
Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di salah satu rumah industri di Jakarta, Sabtu (2/5/2026). Bisnis/Himawan L. Nugraha
Harianjogja.com, BANDUNG — Sebanyak 140 perajin tahu yang tergabung dalam Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung, Jawa Barat, mulai mengancam akan menghentikan produksi dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga kedelai impor yang semakin mahal seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, M. Zamaludin, mengatakan lonjakan harga kedelai langsung memukul biaya produksi industri kecil berbasis kedelai tersebut. Saat ini, harga kedelai tercatat telah mencapai sekitar Rp11.000 per kilogram, naik signifikan dibandingkan sebelum periode puasa yang masih berada di kisaran Rp8.000–Rp9.000 per kilogram.
“Ya dampaknya harga kedelai sekarang mahal. Sekarang sudah ada yang mencapai Rp11.000 per kilogram,” ujar Zamaludin, Sabtu (6/6/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar perajin di Jawa Barat masih bergantung pada kedelai impor dari Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil. Ketergantungan tersebut membuat industri tahu dan tempe sangat rentan terhadap fluktuasi kurs dolar yang berdampak langsung pada harga bahan baku.
Menurutnya, kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memburuk apabila tren pelemahan rupiah terus berlanjut. Tidak hanya kedelai, biaya produksi lain juga berpotensi ikut naik sehingga menekan margin keuntungan perajin kecil.
“Kami khawatir harga kedelai terus naik, lalu diikuti bahan-bahan lainnya. Kalau dolar naik tentu sangat berpengaruh,” katanya.
Zamaludin menambahkan, situasi ini mengingatkan pada kondisi serupa pada 2023, ketika perajin tahu dan tempe di berbagai daerah sempat melakukan aksi mogok produksi secara serentak. Aksi tersebut berdampak pada berkurangnya pasokan di pasar tradisional.
“Kalau harga kedelai naik terus, bukan tidak mungkin kejadian tahun 2023 terulang lagi. Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah mogok produksi,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyebut sebagian perajin masih dapat bertahan karena menggunakan stok kedelai lama yang dibeli sebelum harga naik. Namun keuntungan mereka kini menipis, bahkan sebagian mulai merugi.
“Ukuran produk masih normal dan harga belum naik, tapi margin keuntungan sudah sangat kecil,” katanya.
Para perajin berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga kedelai, termasuk melalui kebijakan impor yang lebih ringan agar industri tahu dan tempe rakyat tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































