
Warga mengantre membeli bahan bakar minyak (BBM), di sebuah SPBU di Kota Jogja, Selasa (31/3/2026). - Harian Jogja/Maya Herawati
Harianjogja.com, JOGJA—Dinamika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang melonjak drastis dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026 menciptakan efek domino yang memukul keras para driver ojek online (ojol) di Yogyakarta. Tak hanya sekadar beban biaya operasional, para pengemudi kini harus berhadapan dengan fenomena antrean panjang demi mendapatkan bahan bakar alternatif yang lebih terjangkau.
Lonjakan harga ini memicu perpindahan massal konsumen ke Pertalite, yang pada akhirnya menyebabkan kelangkaan stok di sejumlah SPBU. Akibatnya, para driver ojol terpaksa mengorbankan waktu produktif mereka demi mengantre puluhan menit, sebuah situasi yang kian memperburuk kondisi kesejahteraan harian mereka sepekan terakhir.
Affandi, driver ojol yang tergabung dalam Wakanda (Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif), mengungkapkan keluh kesahnya pada Jumat (19/6/2026). “Kalau untuk ojol itu paling terdampak itu jelas untuk mendapatkan bahan bakar pertalite itu sendiri. Untuk beberapa SPBU itu pertalite sudah terjadi kelangkaan, jadi kita kalau mau beli itu agak susah. Kalaupun enggak tutup kita itu ngantri bisa sampai setengah jam lebih,” ujarnya.
Tantangan kian berat bagi pemilik kendaraan keluaran terbaru. Mesin motor modern tersebut memiliki spesifikasi teknis yang mewajibkan penggunaan BBM dengan oktan tinggi, sehingga mereka tidak memiliki opsi untuk beralih ke Pertalite.
“Karena ada beberapa mesin yang enggak cocok untuk RON rendah seperti pertalite, jadi mau enggak mau harus pakai pertamax walaupun mahal. Akhirnya biaya produktivitas naik, pengeluaran juga naik,” tandasnya.
Lebih lanjut, Affandi menuturkan bahwa durasi antrean yang panjang tidak hanya merugikan waktu, tetapi juga mengganggu algoritma performa akun mereka. Waktu yang seharusnya digunakan untuk melayani pesanan pelanggan justru habis di SPBU.
“Kalau antre setengah jam itu sangat pengaruh ke performa di aplikasi. Harusnya bisa langsung kerja tapi terkendala waktu, itu ngaruh ke algoritma driver,” katanya.
Kondisi ini memicu penurunan pendapatan bersih yang nyata bagi para driver dalam beberapa hari terakhir. Ketidakpastian ini diduga bersumber dari berkurangnya durasi kerja efektif serta potensi penurunan jumlah pesanan.
“Dari teman-teman mulai merasakan penurunan, terutama 3-4 hari ini kerasa banget,” ujarnya.
Selain tekanan pada sektor BBM, biaya perawatan kendaraan pun turut mengalami lonjakan. Harga suku cadang dan kebutuhan pendukung seperti oli mesin ikut terdongkrak naik.
“Kalau oli yang biasanya kita beli sekitar Rp40 ribuan itu sekarang sudah Rp50 ribu ke atas. Itu berdampak signifikan karena hampir semuanya beriringan dengan kenaikan harga,” katanya.
Hal senada disampaikan oleh Alfian Mahardika, driver ojol lainnya. Meski sejak awal telah menggunakan Pertalite, ia tetap merasakan kerugian besar dari sisi efisiensi waktu.
“Kalau saya lebih kerasa di buang-buang waktu antrenya. Bisa sampai setengah jam lebih, padahal itu bisa buat cari customer, malah habis buat antre,” ucap Alfian.
Alfian menegaskan bahwa imbas kenaikan harga ini bersifat sistemik dan dirasakan oleh seluruh pengemudi. Menurutnya, beban ekonomi yang meningkat di berbagai sektor operasional memaksa para driver untuk memutar otak lebih keras.
“Menurut saya kita semua kena dampaknya sih. Kalau di orang kayak kita ini ya dampaknya ke waktu. Dan bahan baku juga banyak yang naik, bahkan oli juga naik, jadi ngaruh ke banyak hal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































