Harianjogja.com, JOGJA— Australia disebut sebagai negara yang paling tangguh menghadapi berbagai skenario bencana global, mulai dari perang nuklir dan letusan gunung berapi besar hingga pandemi. Namun, penelitian terbaru menegaskan bahwa tidak ada satu pun wilayah di Bumi yang benar-benar aman dari seluruh jenis bencana tersebut.
Temuan itu berasal dari studi berjudul No Place to Hide? Regional Resilience and Vulnerability to Global Catastrophic Risk yang diterbitkan dalam jurnal Global Challenges pada 23 Agustus 2026. Penelitian dipimpin Florian Ulrich Jehn dan melibatkan sejumlah peneliti dari berbagai institusi, termasuk Goethe University Frankfurt, FernUniversität in Hagen, University of Cambridge, serta sejumlah organisasi riset lainnya.
Tim peneliti menggabungkan penelusuran basis data ilmiah dengan kurasi berbasis keahlian untuk melihat faktor yang membuat suatu wilayah lebih mampu bertahan ketika terjadi bencana dengan dampak global. Kajian tersebut mencakup risiko perang nuklir, tumbukan benda langit dekat Bumi, letusan gunung berapi besar, serangan siber skala luas, badai geomagnetik, serta pandemi.
Penelitian ini membagi ancaman ke dalam tiga jalur utama. Pertama, peristiwa yang menyebabkan berkurangnya sinar Matahari secara tiba-tiba, seperti musim dingin nuklir, letusan vulkanik besar, atau tumbukan asteroid. Kedua, hilangnya infrastruktur penting secara luas akibat gangguan seperti serangan siber besar, badai geomagnetik, atau gangguan sistem lainnya. Ketiga, risiko biologis global yang berasal dari pandemi maupun patogen hasil rekayasa.
Mengapa Australia Berada di Posisi Teratas?
Australia muncul sebagai negara yang memiliki ketahanan paling luas di antara skenario yang dikaji. Posisi geografisnya di Belahan Bumi Selatan membuat negara tersebut relatif jauh dari pusat konflik nuklir yang paling mungkin, sementara wilayahnya yang luas memberi ruang untuk menghadapi sejumlah jenis ancaman. Australia juga memiliki kemampuan produksi pangan dan basis industri yang menjadi modal penting ketika perdagangan global terganggu.
Faktor geografis menjadi salah satu keunggulan utama. Pulau atau wilayah yang relatif terisolasi dapat lebih mudah mengendalikan perbatasan dan membatasi paparan terhadap sejumlah ancaman dari luar. Namun, keunggulan tersebut tidak otomatis membuat sebuah negara aman karena wilayah yang terisolasi juga bisa sangat bergantung pada impor.
Dalam kasus Australia, ketergantungan tersebut tetap menjadi kelemahan. Peneliti mencatat negara itu masih membutuhkan perdagangan internasional untuk sejumlah kebutuhan penting, termasuk bahan bakar, obat-obatan, dan pupuk. Karena itu, kerja sama internasional dan kelangsungan perdagangan tetap penting bahkan bagi wilayah yang dianggap paling tangguh.
Australia juga tidak bebas dari risiko lain. Penelitian mencatat negara tersebut menghadapi kerentanan terhadap perubahan iklim, termasuk gelombang panas, kekeringan, banjir, kebakaran hutan, dan wilayah pesisir yang panjang. Dengan kata lain, posisi teratas Australia bukan berarti negara tersebut menjadi tempat yang aman dari seluruh kemungkinan bencana.
Pangan dan Industri Jadi Penentu
Kemampuan memenuhi kebutuhan pangan menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi bencana global. Gangguan terhadap hasil pertanian dan jaringan perdagangan dapat memicu kelangkaan pangan ketika negara-negara tidak lagi mampu memperoleh pasokan dari luar.
Karena itu, negara yang memiliki produksi pangan domestik kuat dan tidak terlalu bergantung pada perdagangan internasional dinilai memiliki keuntungan. Basis industri juga penting karena memungkinkan suatu negara membuat sendiri sejumlah barang yang sebelumnya diperoleh melalui impor.
Penelitian menunjukkan empat faktor yang paling konsisten berkaitan dengan ketahanan terhadap berbagai risiko bencana global, yakni isolasi geografis, kemandirian terutama dalam produksi pangan, kualitas tata kelola pemerintahan, serta desentralisasi untuk mengurangi ketergantungan pada satu titik kegagalan.
Kualitas pemerintahan menjadi faktor yang relatif dapat diubah melalui kebijakan. Peneliti mengaitkannya dengan institusi demokratis, rendahnya ketimpangan dan korupsi, kapasitas negara, serta kohesi sosial. Desentralisasi juga dinilai dapat mengurangi dampak ketika satu bagian penting dari sistem infrastruktur, pangan, atau pengambilan keputusan mengalami kegagalan.
Argentina, Brasil, dan Selandia Baru
Selain Australia, sejumlah negara lain juga muncul sebagai wilayah yang relatif tangguh dalam berbagai kajian yang ditinjau para peneliti. Selandia Baru termasuk yang sering disebut, meskipun memiliki sejumlah kerentanan seperti gunung berapi, ketergantungan pada perdagangan, serta risiko tsunami.
Argentina juga muncul dalam pembahasan mengenai wilayah yang memiliki sejumlah karakteristik ketahanan. Brasil turut menjadi salah satu negara yang disebut dalam perbandingan, meski keduanya memiliki persoalan seperti ketimpangan dan riwayat ketidakstabilan politik yang dapat memengaruhi ketahanan institusional.
Peneliti menekankan bahwa penilaian tersebut bukan peringkat absolut tentang negara mana yang akan selamat dari kiamat. Perbandingan dibuat berdasarkan temuan dan faktor ketahanan yang muncul dalam literatur yang mereka kaji, sehingga suatu negara dapat unggul dalam satu skenario tetapi memiliki kerentanan pada skenario lainnya.
Belahan Bumi Selatan Punya Keuntungan Tertentu
Lokasi geografis juga menentukan seberapa besar suatu wilayah terpapar jenis bencana tertentu. Belahan Bumi Selatan dapat memiliki keuntungan dalam skenario perang nuklir karena sejumlah negara dengan kemampuan nuklir dan pusat kekuatan militer utama berada di Belahan Bumi Utara.
Namun, keunggulan geografis tidak berdiri sendiri. Wilayah selatan tetap harus memiliki kemampuan menghasilkan pangan, mempertahankan industri, menyediakan energi, serta mempertahankan tata kelola dan infrastruktur ketika sistem perdagangan global mengalami gangguan.
Selandia Baru, misalnya, memiliki keuntungan dari isolasi geografis, tetapi penelitian juga mencatat sejumlah kelemahan. Negara tersebut memiliki basis industri yang lebih kecil dan menghadapi risiko gunung berapi serta tsunami, sehingga keunggulan sebagai negara kepulauan tidak otomatis menjadikannya paling tangguh dalam semua skenario.
Tidak Ada Tempat yang Benar-Benar Aman
Islandia juga menjadi salah satu wilayah yang menarik perhatian dalam kajian ketahanan. Namun, posisinya yang jauh di utara membuat negara tersebut lebih rentan terhadap perubahan suhu yang ekstrem apabila terjadi peristiwa yang mengurangi jumlah sinar Matahari yang mencapai permukaan Bumi.
Pada akhirnya, penelitian tersebut tidak memberikan satu lokasi yang bisa dianggap sebagai tempat perlindungan mutlak. Para peneliti justru menemukan bahwa ketahanan terhadap bencana global merupakan hasil kombinasi kondisi geografis, kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri, kualitas pemerintahan, infrastruktur, dan kemampuan bekerja sama dengan negara lain.
Bahkan Australia yang berada di posisi teratas tetap memiliki ketergantungan terhadap sistem global. Karena itu, penelitian tersebut menekankan pentingnya persiapan, ketahanan pangan, perencanaan risiko nasional, infrastruktur yang tidak terpusat pada satu titik, serta kerja sama internasional sebelum bencana besar terjadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































