Mahasiswa USD Ciptakan Konseling VR bagi Penyintas Bencana

8 hours ago 2

Mahasiswa USD Ciptakan Konseling VR bagi Penyintas Bencana

Lima mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma mengembangkan inovasi layanan konseling berbasis Virtual Reality (VR) yang diberi nama BRAVO-REVIVA (Brave Recovery through Virtual Reality Intervention and Positive Assistance). / Ist

JOGJA—Lima mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma mengembangkan inovasi layanan konseling berbasis Virtual Reality (VR) yang diberi nama BRAVO-REVIVA (Brave Recovery through Virtual Reality Intervention and Positive Assistance). Gagasan tersebut berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 dan menawarkan pendekatan baru dalam mendukung pemulihan psikologis penyintas bencana alam.

Tim pengembang terdiri atas Brigita Dianita Sarah sebagai ketua, bersama Febroni Asesa Lum, Veronika Alsabda Elti, Arifah Nadya Tyastuty, dan Diego Ludowick Ta Gutha. Mereka mengangkat isu kesehatan mental pascabencana setelah melihat masih terbatasnya layanan psikologis yang dapat diakses oleh penyintas di berbagai daerah terdampak bencana di Indonesia.

Menurut Brigita, penanganan pascabencana selama ini lebih banyak difokuskan pada pemulihan infrastruktur dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Sementara itu, dampak psikologis yang dialami korban sering kali belum memperoleh perhatian yang memadai.

"Pemulihan pascabencana seharusnya tidak hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga membantu memulihkan sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis korban bencana," ujarnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim mengembangkan BRAVO-REVIVA, sebuah layanan konseling berbasis teknologi VR yang memungkinkan penyintas memperoleh pengalaman interaktif di lingkungan virtual sebagai bagian dari proses pemulihan psikologis.

Inovasi ini dirancang berdasarkan pendekatan psikologi positif dan memadukan enam bentuk intervensi, yaitu natural expanse, emotion regulation, project collaboration, art activity, puzzle, dan supportive listening. Keenam intervensi tersebut bertujuan membantu penyintas mengelola emosi, mengurangi stres, membangun rasa aman, memperkuat hubungan sosial, serta meningkatkan kemampuan beradaptasi setelah mengalami bencana.

Dalam implementasinya, penyintas akan menggunakan perangkat VR yang disediakan oleh tim, sementara layanan didampingi oleh relawan, konselor, atau psikolog di lokasi pengungsian. Melalui teknologi tersebut, pengguna memasuki lingkungan virtual yang dirancang menyerupai situasi nyata sehingga proses konseling menjadi lebih interaktif dan imersif.

Tim merencanakan layanan ini diberikan pada fase pemulihan, yakni sekitar minggu keempat setelah bencana terjadi. Pada tahap tersebut, kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, tempat tinggal, dan layanan darurat umumnya telah mulai terpenuhi sehingga perhatian dapat diarahkan pada pemulihan psikologis penyintas.

Dosen pembimbing tim, Antonius Ian Bayu Setiawan, M.Pd., mendorong mahasiswa untuk memperkuat dasar ilmiah inovasi tersebut, khususnya terkait Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS) serta triase psikologis dalam penanganan bencana.

"Coba pahami terkait MHPSS dan triase psikologis untuk penanganan kebencanaan supaya tidak salah langkah," pesannya kepada tim.

Selain mengembangkan teknologi, tim juga menyadari bahwa keberhasilan implementasi BRAVO-REVIVA memerlukan kolaborasi lintas sektor. Mereka memandang sinergi dengan lembaga penanggulangan bencana, tenaga kesehatan, psikolog, konselor, relawan, hingga penyedia infrastruktur menjadi faktor penting agar layanan dapat diterapkan secara optimal di lapangan.

Menurut anggota tim, keterbatasan jumlah tenaga kesehatan mental di berbagai daerah menjadi salah satu alasan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam layanan psikologis. Melalui pendekatan digital, mereka berharap akses masyarakat terhadap layanan konseling dapat menjadi lebih mudah, terutama di wilayah terdampak bencana.

Saat ini tim tengah menyiapkan video gagasan konstruktif dan berbagai luaran ilmiah sebagai bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa 2026. Ke depan, mereka berharap BRAVO-REVIVA dapat dikembangkan lebih lanjut melalui dukungan pemerintah, akademisi, dan berbagai lembaga terkait sehingga menjadi salah satu alternatif layanan dukungan psikososial bagi penyintas bencana di Indonesia. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |