Trofi Liga Champions. - Bisnis.com
Harianjogja.com, JOGJA—Laga bertensi tinggi antara Liverpool melawan Paris Saint-Germain (PSG) dalam perempat final Liga Champions di Stadion Anfield, Rabu (15/4/2026) pukul 02.00 WIB, diawali dengan momen yang menyentuh hati.
Skuad Les Parisiens yang datang dengan misi mengamankan tiket semifinal justru memilih menepikan rivalitas sejenak untuk memberikan penghormatan terakhir di tugu peringatan mendiang Diogo Jota. Mantan pemain andalan The Reds tersebut meninggal dunia secara tragis dalam kecelakaan lalu lintas pada Juli tahun lalu, sebuah peristiwa yang hingga kini masih menyisakan duka mendalam bagi publik Merseyside.
Media Prancis, RMC Sports, melaporkan bahwa rombongan PSG langsung menuju tugu peringatan yang berdiri di depan Stadion Anfield sesampainya mereka di Liverpool. Suasana haru pecah saat sejumlah pemain asal Portugal seperti João Neves, Nuno Mendes, Gonçalo Ramos, dan Vitinha berdiri terpaku sambil mengatupkan tangan di depan monumen yang dipenuhi karangan bunga tersebut. Presiden klub PSG, Nasser Al Khelaifi, bersama Direktur Olahraga Luis Campos juga terlihat meletakkan karangan bunga putih sebagai bentuk simpati bagi rekan senegara para pemain mereka tersebut.
Aksi solidaritas ini tidak hanya tertuju pada Diogo Jota, tetapi juga mencakup penghormatan bagi 97 korban tragedi Hillsborough tahun 1989 yang selalu menjadi bagian sejarah kelam sekaligus penguat identitas Liverpool. Pihak penyelenggara memastikan akan ada momen mengheningkan cipta selama satu menit tepat sebelum peluit kick-off dibunyikan dini hari nanti. Selain itu, seluruh pemain dari kedua kesebelasan bakal mengenakan pita hitam di lengan sebagai simbol duka cita kolektif dunia sepak bola atas kehilangan salah satu talenta terbaiknya.
Kendati suasana di luar lapangan penuh haru, pelatih PSG Luis Enrique memastikan bahwa timnya tetap akan tampil dengan "naga-naganya" atau kekuatan penuh untuk mengincar kemenangan. Meski sudah mengantongi keunggulan agregat 2-0 dari leg pertama, Enrique menolak instruksi untuk bermain bertahan demi melindungi hasil di Stadion Anfield yang dikenal angker bagi tim tamu. "Kami di sini bukan untuk melindungi hasil pertandingan," tegasnya dengan nada menyindir yang menunjukkan kepercayaan diri tinggi skuad asal Paris tersebut.
Enrique menyadari betul bahwa alur permainan di sepak bola modern bisa berubah drastis hanya dalam hitungan menit, terutama saat menghadapi tekanan suporter fanatik di Anfield. "Memulai dengan baik itu penting, tetapi itu tidak berarti bahwa itu adalah inti dari hasil pertandingan," tambah Enrique yang mengisyaratkan laga akan berlangsung terbuka sejak awal. Bagi penonton layar kaca, strategi agresif ini menjadi jaminan bahwa pertandingan akan berjalan seru dengan jual beli serangan yang intens.
Laga ini menjadi ujian berat bagi Liverpool yang harus mengejar defisit dua gol tanpa kehadiran sosok Jota di lini depan yang biasanya menjadi pemecah kebuntuan. Dampak kehilangan sang pemain tidak hanya terasa secara teknis di lapangan, tetapi juga secara emosional bagi rekan-rekan setimnya yang masih dalam masa berkabung. Meski demikian, dukungan penuh dari tribun Anfield diharapkan mampu menjadi tenaga tambahan bagi The Reds untuk menciptakan keajaiban dan membalikkan keadaan demi melaju ke babak selanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































