Sri Sultan Minta AI Industri Asuransi Tetap Utamakan Martabat Manusia

14 hours ago 9

Sri Sultan Minta AI Industri Asuransi Tetap Utamakan Martabat Manusia

Gubernur DIY Sri Sultan HB X saat membuka konferensi The Role of Insurance Ecosystems: Connecting with Customers in New Ways, Kamis (6/8/2026). /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA— Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di industri perasuransian tidak boleh hanya berorientasi pada efisiensi dan modernisasi layanan. Teknologi, menurutnya, harus tetap menjaga martabat manusia, keberpihakan sosial, transparansi, serta perlakuan yang adil bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Sri Sultan HB X saat membuka konferensi The Role of Insurance Ecosystems: Connecting with Customers in New Ways yang diselenggarakan Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI) di Jogja, Kamis (6/8/2026).

Sri Sultan menjelaskan asuransi lahir dari kesadaran bahwa kehidupan selalu berdampingan dengan ketidakpastian. Karena itu, fungsi asuransi tidak hanya sebatas administrasi berupa polis, premi, maupun klaim, tetapi menjadi bentuk ikhtiar bersama untuk saling menopang ketika risiko datang.

"Dalam pandangan Jawa, kehidupan dijalani dengan sikap eling lan waspodo. Eling berarti memahami keterbatasan manusia. Waspodo berarti menyiapkan diri menghadapi kemungkinan yang belum terjadi. Dari sanalah asuransi memperoleh makna sosialnya, yakni mengubah ketidakpastian menjadi kesiapan, serta mengubah kecemasan menjadi daya tahan," ujar Sultan.

Memperkuat Peran Manusia

Menurut Sultan, kemajuan teknologi membuka peluang menghadirkan layanan asuransi yang lebih cepat, personal, dan inklusif. Namun, percepatan digitalisasi harus tetap dibarengi kehati-hatian dalam melindungi hak-hak nasabah.

Ia mengingatkan personalisasi layanan tidak boleh berujung pada eksploitasi data pribadi, sedangkan otomatisasi tidak boleh menghilangkan hak masyarakat memperoleh penjelasan maupun perlakuan yang adil.

"Kecepatan harus berjalan bersama kehati-hatian. Teknologi harus memperkuat pertimbangan manusia, bukan menggantikan tanggung jawab manusia," tegasnya.

Perlindungan

Dalam kesempatan itu, Sri Sultan juga mendorong industri asuransi memperluas akses perlindungan kepada kelompok masyarakat yang selama ini belum banyak terlayani.

Kelompok tersebut meliputi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pekerja informal, petani, nelayan, hingga masyarakat yang belum memiliki akses terhadap layanan keuangan. Menurutnya, fondasi utama industri asuransi tetap bertumpu pada kepercayaan masyarakat.

"Pada akhirnya, kepercayaan adalah polis yang tidak tertulis, tetapi paling menentukan. Kepercayaan tumbuh dari transparansi, kompetensi, kepastian pelayanan, serta keberanian menempatkan kepentingan nasabah sebagai dasar keputusan," tambahnya.

Menjadi Co-Pilot

Pandangan serupa disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ogi Prastomiyono.

Menurutnya, pemanfaatan AI di sektor jasa keuangan memang menjadi kebutuhan untuk meningkatkan daya saing industri. Namun, teknologi tersebut tetap berfungsi sebagai pendukung profesional, bukan pengganti manusia.

"Penggunaan artificial intelligence sangat membantu proses bisnis dari industri perasuransian. Namun yang perlu diperhatikan bahwa artificial intelligence tidak menggantikan manusia. Artificial intelligence adalah alat bantu, co-pilot bagi profesional di bidang perasuransian. Pada akhirnya yang menentukan adalah manusianya," jelas Ogi.

Ia menambahkan, OJK juga mulai memanfaatkan teknologi AI dalam proses pengawasan guna meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap industri perasuransian nasional.

Adaptif terhadap Teknologi

Sementara itu, Ketua Umum AMAI, Robby Loho, mengatakan tema konferensi yang mengangkat perkembangan teknologi dipilih agar industri asuransi Indonesia mampu bersaing di tingkat ASEAN maupun global.

Menurutnya, adaptasi terhadap AI menjadi kebutuhan agar pelaku industri nasional tidak tertinggal dari perusahaan asing di tengah pasar yang semakin terbuka.

"Kita mendorong di pasar asuransi untuk mengadaptasi AI dan perkembangan teknologi. Karena kalau tidak, kita tidak bisa bersaing dengan yang dari luar masuk ke Indonesia, apalagi sekarang pasarnya terbuka," tutur Robby.

Selain transformasi digital, Robby juga menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam ekosistem perasuransian agar industri semakin profesional, sehat, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

"Harapannya industri ini makin baik. Kami berharap industrinya lebih clean, lebih kooperatif antar-unsur yang terlibat. Jangan di dalam kita sendiri malah saling sikut atau cakar-cakaran. Antarasosiasi mestinya berkolaborasi," tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |