BMKG: Fenomena Haze Selimuti Lombok, Jarak Pandang Turun hingga 1 Km

6 hours ago 2

 Fenomena Haze Selimuti Lombok, Jarak Pandang Turun hingga 1 Km

Ilustrasi Kabut./ Harian Jogja -Nina Atmasari

Harianjogja.com, MATARAM—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan fenomena haze atau udara kabur tengah menyelimuti Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang menurun hingga sekitar 1 kilometer pada waktu dini hari dalam beberapa hari terakhir.

BMKG menjelaskan fenomena ini terjadi seiring musim kemarau yang membuat kelembapan atmosfer rendah sehingga partikel debu dan material kering bertahan lebih lama di udara.

BMKG Jelaskan Penyebab Udara Kabur

Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, mengatakan tidak adanya hujan membuat partikel padat sulit mengendap sehingga memicu terbentuknya udara kabur.

"Karena tidak ada hujan, maka partikel-partikel padat tertahan di udara dalam waktu lama. Ketika partikel padat itu sangat padat terbentuklah fenomena haze yang secara fisik mengurangi jarak pandang," ujar dia di Mataram, NTB, Senin.

Jarak Pandang Membaik Saat Matahari Terbit

Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, penurunan jarak pandang hingga sekitar 1 kilometer sempat terjadi di kawasan Bandara Lombok pada dini hari.

Namun, kondisi tersebut berangsur membaik ketika intensitas sinar matahari mulai meningkat pada pagi hari.

Masyarakat Diimbau Waspadai Gangguan Transportasi

BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak dari penurunan jarak pandang akibat haze.

Menurut Ari, kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas transportasi sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

Ia menambahkan fenomena tersebut tidak terlepas dari musim kemarau yang menyebabkan konsentrasi partikel di udara menjadi lebih tinggi.

BMKG Ingatkan Bahaya Kebakaran

Selain mewaspadai jarak pandang terbatas, BMKG juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman selama musim kemarau.

"Kami imbau masyarakat agar waspada terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman dengan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan," ujar dia.

Peluang Hujan di NTB Kurang dari 10 Persen

BMKG memperkirakan peluang hujan di seluruh wilayah NTB pada awal Juli 2026 masih kurang dari 10 persen karena daerah tersebut mulai memasuki puncak musim kemarau.

Rendahnya peluang hujan juga dipengaruhi oleh penguatan fenomena El-Nino yang saat ini berada pada kategori moderat dengan indeks +1,61, sehingga musim kemarau terasa lebih kering.

Empat Daerah Berstatus Waspada Kekeringan

Seiring kondisi tersebut, BMKG menetapkan empat wilayah di NTB berstatus waspada kekeringan meteorologis.

Daerah tersebut meliputi Kabupaten Lombok Tengah di Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Timur di Kecamatan Jerowaru, Pringgabaya, dan Sambelia, Kabupaten Sumbawa di Kecamatan Moyo Utara dan Utan, serta Kabupaten Bima di Kecamatan Palibelo dan Tambora.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |