Seorang pengemudi sedang mengisi daya kendaraan listrik di Taizhou, Provinsi Jiangsu, China, Kamis (22/1/2026). ANTARA/Xinhua/Tang Dehong - aa.
Harianjogja.com, JAKARTA — Tim peneliti dari Nanjing Tech University, China, tengah mengembangkan inovasi material isolasi baterai berbasis aerogel yang mampu bertahan pada suhu ekstrem hingga 1.300 derajat Celsius. Teknologi ini menjadi terobosan penting dalam meningkatkan aspek keselamatan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Pengembangan material ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perhatian industri otomotif terhadap risiko thermal runaway, yakni kondisi ketika suhu sel baterai lithium-ion meningkat secara drastis dan berpotensi memicu kebakaran atau ledakan. Dalam situasi tersebut, panas dapat dengan cepat menyebar dari satu sel ke sel lainnya, sehingga memperbesar risiko kerusakan.
Material yang dikembangkan berupa lembar isolasi berbasis aerogel silika, yang dirancang untuk memperlambat perpindahan panas antarsel baterai. Aerogel dikenal memiliki struktur unik berupa jaringan nanopori dengan kandungan udara hingga 99 persen, sehingga sangat efektif dalam menghambat konduksi panas.
Dalam pengujian laboratorium, lembar aerogel dengan ketebalan 2,3 milimeter yang terpapar suhu 1.000 derajat Celsius selama lima menit terbukti mampu menjaga suhu di sisi sebaliknya tetap di bawah 100 derajat Celsius. Bahkan, material ini diklaim mampu mempertahankan kemampuan isolasi termal hingga dua jam.
Capaian ini jauh melampaui kemampuan teknologi sebelumnya, yang umumnya hanya mampu bertahan pada suhu sekitar 300 derajat Celsius. Padahal, suhu pembakaran sel baterai lithium-ion bisa mencapai kisaran 650 hingga 1.000 derajat Celsius. Dengan inovasi ini, ketahanan material meningkat lebih dari dua kali lipat.
Untuk meningkatkan performa, tim peneliti melakukan penguatan struktur aerogel sekaligus menyesuaikan proses sintesis melalui pengaturan katalis. Selain itu, material juga direkayasa agar lebih fleksibel dengan tingkat kompresi elastis di atas 90 persen, guna mengatasi sifat rapuh aerogel konvensional.
Hal ini menjadi krusial karena baterai kendaraan listrik mengalami ekspansi dan kontraksi secara berulang selama penggunaan, sehingga membutuhkan material yang tidak hanya tahan panas tetapi juga kuat secara mekanis.
Dari sisi produksi, efisiensi juga menjadi perhatian utama. Proses pengeringan menggunakan karbon dioksida superkritis dioptimalkan, sementara tingkat daur ulang pelarut seperti etanol berhasil mencapai lebih dari 99,5 persen. Langkah ini dinilai mampu menekan biaya produksi secara signifikan.
Sejumlah perusahaan besar seperti CATL, BYD, Sungrow, dan Xiaomi disebut telah mulai memanfaatkan material ini dalam sistem baterai mereka.
Tak hanya untuk kendaraan listrik, teknologi aerogel ini juga berpotensi diaplikasikan pada sektor lain seperti industri dirgantara dan manufaktur bersuhu tinggi, yang membutuhkan perlindungan maksimal terhadap panas ekstrem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































