Pameran Fotografi Rana Budaya #4 Ajak Warga Tinggalkan Sejenak Layar

3 hours ago 3

Pameran Fotografi Rana Budaya #4 Ajak Warga Tinggalkan Sejenak Layar

Pembukaan Pameran Fotografi Rana Budaya #4 bertajuk FYP (For Your People) di TBY, Kota Jogja, pada Jumat (14/8/2026) sore. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA—Di tengah kebiasaan masyarakat menghabiskan perhatian di depan layar dan mengikuti apa yang disodorkan algoritma media sosial, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mengajak publik kembali melihat kehidupan di sekitarnya.

Ajakan itu diwujudkan melalui Pameran Fotografi Rana Budaya #4 bertajuk FYP (For Your People) di TBY, Kota Jogja. Pameran tersebut dibuka pada Jumat (14/8/2026) sore dan berlangsung hingga Minggu (23/8/2026).

Kepala TBY, Purwiati, mengatakan Rana Budaya #4 tidak sekadar menghadirkan karya fotografi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengajak masyarakat kembali memperhatikan manusia dan kehidupan yang berlangsung di sekitarnya. Gagasan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap kebiasaan melihat dunia melalui layar dan algoritma yang menentukan apa yang muncul di hadapan pengguna.

“Melalui Rana Budaya #4 ini kami ingin mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dari kesibukan melihat layar. Perhatian kita coba kembalikan kepada orang-orang, ruang hidup, dan berbagai peristiwa yang ada di sekitar kita,” kata Purwiati.

Menurutnya, tema FYP sengaja dipilih dengan meminjam istilah For You Page yang populer di media sosial, tetapi diberi makna berbeda menjadi For Your People. Pergeseran makna tersebut menandai ajakan untuk mengubah perhatian dari sesuatu yang berpusat pada diri sendiri menuju kehidupan bersama.

Rana Budaya #4 tidak menempatkan fotografi hanya sebagai aktivitas menghasilkan gambar. Kamera dipandang sebagai sarana untuk mengamati kehidupan, mendekati orang lain, sekaligus membangun empati terhadap berbagai hal yang kerap dianggap biasa.

Beragam karya yang dipamerkan merekam kehidupan keluarga, pekerjaan, komunitas, tradisi, ritual, gotong royong, lingkungan, pangan, hingga berbagai peristiwa sehari-hari. Cerita-cerita tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam acara besar, tetapi juga tumbuh di pasar, rumah, jalan kampung, tempat kerja, warung, hingga lingkungan tempat tinggal.

“Fotografi di sini bukan hanya soal apa yang berhasil direkam kamera, tetapi juga tentang apa yang dianggap penting oleh fotografer untuk diperhatikan. Dari situ, karya fotografi bisa menjadi catatan tentang kehidupan masyarakat pada suatu masa,” ujar Purwiati.

Ia menjelaskan, karya-karya yang terpilih dalam Rana Budaya #4 memperlihatkan dua kecenderungan, yakni cerita dari ruang personal dan cerita dari ruang komunal. Ruang personal menghadirkan pengalaman individu, keluarga, atau kelompok kecil, sedangkan ruang komunal merekam tradisi, perayaan, ritual, dan berbagai aktivitas masyarakat.

Pertemuan dua jenis cerita tersebut membuat pameran tidak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga momen-momen yang lebih intim. Pengunjung dapat menemukan kisah yang dekat dengan kehidupan pribadi sekaligus melihat dinamika masyarakat yang berlangsung di ruang publik.

Rana Budaya #4 juga memberi ruang bagi fotografer untuk menyampaikan cerita melalui foto berseri. Dalam pendekatan ini, tiga hingga lima foto dapat dirangkai menjadi satu cerita sehingga fotografer memiliki ruang lebih luas untuk menghadirkan suasana, detail, dan konteks.

Menurut Purwiati, pendekatan tersebut membuat pengunjung tidak sekadar melihat satu gambar lalu berpindah ke gambar berikutnya. Rangkaian foto memberi kesempatan bagi pengunjung untuk tinggal lebih lama dan memahami hubungan antargambar maupun cerita yang dibawa fotografer.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menilai tema For Your People menjadi upaya menarik perhatian masyarakat dari ranah digital menuju refleksi atas kehidupan sosial budaya DIY. Fotografi dinilai mampu menjadi medium untuk mendekatkan publik dengan karakter, pola kehidupan, dan berbagai dinamika masyarakat Jogja.

“Setiap foto adalah jendela dari budaya. Sama seperti jargonnya Taman Budaya, The Windows of Yogyakarta. Pengin lihat Yogyakarta? Lihatlah Taman Budaya,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kerja dewan juri dan kurator yang telah menyaring ratusan karya hingga terpilih untuk dipamerkan kepada publik. Menurutnya, proses tersebut merupakan bagian dari rangkaian panjang pengkajian sebelum karya akhirnya dapat dipresentasikan kepada masyarakat.

Rana Budaya #4 diselenggarakan dengan dukungan Dana Keistimewaan DIY Tahun Anggaran 2026. Melalui pameran tersebut, TBY berharap fotografi tidak hanya menjadi medium visual, tetapi juga menjadi cara untuk merekam, merawat ingatan, dan melihat kembali kehidupan bersama. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |