Garebeg Besar 2026 Digelar Sederhana, Tanpa Kirab Prajurit

3 hours ago 2

Garebeg Besar 2026 Digelar Sederhana, Tanpa Kirab Prajurit

Ratusan warga antusias berebut gunungan Grebeg Maulud yang digelar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Jogja di Halaman Masjid Gedhe Kauman, Jogja, Kamis (28/9/2023). (ANTARA/Luqman Hakim)

Harianjogja.com, JOGJA — Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memastikan prosesi adat Garebeg Besar 2026 tetap digelar, namun dengan format yang disederhanakan. Pada tahun ini, tradisi tahunan dalam rangka memperingati Iduladha tersebut tidak akan menampilkan kirab prajurit maupun arak-arakan pareden ke luar lingkungan keraton.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan bahwa perubahan format ini merupakan bentuk penyesuaian, bukan penghapusan tradisi.

“Masyarakat perlu memahami bahwa ini adalah penyederhanaan, bukan peniadaan. Nilai sakral tetap dijaga,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).

Dalam pelaksanaan tahun ini, seluruh rangkaian prosesi, termasuk pembagian pareden, akan dipusatkan di dalam lingkungan keraton dan diperuntukkan khusus bagi abdi dalem. Kebijakan tersebut mengikuti instruksi Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Pemerintah Daerah DIY menyatakan menghormati keputusan tersebut. Menurut Dian, esensi utama Garebeg sebagai wujud syukur dan sedekah raja kepada masyarakat tetap terjaga, meskipun tidak ada prosesi pembagian pareden ke luar keraton.

“Nilai luhur Garebeg sebagai sedekah raja tetap hadir melalui abdi dalem, meski mekanismenya dilakukan secara internal,” katanya.

Penyesuaian ini berdampak pada sejumlah agenda yang biasanya terbuka untuk publik. Prosesi iring-iringan gunungan yang umumnya dibawa ke Kompleks Kepatihan dan Puro Pakualaman dipastikan tidak akan dilaksanakan tahun ini.

Secara historis, Garebeg merupakan tradisi yang telah mengalami berbagai adaptasi seiring perkembangan zaman. Istilah “garebeg” sendiri merujuk pada keramaian atau iring-iringan massa yang menyertai prosesi adat.

Tradisi ini berakar dari budaya Jawa kuno Rajawedha, yang kemudian berkembang menjadi media syiar Islam pada masa Kesultanan Demak oleh para Wali Songo. Hingga kini, Garebeg tetap lestari di Yogyakarta dan digelar dalam tiga momentum besar setiap tahun.

Beragam jenis gunungan seperti Gunungan Kakung, Putri, Darat, Gepak, hingga Pawuhan menjadi simbol sedekah raja yang disesuaikan dengan kondisi zaman.

Dian menambahkan, penyederhanaan format bukan hal baru. Kebijakan serupa pernah diterapkan saat masa pandemi Covid-19 sebagai upaya menjaga keselamatan tanpa menghilangkan makna tradisi.

“Pemda DIY mengimbau masyarakat untuk memahami langkah ini. Nilai doa, keselamatan, dan kesakralan tetap berjalan dengan khidmat,” ujarnya.

Dengan penyesuaian tersebut, Garebeg Besar 2026 diharapkan tetap menjadi simbol kuat pelestarian budaya sekaligus refleksi spiritual masyarakat Jogja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |