Rupiah Menguat ke Rp18.091, Optimisme Ekonomi Indonesia Menguat

8 hours ago 6

Rupiah Menguat ke Rp18.091, Optimisme Ekonomi Indonesia Menguat

Ilustrasi uang rupiah - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Mata uang Indonesia naik 18 poin atau 0,10% ke level Rp18.091 per 1us$, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.109 per 1 us$.

Penguatan rupiah terjadi setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level layak investasi (investment grade) BBB dengan prospek tetap stabil. Lembaga pemeringkat tersebut juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen per tahun dalam tiga tahun mendatang.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai laporan positif dari S&P menjadi salah satu sentimen yang mendorong penguatan rupiah.

"Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap stabil," kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Menurut S&P, peringkat kredit Indonesia tetap berada pada level BBB karena didukung prospek pertumbuhan ekonomi yang dinilai kuat. Penilaian tersebut didasarkan pada kebijakan ekonomi makro yang dianggap prudent serta beban utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif lebih rendah dibandingkan negara lain dengan peringkat serupa.

Lembaga tersebut juga menilai belanja fiskal serta kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah berpotensi memperkuat penerimaan negara dan meningkatkan nilai ekspor sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.

Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa kondisi pasar keuangan domestik masih menghadapi tantangan. Ia mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen pada kuartal I/2026, tetapi sepanjang semester pertama tahun ini pasar saham mengalami tekanan, sementara nilai tukar rupiah sempat melemah terhadap dolar AS.

"Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri," ungkap Ibrahim.

Selain faktor domestik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi dan memengaruhi sentimen di pasar keuangan internasional.

Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan bank sentral perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila data inflasi menunjukkan peningkatan.

Menurut Ibrahim, meski pernyataan tersebut bernada hawkish, Waller masih melihat peluang inflasi kembali menuju target 2 persen tanpa harus menaikkan suku bunga apabila kondisi pasar tenaga kerja tetap mendukung.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan. Pada Selasa, kurs referensi tersebut berada di level Rp18.099 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi sebelumnya yang tercatat Rp18.131 per us$.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |