Penumpang Pesawat Asia-Pasifik Turun, Harga Avtur Jadi Penyebab

14 hours ago 7

Harianjogja.com, JAKARTA— Jumlah penumpang pesawat internasional di kawasan Asia-Pasifik kembali mengalami penurunan pada Juni 2026. Association of Asia-Pacific Airlines (AAPA) mencatat volume penumpang menyusut 1,1 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 30,46 juta penumpang, melanjutkan tren penurunan yang mulai terlihat pada Mei 2026.

Secara bulanan (month on month/MoM), lalu lintas penumpang juga turun 3,76 persen. Penurunan tersebut terjadi di tengah kenaikan harga tiket pesawat yang dipicu lonjakan harga bahan bakar penerbangan serta penyesuaian kapasitas maskapai menjelang puncak musim perjalanan pertengahan tahun.

Harga Avtur Tekan Permintaan Perjalanan Udara

AAPA menyebut mahalnya biaya operasional akibat kenaikan harga bahan bakar jet membuat sejumlah maskapai mengurangi kapasitas penerbangan, terutama pada rute-rute regional.

Sementara itu, revenue passenger kilometers (RPK) masih mencatat pertumbuhan 1,1 persen secara tahunan, meski turun 4,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan perjalanan jarak jauh masih bertahan meskipun jumlah penumpang menurun.

Di sisi lain, kapasitas penerbangan yang diukur melalui available seat kilometers (ASK) hanya meningkat 0,3 persen secara tahunan, namun turun 4,67 persen secara bulanan.

Semester I Masih Tumbuh

Meski terjadi perlambatan pada Juni, kinerja maskapai Asia-Pasifik sepanjang semester pertama 2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif.

Selama Januari hingga Juni 2026, maskapai di kawasan tersebut mengangkut 192,49 juta penumpang internasional, meningkat 3,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Jenderal AAPA, Wong Hong, mengatakan perlambatan lalu lintas penumpang dipengaruhi kombinasi kenaikan tarif tiket dan pengurangan kapasitas di sejumlah pasar regional.

"Lalu lintas penumpang melambat pada bulan Juni karena kenaikan harga tiket dan penyesuaian kapasitas di beberapa pasar regional menekan permintaan," ujar Wong Hong.

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Avtur

Data Platts, bagian dari S&P Global Energy, menunjukkan harga rata-rata bahan bakar jet FOB Singapura mencapai US$139,22 per barel pada Juli 2026.

Angka tersebut meningkat dibandingkan Juni yang berada di US$124,93 per barel, meski masih lebih rendah dari US$151,73 per barel pada Mei.

Sebelum konflik di Timur Tengah pecah pada tahun ini, harga acuan avtur tercatat jauh lebih rendah, yakni rata-rata US$89,03 per barel pada Februari dan US$83,32 per barel pada Januari.

IATA Catat Penurunan Pertama Sejak Pandemi

International Air Transport Association (IATA) juga melaporkan melemahnya permintaan perjalanan udara di kawasan Asia akibat tingginya harga bahan bakar jet.

"Di kawasan Asia, lalu lintas penumpang menyusut sebesar 2,6% secara tahunan pada Juni, yang menandai penurunan pertama sejak pandemi. Hal ini sebagian besar mencerminkan langkah maskapai penerbangan untuk mengurangi layanan jarak pendek sebagai respons terhadap harga bahan bakar yang lebih tinggi," kata IATA.

Kapasitas penerbangan pada rute intra-Asia turun 4,8 persen secara tahunan, sedangkan tingkat keterisian kursi (passenger load factor/PLF) meningkat 1,9 poin persentase menjadi 82,8 persen.

Beberapa pasar utama yang mencatat penurunan lalu lintas penumpang meliputi Jepang, Korea Selatan, Thailand, Indonesia, dan Vietnam.

Maskapai Naikkan Biaya Tambahan

Sejumlah maskapai di Asia, termasuk Korean Air, Japan Airlines, dan All Nippon Airways, telah memberlakukan biaya tambahan pada tarif tiket untuk mengimbangi tingginya harga bahan bakar.

Langkah serupa juga dilakukan maskapai di Taiwan. Otoritas Penerbangan Sipil (CAA) Taiwan mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar untuk penerbangan internasional mulai 9 Agustus 2026.

"Akibat kenaikan harga bahan bakar penerbangan baru-baru ini, biaya tambahan bahan bakar penumpang maskapai internasional akan dinaikkan mulai tanggal 9 bulan ini," kata CAA Taiwan dalam rilisnya.

Biaya tambahan untuk rute jarak pendek ditetapkan menjadi US$30, sedangkan penerbangan jarak jauh naik menjadi US$78.

Kargo Udara Masih Bertumbuh

Di sektor kargo udara, permintaan tercatat turun 5,39 persen secara bulanan, tetapi masih tumbuh 3,2 persen secara tahunan pada Juni 2026.

Secara kumulatif, permintaan kargo udara selama semester pertama tahun ini meningkat 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Wong Hong mengatakan industri penerbangan masih menghadapi tantangan besar akibat konflik Timur Tengah, volatilitas harga bahan bakar, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan.

"Berbagai hambatan ini, ditambah dengan tingkat kepercayaan bisnis yang lebih moderat serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan, dapat meredam pertumbuhan pasar perjalanan dan kargo udara dalam beberapa bulan mendatang," kata Wong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |