Bregodo Jogo Malioboro, Wajah Ramah Penjaga Ikon Jogja

6 hours ago 3

Bregodo Jogo Malioboro, Wajah Ramah Penjaga Ikon Jogja

Bregodo Jogo dari kelompok Reksawinanga saat bertugas di kawasan wisata Malioboro, Kota Jogja, pada Jumat (27/6/2026) sore. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA — Sabtu (27/6/2026) sore itu, langit Malioboro mulai meredup, namun denyut kehidupan di jantung Kota Jogja justru semakin terasa. Di antara hiruk-pikuk wisatawan yang memadati trotoar, sekelompok sosok berseragam tradisional melangkah perlahan, menghadirkan pemandangan yang tak biasa.

Mereka adalah Bregodo Jogo Malioboro.

Langkahnya teratur, busananya khas, dan sorot matanya tegas namun bersahabat. Setiap kali rombongan ini melintas, suasana seketika berubah. Wisatawan yang semula berjalan santai, mendadak berhenti. Ponsel terangkat, kamera menyala, dan senyum pun mengembang.

“Mas, foto boleh?” terdengar dari seorang pengunjung.

Permintaan itu hampir tak pernah ditolak.

Bregodo Jogo Malioboro memang bukan sekadar petugas penjaga ketertiban. Mereka adalah wajah budaya Jogja yang hidup—menggabungkan fungsi pengamanan dengan daya tarik wisata yang unik.

Di balik peran itu, ada cerita panjang yang tak banyak diketahui. Trus Sugiyanto, salah satu anggota sekaligus Panji Parentah Reksa Winanga, mengisahkan bahwa kelompok ini lahir di masa yang tidak mudah—masa pandemi Covid-19.

Kala itu, tugas mereka sederhana, namun krusial: mengingatkan orang untuk memakai masker.

Kini, peran itu bertransformasi. Mereka tetap mengingatkan, tetapi dengan cara yang lebih halus dan membumi. Tidak merokok, tidak makan sambil berjalan, serta menjaga kebersihan menjadi pesan yang terus digaungkan.

“Kami mengingatkan dengan pendekatan persuasif. Yang penting pengunjung tetap nyaman,” ujarnya.

Pendekatan itu terasa. Tak ada suara keras, tak ada teguran kasar. Yang ada justru interaksi hangat yang mencerminkan keramahan khas Jogja.

Dalam satu regu, terdapat 23 personel yang dibagi ke berbagai titik. Mereka menyusuri Malioboro, mengamati, sekaligus menjaga. Namun, lebih dari itu, mereka juga “menyambut”.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatan mereka.

Bagi Farid Adrian, wisatawan asal Madiun, pengalaman bertemu Bregodo Jogo Malioboro menjadi salah satu momen paling berkesan.

“Menarik sekali. Saya belum pernah lihat petugas seperti ini. Malioboro jadi terasa lebih hidup,” katanya.

Hal serupa dirasakan Jeki, wisatawan asal Bogor. Ia bahkan sempat mengira rombongan tersebut bagian dari pertunjukan budaya.

“Unik. Anak saya juga senang lihat kostumnya. Jadi lebih berwarna,” ujarnya.

Bregodo Jogo Malioboro seolah menjadi pengingat bahwa Jogja bukan hanya tentang tempat, tetapi juga tentang rasa. Tentang bagaimana budaya tetap hadir, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti menjaga ketertiban.

Di tengah arus modernisasi, mereka berdiri sebagai simbol bahwa tradisi tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah cara untuk tetap dekat dengan zaman.

Dan di Malioboro, cerita itu terus berjalan—selangkah demi selangkah, bersama para prajurit yang menjaga bukan hanya kawasan, tetapi juga jiwa sebuah kota.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |