Kemarau Mengancam, Petani Ikan Sleman Diminta Kurangi Tebar

6 hours ago 2

Kemarau Mengancam, Petani Ikan Sleman Diminta Kurangi Tebar Budi daya ikan air tawar. / Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino mulai diantisipasi di Sleman, dengan imbauan kepada petani ikan untuk mengurangi kepadatan tebar guna menekan risiko penyakit.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan produksi di tengah potensi penurunan debit air dan perubahan suhu ekstrem.

Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman menilai kolam dengan kepadatan tinggi akan lebih rentan terhadap serangan penyakit saat kondisi air menurun.

Kepala Dinas Perikanan DP3 Sleman, Wilyada Radianing, mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi dampak musim kemarau yang diprediksi lebih panjang.

"Potensi ikan terserang penyakit meningkat ketika musim kemarau berlangsung lebih lama dan semakin kering," kata Wilyada, Selasa (14/4/2026).

Untuk itu, kelompok penangkar ikan (KPI) diminta mengurangi jumlah ikan di kolam agar kualitas air tetap terjaga dan tidak memicu stres pada ikan.

Selain pengurangan kepadatan, petani juga didorong untuk beralih ke jenis ikan yang lebih tahan terhadap kondisi air minim.

Beberapa jenis yang direkomendasikan antara lain ikan lele, gurame, dan kakap yang dikenal lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan.

DP3 juga menyiapkan dukungan berupa vitamin dan obat-obatan guna membantu petani menghadapi potensi serangan hama dan penyakit.

Di sisi lain, data menunjukkan sektor perikanan Sleman memiliki skala yang cukup besar.

Staf Pelaksana Data Perikanan DP3 Sleman, Tony Lukito Triwibowo, menyebut luas lahan tambak di Sleman mencapai 11.363.064 meter persegi dengan produksi ikan konsumsi pada 2025 sebesar 55.594.669 kilogram.

Jumlah kelompok budidaya ikan juga mencapai 752 kelompok, yang berarti dampak kemarau berpotensi dirasakan luas oleh pelaku usaha perikanan.

Namun, tidak semua pelaku usaha merasa khawatir.

Ketua KPI Mina Raya, Sri Hartono, menilai kondisi kemarau justru memiliki sisi positif, terutama untuk produksi benih ikan.

"Ini bagus untuk produksi benih ikan. Kami memproduksi ikan nila dan ampas ikan," katanya.

Ia juga mengaku lebih mengandalkan antibiotik yang tersedia di pasaran untuk penanganan penyakit, karena kasus infeksi di kelompoknya relatif jarang terjadi.

Dari sisi produksi, KPI Mina Raya mampu menghasilkan sekitar 14 rit ikan per bulan, dengan satu rit setara 4,5 kuintal.

Sementara untuk benih, produksi bisa mencapai jutaan ekor setiap bulan, menunjukkan sektor ini tetap produktif meski menghadapi ancaman cuaca ekstrem.

Dengan berbagai langkah antisipasi ini, DP3 Sleman berharap petani ikan dapat tetap menjaga produktivitas sekaligus meminimalkan risiko kerugian akibat kemarau panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |