Harley-Davidson Pindahkan Produksi Mesin ke AS demi Efisiensi

2 hours ago 2

Jumali

Jumali Rabu, 10 Juni 2026 15:37 WIB

Harley-Davidson Pindahkan Produksi Mesin ke AS demi Efisiensi

Penampakan Harley-Davidson terbaru - Visordown

Harianjogja.com, JOGJA—Produsen sepeda motor Harley-Davidson mempercepat transformasi bisnis dengan memindahkan kembali produksi mesin Revolution Max untuk pasar Amerika Utara ke Amerika Serikat. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat basis manufaktur domestik sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Mesin Revolution Max saat ini digunakan pada sejumlah model unggulan Harley-Davidson, seperti Sportster S, Nightster, dan Pan America 1250. Selain produksi mesin, Reuters mengungkapkan, perusahaan juga akan memindahkan proses permesinan, perakitan powertrain, pengecatan, hingga perakitan akhir kendaraan ke fasilitas manufakturnya di Pennsylvania dan Wisconsin.

Manajemen menargetkan proses relokasi tersebut rampung sebelum dimulainya produksi model tahun 2028 yang dijadwalkan berlangsung pada 2027. Harley-Davidson memperkirakan fasilitas produksi di York, Pennsylvania, mampu menghasilkan lebih dari 100.000 unit sepeda motor pada 2027.

Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi bisnis baru di bawah kepemimpinan CEO Artie Starrs. Perusahaan tengah melakukan penyederhanaan lini produk dan penyesuaian strategi perdagangan elektronik untuk menghadapi perlambatan permintaan di pasar global.

Harley-Davidson menyebut 2026 sebagai tahun transisi bagi perusahaan. Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari investor sehingga saham perusahaan sempat menguat sekitar 2%.

Chief Financial Officer Harley-Davidson, Jonathan Root, mengatakan volatilitas penjualan ritel global masih berlanjut sejak pertengahan 2024. Menurut dia, kondisi ekonomi yang menantang membuat konsumen semakin berhati-hati dalam membeli produk bernilai tinggi.

Tekanan inflasi yang masih bertahan dan tingginya biaya pinjaman juga dinilai memengaruhi daya beli masyarakat, terutama di Amerika Serikat.

Untuk menjaga profitabilitas, Harley-Davidson mengandalkan penjualan motor touring dan model kustom yang memiliki margin keuntungan lebih besar serta menyasar konsumen berpenghasilan tinggi.

Di sisi lain, perusahaan berencana meluncurkan model Sprint pada 2026. Motor berukuran lebih kecil dengan harga yang lebih terjangkau itu diproyeksikan untuk menarik konsumen baru, khususnya pengendara pemula.

Artie Starrs mengakui margin keuntungan perusahaan masih berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek selama proses transformasi berlangsung. Namun, manajemen optimistis langkah efisiensi dan penyesuaian strategi bisnis tersebut dapat mendukung pertumbuhan laba serta memperkuat arus kas dalam jangka panjang.

Transformasi ini melanjutkan sejumlah langkah restrukturisasi yang telah dilakukan Harley-Davidson sebelumnya, termasuk pemisahan unit bisnis sepeda motor listrik LiveWire yang menghadapi tantangan kinerja dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan fokus pada efisiensi produksi, penguatan manufaktur domestik, dan pengembangan produk yang lebih terjangkau, Harley-Davidson berharap mampu mempertahankan daya saing di tengah tekanan ekonomi global dan perubahan perilaku konsumen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |