Waspada Luka Diabetes, Risiko Amputasi Meningkat Jika Imun Buruk

5 hours ago 3

Waspada Luka Diabetes, Risiko Amputasi Meningkat Jika Imun Buruk

Ilustrasi mengatur konsumsi gula untuk kesehatan tubuh. Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Penderita diabetes melitus perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya luka pada kaki. Komplikasi berupa ulkus kaki diabetik yang mengalami infeksi dapat berkembang menjadi kondisi serius dan meningkatkan risiko tindakan amputasi apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Luka kaki pada pasien diabetes menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling sering memicu kecacatan permanen. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan gangguan saraf, masalah sirkulasi darah, serta infeksi yang terjadi secara bersamaan sehingga memperlambat proses penyembuhan.

Pada penderita diabetes, kerusakan saraf atau neuropati sering menyebabkan berkurangnya sensitivitas terhadap rasa nyeri. Akibatnya, luka kecil yang semula tidak disadari dapat berkembang menjadi ulkus yang semakin luas sebelum mendapatkan penanganan medis.

Dilansir dari laman resmsi RSUP Sardjit, berangkat dari tingginya risiko komplikasi tersebut, tim peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito bersama Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM melakukan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan risiko amputasi pada pasien ulkus kaki diabetik terinfeksi.

Penelitian tersebut menganalisis data rekam medis 181 pasien rawat inap yang mengalami ulkus diabetik terinfeksi. Fokus kajian diarahkan pada hubungan antara kondisi nutrisi pasien dan kemungkinan tindakan amputasi menggunakan pendekatan statistik.

PNI Jadi Alat Ukur Risiko Komplikasi

Dalam penelitian ini, tim menggunakan metode penilaian yang dikenal sebagai Prognostic Nutritional Index (PNI). Indeks tersebut dihitung berdasarkan kombinasi kadar albumin dalam serum darah dan jumlah total sel limfosit yang dimiliki pasien.

Melalui parameter tersebut, PNI dapat menggambarkan kondisi gizi sekaligus kemampuan sistem kekebalan tubuh seseorang dalam menghadapi infeksi. Semakin rendah nilai PNI, semakin besar kemungkinan pasien mengalami malnutrisi dan penurunan fungsi imun yang dapat memperburuk kondisi luka.

Secara klinis, kadar albumin yang rendah atau hipoalbuminemia diketahui dapat menghambat penyembuhan jaringan serta mempercepat perkembangan infeksi. Sementara itu, jumlah limfosit yang rendah menunjukkan menurunnya kemampuan tubuh dalam melawan serangan bakteri dan penyakit lainnya.

Karena menggabungkan kedua indikator tersebut, PNI dinilai mampu menjadi alat prediksi yang efektif untuk menilai risiko komplikasi, memantau prognosis penyakit, hingga memperkirakan kemungkinan kematian pada pasien dengan luka diabetes.

Risiko Amputasi Meningkat hingga Empat Kali Lipat

Hasil penelitian menunjukkan sekitar satu dari empat pasien ulkus kaki diabetik terinfeksi yang menjadi subjek penelitian akhirnya menjalani tindakan amputasi. Risiko tersebut meningkat signifikan pada kelompok pasien yang memiliki skor PNI di bawah ambang batas 41,425.

Pasien dengan nilai PNI rendah tercatat memiliki peluang amputasi hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan pasien yang memiliki kondisi nutrisi dan sistem imun yang lebih baik.

Penelitian juga menemukan bahwa risiko kehilangan anggota tubuh semakin besar apabila pasien mengalami penyakit vaskular perifer atau gangguan pembuluh darah. Kondisi tersebut menyebabkan aliran darah menuju kaki terganggu sehingga jaringan tidak memperoleh oksigen dan nutrisi yang cukup untuk memperbaiki kerusakan.

Ketika suplai darah menurun dalam waktu lama, jaringan dapat mengalami nekrosis atau kematian sel. Dampaknya, proses penyembuhan luka menjadi sangat sulit dan risiko amputasi meningkat secara signifikan.

Pentingnya Deteksi Dini dan Perbaikan Nutrisi

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, para peneliti menilai rendahnya skor PNI dan adanya gangguan pembuluh darah merupakan dua faktor utama yang berkaitan dengan tingginya angka amputasi pada pasien luka diabetes. Karena itu, pemeriksaan PNI dinilai penting dilakukan sejak awal penanganan untuk membantu tim medis mengidentifikasi pasien berisiko tinggi.

Pendekatan terapi juga tidak cukup hanya berfokus pada perawatan luka dari luar. Perbaikan status gizi, pemenuhan kebutuhan nutrisi, serta penguatan sistem kekebalan tubuh perlu dilakukan secara bersamaan untuk mendukung proses penyembuhan.

Bagi penyandang diabetes, menjaga kadar gula darah tetap terkendali, menerapkan pola makan bergizi seimbang, serta memeriksa kondisi kaki setiap hari menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya luka yang berpotensi berkembang menjadi infeksi berat. Pemeriksaan rutin memungkinkan luka sekecil apa pun terdeteksi lebih awal sehingga dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi komplikasi serius.

Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila muncul tanda-tanda infeksi pada kaki, seperti nyeri yang semakin berat, pembengkakan, kemerahan, atau keluarnya cairan nanah dari luka, agar penanganan dapat diberikan sedini mungkin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |