
Kantor Bank Indonesia Jakarta. - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan menembus kisaran Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Menghadapi kondisi ini, Bank Indonesia (BI) langsung memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa stabilitas rupiah tidak bisa dijaga oleh satu pihak saja. Sinergi antara pemerintah, otoritas keuangan, perbankan, hingga pelaku pasar menjadi kunci utama.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan ketahanan eksternal ekonomi tetap terjaga,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
BI Aktif Intervensi Pasar
BI memastikan terus hadir di pasar dengan mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga likuiditas valuta asing (valas) sekaligus meredam gejolak nilai tukar.
Selain intervensi di pasar spot, BI juga aktif di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari strategi stabilisasi.
Kebijakan ini ditempuh secara konsisten dan terukur agar tidak hanya menjaga rupiah dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Aturan Baru Transaksi Valas
Sebagai langkah konkret, BI mulai 2 Juni 2026 memberlakukan aturan baru terkait pembelian valuta asing. Batas transaksi tunai tanpa underlying (kebutuhan dasar) kini ditetapkan maksimal 25.000 dolar AS per pelaku per bulan.
Kebijakan ini bertujuan menekan spekulasi di pasar valas sekaligus menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan dolar di dalam negeri.
Dorong Transaksi Mata Uang Lokal
Tak hanya itu, BI juga mempercepat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional melalui skema local currency transaction (LCT). Strategi ini dinilai efektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Saat ini, kerja sama LCT telah dijalin Indonesia dengan sejumlah negara mitra strategis seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, hingga Uni Emirat Arab.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah volatilitas global.
Dampak Global Masih Dominan
Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS, kebijakan suku bunga tinggi di negara maju, serta ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini membuat arus modal asing cenderung keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, BI optimistis stabilitas tetap terjaga dengan kombinasi kebijakan moneter yang adaptif dan sinergi kuat antar lembaga.
Dengan strategi yang terus diperkuat, bank sentral berharap kepercayaan pasar tetap terjaga sehingga gejolak nilai tukar tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































