Kalurahan Caturtunggal, Depok, Sleman, Jumat (3/7/2026)/ Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, SLEMAN — Pelaku usaha pigura di wilayah Depok, Sleman, menghadapi tekanan berat sepanjang 2026. Kenaikan harga bahan baku yang signifikan terjadi di tengah melemahnya daya beli masyarakat, menciptakan situasi sulit bagi pelaku usaha kecil.
Di satu sisi, biaya produksi terus merangkak naik. Namun di sisi lain, pelaku usaha belum berani menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan di tengah persaingan yang ketat.
Karyawan Ganta Figura, Anwar, mengungkapkan kenaikan paling terasa terjadi pada bahan kaca. Untuk ukuran 80 x 122 sentimeter, harga kaca kini mencapai Rp63.000 hingga Rp65.000 per lembar, naik dari sebelumnya sekitar Rp53.000.
“Kenaikannya cukup terasa tahun ini, terutama untuk kaca dan kayu,” ujarnya saat ditemui di kawasan Sagan, Caturtunggal, Jumat (3/7/2026).
Harga Kayu Ikut Melonjak
Tidak hanya kaca, harga kayu damar sebagai bahan rangka juga mengalami kenaikan tajam. Dari kisaran Rp25.000 per papan, kini melonjak menjadi sekitar Rp35.000.
Sementara itu, kayu jati Belanda yang juga sering digunakan dalam pembuatan pigura kini naik dari sekitar Rp120.000 menjadi Rp135.000.
Kenaikan ini membuat biaya produksi membengkak, terutama karena hampir seluruh komponen utama mengalami penyesuaian harga dalam waktu bersamaan.
Dilema: Naikkan Harga atau Kehilangan Pelanggan
Meski biaya produksi meningkat, pelaku usaha memilih menahan harga jual. Keputusan ini diambil bukan tanpa risiko, melainkan sebagai strategi bertahan di tengah kompetisi.
Menurut Anwar, selisih harga antarpenjual pigura relatif tipis. Jika harga dinaikkan sedikit saja, pelanggan berpotensi beralih ke toko lain.
“Kalau harga dinaikkan, pelanggan bisa pindah. Jadi harus benar-benar dihitung,” katanya.
Tekanan Serupa di Pelaku Usaha Lain
Kondisi ini juga dirasakan pelaku usaha lain. Karyawan AB Pigura, Slamet, menyebut harga kayu damar dari pemasok di Jawa Timur mengalami lonjakan drastis.
Harga yang sebelumnya sekitar Rp30.000 per batang kini mencapai Rp50.000, atau naik lebih dari 40 persen.
Kenaikan tersebut langsung berdampak pada biaya produksi, tetapi tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual.
“Kalau sumber penghasilan dari sini, mau tidak mau tetap jalan,” ujarnya.
Penjualan Turun hingga 50 Persen
Di tengah kenaikan biaya, penjualan justru mengalami penurunan signifikan. Anwar menyebut omzet pada semester pertama 2026 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Slamet bahkan memperkirakan penurunan mencapai sekitar 50 persen.
Kondisi ini dipengaruhi perubahan pola konsumsi masyarakat. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, produk nonprimer seperti pigura tidak lagi menjadi prioritas.
UMKM Kreatif Ikut Terdampak
Fenomena ini menunjukkan bahwa perlambatan daya beli tidak hanya dirasakan sektor besar, tetapi juga pelaku usaha kecil di bidang kreatif dan kerajinan.
Mereka menghadapi tekanan ganda: biaya naik, permintaan turun.
Jika kondisi ini terus berlanjut, keberlangsungan usaha kecil yang telah berjalan bertahun-tahun bisa terancam.
Harapan pada Pemulihan Ekonomi
Di tengah situasi sulit, pelaku usaha hanya berharap kondisi ekonomi segera membaik. Mereka menanti momentum ketika daya beli masyarakat kembali pulih dan permintaan meningkat.
Bagi mereka, bertahan saat ini adalah pilihan satu-satunya—meski dengan margin keuntungan yang semakin menipis.
“Kuncinya sekarang bertahan dulu. Semoga kondisi segera membaik,” pungkas Anwar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































