Saham Chip AI Rontok, Nilai Pasar Emiten AS Susut Rp23.626 Triliun

7 hours ago 7

Jumali

Jumali Senin, 08 Juni 2026 17:47 WIB

Saham Chip AI Rontok, Nilai Pasar Emiten AS Susut Rp23.626 Triliun

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Sektor semikonduktor di Amerika Serikat mengalami tekanan besar setelah saham-saham produsen chip terkemuka anjlok pada perdagangan akhir pekan lalu. Koreksi tersebut membuat nilai pasar perusahaan-perusahaan chip menyusut hingga US$1,3 triliun atau sekitar Rp23.626 triliun.

Reuters mengungkapkan, sejumlah emiten yang selama ini menjadi motor pertumbuhan industri kecerdasan buatan (AI), seperti Nvidia, Micron Technology, AMD, Broadcom, dan Marvell Technology, menjadi yang paling terdampak dalam aksi jual tersebut.

Indeks semikonduktor PHLX tercatat merosot 10,3% dalam sehari, menjadi penurunan terdalam sejak Maret 2020 ketika pandemi Covid-19 mengguncang pasar keuangan global.

Tekanan pasar disebut dipicu laporan keuangan Broadcom yang menunjukkan permintaan terhadap bisnis chip AI kustom tidak memenuhi ekspektasi investor. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa pertumbuhan sektor AI yang selama ini menjadi pendorong utama reli saham teknologi mulai menghadapi tantangan.

Penurunan pada Jumat menambah kerugian yang sudah terjadi sehari sebelumnya. Dalam dua sesi perdagangan, indeks PHLX tercatat melemah sekitar 12%. Meski demikian, secara tahunan indeks tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 73% sejak awal 2026.

Nvidia, produsen chip AI terbesar di dunia, turun sekitar 6% dan menghapus lebih dari US$300 miliar dari kapitalisasi pasarnya. Micron Technology merosot 13%, sementara Marvell Technology terkoreksi 17%. AMD juga kehilangan hampir 11% nilainya.

Broadcom turut mengalami tekanan dengan penurunan 7,9% dalam sehari. Jika dihitung selama dua hari perdagangan, saham perusahaan tersebut telah terkoreksi hampir 20%.

Koreksi di sektor chip juga terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan mendorong spekulasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, sehingga menekan minat investor terhadap saham teknologi bervaluasi tinggi.

Kondisi tersebut ikut menyeret indeks S&P 500 yang ditutup melemah 2,6%.

Trader independen di Triple D Trading, Dennis Dick, menilai banyak investor selama ini terbiasa membeli saham teknologi setiap kali mengalami koreksi. Namun menurutnya, pola tersebut mulai menghadapi tantangan.

"Ada banyak orang yang selama ini membeli saham setiap kali harga turun. Strategi itu menghasilkan keuntungan dalam beberapa waktu terakhir, tetapi kini pasar menunjukkan dinamika yang berbeda," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Strategi Ekuitas Wells Fargo, Ohsung Kwon, menilai aksi jual yang terjadi lebih mencerminkan kondisi pasar yang sudah terlalu jenuh setelah reli panjang sektor semikonduktor.

"Sektor semikonduktor sudah terlalu padat untuk dibeli. Karena itu kita melihat aksi jual. Namun saya tidak melihat ini sebagai akhir dari tren positif industri semikonduktor," katanya.

Meski mengalami koreksi tajam, prospek jangka panjang industri chip masih dinilai positif seiring meningkatnya kebutuhan teknologi AI di berbagai sektor. Namun, investor kini cenderung lebih selektif dan berhati-hati dalam menilai valuasi perusahaan-perusahaan teknologi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |