BBM Naik, Inflasi Transportasi Melejit 0,61 Persen

8 hours ago 2

BBM Naik, Inflasi Transportasi Melejit 0,61 Persen

Pertumbuhan ekonomi ilustrasi./Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai terasa dampaknya terhadap inflasi nasional. (BPS) mencatat sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang utama inflasi pada Mei 2026.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa inflasi transportasi secara bulanan (month to month/mtm) mencapai 0,61 persen dengan kontribusi sebesar 0,07 persen terhadap inflasi nasional.

“Ini terjadi seiring meningkatnya harga beberapa jenis BBM non-subsidi dan harga avtur,” kata Pudji di Jakarta, Selasa (2/6/2026)

Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga sejumlah komponen transportasi, mulai dari bensin, tarif angkutan udara, hingga pelumas mesin dan solar. Masing-masing komoditas tersebut memberikan andil inflasi yang cukup signifikan, terutama bensin dan tiket pesawat yang sama-sama menyumbang 0,02 persen.

Selain itu, penyesuaian harga energi oleh turut memberi tekanan lanjutan terhadap harga di tingkat konsumen. BUMN energi tersebut diketahui telah menaikkan harga LPG nonsubsidi sekitar 19 persen sejak 18 April 2026.

“Dampak penyesuaian harga tersebut masih berlanjut pada level harga konsumen hingga Mei 2026,” imbuh Pudji.

Tak hanya BBM, kenaikan harga avtur di berbagai bandara domestik juga memperkuat tekanan inflasi di sektor transportasi. Hal ini berdampak langsung pada tarif angkutan udara yang mengalami kenaikan di sejumlah rute.

Secara umum, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Dengan demikian, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,28 persen.

Di luar sektor transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan tingkat kenaikan 0,39 persen dan andil 0,12 persen. Komoditas seperti cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras menjadi pemicu utama lonjakan harga.

Namun demikian, beberapa komoditas justru membantu meredam inflasi, antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih.

Berdasarkan komponen pembentuknya, inflasi inti tercatat sebesar 0,22 persen dengan kontribusi terbesar yakni 0,14 persen. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 0,52 persen dan harga bergejolak sebesar 0,22 persen.

Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Indonesia mencapai 3,08 persen. Kenaikan ini terlihat dari IHK yang meningkat dari 108,07 pada Mei 2025 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan dengan kenaikan sebesar 4,94 persen dan andil mencapai 1,43 persen.

Sementara itu, inflasi inti secara tahunan tercatat sebesar 2,59 persen dengan kontribusi 1,66 persen. Komponen harga diatur pemerintah menyumbang inflasi sebesar 2,07 persen, sedangkan komponen harga bergejolak mencapai 6,24 persen.

Data ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih cukup kuat, terutama dipengaruhi oleh fluktuasi harga energi dan komoditas pangan. Pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |