Gedongtengen Dorong Olah Limbah Buah Jadi Produk Eco Enzim

5 hours ago 2

Gedongtengen Dorong Olah Limbah Buah Jadi Produk Eco Enzim

Foto ilustrasi pemilahan sampah, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA—Pengelolaan limbah organik rumah tangga di Gedongtengen, Kota Yogyakarta, kini diarahkan menjadi aktivitas produktif melalui inovasi pengolahan berbasis fermentasi fruit enzym yang mengubah sampah buah menjadi produk bernilai guna.

Warga Kemantren Gedongtengen, Kota Jogja, didorong untuk tidak lagi membuang limbah organik berbasis buah ke tempat pembuangan akhir, melainkan mengolahnya menjadi produk bernilai melalui metode fermentasi fruit enzym yang memiliki berbagai manfaat.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pendekatan dalam sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dikembangkan di wilayah tersebut. Fokusnya tidak hanya pada pengurangan volume sampah, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah dari limbah rumah tangga.

Mantri Pamong Praja Gedongtengen, Pargiyat, menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga dengan kebiasaan pemilahan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

“Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Dukungan seluruh masyarakat sangat diperlukan untuk mengurangi permasalahan sampah di Kota Yogyakarta, khususnya di wilayah Kemantren Gedongtengen,” ujar Pargiyat.

Selain pemanfaatan melalui fermentasi berbahan buah, limbah organik juga mulai diarahkan pada pemanfaatan lain yang lebih produktif, salah satunya sebagai pakan ikan di wilayah Baturetno, Banguntapan, Bantul melalui kerja sama pengelolaan sampah organik basah.

Program ini diperkenalkan melalui kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) yang melibatkan 40 peserta dari perwakilan bank sampah dan kader PKK, serta bekerja sama dengan Komunitas EcoEnzym Nusantara, pada Kamis (11/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pelatihan mengenai teknik pembuatan fruit enzym yang menggunakan campuran berbagai jenis buah, madu, dan air sebagai bahan utama.

Perwakilan Komunitas EcoEnzym Nusantara Kota Jogja, Komunitas EcoEnzym Nusantara, Ignatius Djuniarto, menjelaskan bahwa proses fermentasi menjadi faktor utama yang menentukan kualitas produk akhir.

Waktu fermentasi yang berlangsung antara enam hingga 12 bulan menjadi tahapan penting yang memengaruhi hasil dan manfaat dari produk yang dihasilkan.

“Hasil fermentasi dapat dimanfaatkan sebagai minuman kesehatan yang berfungsi sebagai prebiotik dan membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan,” jelasnya.

Tidak hanya produk utama, seluruh bagian bahan juga diupayakan agar tidak terbuang sia-sia. Kulit buah yang tidak digunakan dalam proses pembuatan fruit enzym kemudian diolah kembali menjadi eco enzym.

Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi volume limbah organik sekaligus memperluas pemanfaatan bahan rumah tangga agar lebih bernilai ekonomi dan ekologis.

Ke depan, pengetahuan dan keterampilan ini diharapkan dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat di tingkat lingkungan, sehingga transformasi limbah organik menjadi produk bernilai dapat menjadi bagian dari solusi berkelanjutan pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |