
Ayam ras potong - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Harga ayam broiler dan telur ayam ras di tingkat peternak mulai mengalami kenaikan pada pertengahan Juli 2026. Kembalinya pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah libur sekolah dinilai turut mendorong peningkatan permintaan sehingga memberikan dampak positif bagi peternak unggas di dalam negeri.
Selain kembali beroperasinya Program MBG, berakhirnya bulan Suro juga disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perbaikan harga komoditas unggas. Kondisi tersebut diharapkan mampu membawa harga ayam dan telur mendekati Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan Program MBG yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto membawa implikasi positif terhadap produsen pangan dalam negeri, termasuk peternak unggas.
"Kalau data kami dan juga bertanya ke teman-teman peternak, relatif sudah mulai merangkak. Jadi MBG itu ada pengaruhnya dan sekarang telah melewati bulan Suro, sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik," katanya saat dikonfirmasi, Jumat (17/7/2026).
Menurut Ketut, setelah sempat mengalami penurunan harga, komoditas telur ayam ras dan ayam hidup (broiler) mulai mengalami eskalasi harga yang mendekati tingkat kewajaran sesuai HAP di tingkat produsen.
Berdasarkan data Bapanas, rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak mengalami kenaikan sebesar 4,11 persen dalam sepekan terakhir. Per 14 Juli 2026, rata-rata harga ayam broiler tercatat sebesar Rp21.736 per kilogram (kg) berat hidup, meningkat dibandingkan seminggu sebelumnya yang berada di level Rp20.878 per kg berat hidup.
Meski demikian, disparitas harga masih terjadi di sejumlah daerah. Di Provinsi Sumatera Selatan, misalnya, harga ayam broiler di tingkat peternak dilaporkan masih berada di angka Rp18.125 per kg berat hidup. Sementara di Provinsi Riau, rata-rata harga ayam broiler telah mencapai Rp25.600 per kg berat hidup atau melampaui HAP tingkat produsen yang ditetapkan sebesar Rp25.000 per kg berat hidup.
Sementara itu, harga telur ayam ras di tingkat peternak juga mulai menunjukkan tren kenaikan. Berdasarkan data per 14 Juli 2026, rata-rata harga telur ayam ras secara nasional berada di angka Rp22.644 per kg atau meningkat 0,66 persen dibandingkan seminggu sebelumnya yang tercatat sebesar Rp22.495 per kg.
Harga telur ayam ras terendah tercatat di Provinsi Banten sebesar Rp20.300 per kg, sedangkan harga tertinggi berada di Provinsi Sulawesi Utara yang mencapai Rp28.200 per kg. Adapun HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp26.500 per kg.
"Sekarang untuk petelur sudah mulai antara Rp20.000 sampai Rp21.000 per kg, sudah mulai naik perlahan. Kita lihat nanti ke depannya karena akan naik terus nih. Tapi tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," ujar Ketut.
Ia mengakui sempat terjadi penurunan permintaan telur dan daging ayam dari masyarakat yang menyebabkan harga di tingkat peternak mengalami koreksi. Salah satu penyebabnya ialah momentum bulan Suro yang membuat sejumlah kegiatan masyarakat, seperti hajatan pernikahan, mengalami penurunan sehingga berdampak pada permintaan komoditas unggas.
"Sebenarnya bulan Suro itu juga pengaruh besar karena bulan kemarin itu relatif bulan Suro, sehingga acara-acara mantenan dan lain sebagainya kan terhenti, sehingga permintaan terkait dengan ayam itu relatif menurun, sehingga harga terkoreksi," jelasnya.
Ketut optimistis harga komoditas unggas akan terus mengalami koreksi positif setelah Program MBG kembali berjalan dan aktivitas masyarakat kembali meningkat pascalibur sekolah.
"Tapi sekali lagi dengan mulainya MBG, kemudian melewati bulan Suro, ini krusial banget. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita," sambungnya.
Sebelumnya, Kepala Bapanas yang juga menjabat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan pemerintah akan melakukan penyerapan hasil produksi peternak unggas lokal bersama Badan Gizi Nasional (BGN) melalui implementasi Program MBG. Pemerintah juga menerapkan pengawasan HAP bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri di berbagai daerah.
Andi Amran Sulaiman menyebut telah menjalin komunikasi intensif dengan Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, yang menyatakan komitmennya untuk secara konsisten menyerap telur hasil produksi peternak dalam negeri guna mendukung pelaksanaan Program MBG.
Langkah penyerapan telur untuk Program MBG tersebut diharapkan mampu mempercepat pemulihan harga di tingkat peternak sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternakan unggas nasional di tengah meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































