Harianjogja.com, JOGJA— Apple akhirnya masuk ke pasar ponsel lipat melalui iPhone Duo, tetapi perusahaan teknologi Amerika Serikat itu datang ketika persaingan di segmen tersebut sudah berlangsung hampir satu dekade. Sebelum iPhone Duo diperkenalkan, sejumlah produsen telah lebih dulu mengembangkan berbagai bentuk ponsel lipat, mulai dari layar fleksibel hingga perangkat dengan beberapa panel.
Perjalanan tersebut bahkan dimulai dari perusahaan asal Tiongkok, Royole, yang memperkenalkan FlexPai pada 2018. Perangkat dengan layar 7,8 inci itu menjadi salah satu tonggak awal ponsel lipat komersial, meski generasi pertamanya masih mendapat kritik karena pengalaman perangkat lunak dan kualitas engselnya.
Reuters melaporkan, Sabtu (12/9/2026), perkembangan ponsel lipat kemudian bergerak cepat. Samsung, Motorola, dan Huawei menjadi sejumlah nama yang membawa format tersebut ke pasar yang lebih luas melalui pendekatan desain yang berbeda.
FlexPai Buka Jalan untuk Ponsel Lipat
Royole menjadi salah satu perusahaan pertama yang berani membawa konsep layar fleksibel ke perangkat konsumen. FlexPai menggunakan layar berukuran 7,8 inci yang dapat dilipat sehingga perangkat menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan smartphone konvensional.
Namun, teknologi tersebut belum matang sepenuhnya. FlexPai mendapat kritik terkait perangkat lunaknya yang dianggap kaku serta penggunaan engsel plastik yang dinilai kasar. Kondisi itu menggambarkan tantangan awal yang harus diatasi produsen untuk membuat ponsel lipat nyaman digunakan sekaligus tahan lama.
Setahun kemudian, persaingan memasuki fase baru ketika Samsung memperkenalkan Galaxy Fold dengan harga hampir US$2.000. Motorola juga menghidupkan kembali nama Razr melalui ponsel lipat bergaya clamshell, sementara Huawei menghadirkan Mate X dengan mekanisme lipatan yang berbeda.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa industri belum memiliki satu standar desain untuk ponsel lipat. Setiap produsen mencoba mencari bentuk yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Samsung, Huawei hingga Surface Duo
Perkembangan ponsel lipat berlanjut pada 2020 ketika Microsoft memperkenalkan Surface Duo. Berbeda dari perangkat dengan satu layar fleksibel, Surface Duo menggunakan dua layar terpisah yang dihubungkan oleh engsel.
Pendekatan itu memperlihatkan bahwa istilah perangkat lipat tidak selalu berarti menggunakan satu panel layar fleksibel. Produsen juga mengeksplorasi desain dengan beberapa panel untuk mendapatkan ruang kerja yang lebih luas ketika perangkat dibuka.
Google kemudian memasuki persaingan melalui Pixel Fold pada 2023. Pada periode yang sama, Samsung dan sejumlah produsen Tiongkok terus mengembangkan teknologi layar, engsel, desain bodi, serta pengalaman perangkat lunak pada perangkat lipat mereka.
Kompetisi tersebut membuat bentuk perangkat semakin beragam. Jika generasi awal lebih banyak berfokus pada pembuktian bahwa layar smartphone dapat dilipat, generasi berikutnya mulai mengejar ketahanan, ukuran yang lebih tipis, pengalaman multitugas, dan penggunaan yang lebih praktis.
Huawei dan Samsung Bawa Ponsel Lipat Tiga
Eksperimen terhadap mekanisme lipatan kemudian berkembang menjadi perangkat dengan lebih dari satu lipatan. Huawei memperkenalkan ponsel lipat tiga pada 2024, sementara Samsung mengikuti arah serupa dengan perangkat multi-lipat pada 2025.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa inovasi di segmen ini tidak berhenti pada pertanyaan apakah smartphone bisa dilipat. Produsen mulai mencari cara agar perangkat berukuran relatif ringkas dapat menghadirkan layar yang jauh lebih besar ketika dibuka.
Meski demikian, ponsel lipat masih menjadi segmen kecil dibandingkan keseluruhan pasar smartphone. Counterpoint Research memperkirakan perangkat lipat hanya menyumbang sekitar 2% dari pengiriman smartphone global, sehingga peluang pertumbuhan kategori ini masih terbuka lebar.
iPhone Duo Datang Saat Persaingan Makin Ketat
Masuknya Apple melalui iPhone Duo membuat persaingan ponsel lipat memasuki babak baru. Perangkat tersebut dirancang dengan bentuk menyerupai paspor ketika dilipat dan membuka ruang layar yang lebih besar ketika digunakan.
Apple membanderol iPhone Duo mulai US$1.999. Perangkat tersebut menjadi langkah penting karena Apple selama bertahun-tahun tidak ikut masuk ke pasar yang sudah lebih dulu dikembangkan Samsung, Huawei, Motorola, Google, dan produsen lainnya.
Bagi pengguna, kehadiran iPhone Duo berarti semakin banyak pilihan pada kategori smartphone premium dengan layar besar yang dapat dilipat. Persaingan juga berpotensi mendorong produsen memperbaiki desain, mekanisme engsel, daya tahan layar, serta pengalaman penggunaan perangkat lipat.
Dari sisi pasar, Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone lipat global akan melampaui 100 juta unit secara kumulatif pada akhir 2026. Perusahaan riset itu juga memproyeksikan pertumbuhan 37% pada 2027, dengan masuknya Apple menjadi salah satu faktor pendorong.
Counterpoint memperkirakan Apple dapat mengambil 25% pangsa pasar ponsel lipat pada 2026, menempatkannya di posisi kedua di bawah Samsung yang diproyeksikan menguasai 38%. Huawei diperkirakan berada di posisi berikutnya dengan 22%.
Direktur Riset Counterpoint Tarun Pathak menilai masuknya Apple akan memperketat persaingan di segmen premium. Namun, ia mengingatkan bahwa ukuran pasar ponsel lipat masih kecil dibandingkan keseluruhan industri smartphone.
"Namun ponsel lipat masih jadi bagian kecil dari keseluruhan pasar smartphone, jadi masih ada ruang untuk bertumbuh jauh dari volume sekarang,," kata Pathak.
Dengan demikian, iPhone Duo tidak hadir ketika teknologi ponsel lipat baru dimulai. Apple justru masuk setelah Samsung, Huawei, Motorola, Google, dan sejumlah produsen lain melewati bertahun-tahun eksperimen untuk membuat perangkat lipat lebih tipis, kuat, dan mudah digunakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































