Google Rogoh Rp16,5 Triliun per Bulan Demi Tambah Daya AI

4 hours ago 2

Google Rogoh Rp16,5 Triliun per Bulan Demi Tambah Daya AI

Kantor Google - ist/techcrunch

Harianjogja.com, JAKARTA—Persaingan pengembangan kecerdasan buatan (AI) memasuki babak baru. Google dikabarkan meneken kontrak komputasi bernilai jumbo dengan SpaceX yang membuat raksasa teknologi itu harus menggelontorkan sekitar US$920 juta atau setara Rp16,56 triliun setiap bulan untuk memperkuat kapasitas AI mereka hingga 2029.

Kesepakatan yang terungkap dalam dokumen regulator pada Jumat tersebut dilakukan menjelang penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX. Melalui perjanjian itu, Google memperoleh akses ke sekitar 110.000 unit GPU Nvidia, CPU, memori, serta berbagai komponen pendukung lain yang dibutuhkan untuk menjalankan layanan AI berskala besar.

Mengutip TechCrunch, Sabtu (6/6/2026), nilai kerja sama tersebut hampir setara dengan kontrak yang sebelumnya diteken SpaceX bersama Anthropic pada akhir Mei 2026.

Dalam kesepakatan itu, Anthropic menyetujui pembayaran sekitar US$1,25 miliar atau setara Rp22,5 triliun per bulan hingga 2029 untuk menyewa seluruh kapasitas komputasi yang tersedia di pusat data Colossus 1 yang berlokasi di dekat Memphis, Tennessee.

Fasilitas tersebut awalnya dibangun oleh xAI yang kini menjadi bagian dari SpaceX untuk mendukung pengembangan teknologi AI internal perusahaan.

Berdasarkan rincian yang tersedia, kapasitas komputasi AI yang diperoleh Google diperkirakan hanya sekitar separuh dari kapasitas yang diakses Anthropic di Colossus 1. Namun, hingga kini SpaceX belum mengungkap pusat data mana yang akan digunakan Google dalam kerja sama tersebut.

Sebelumnya, CEO SpaceX, Elon Musk, menyatakan bahwa pusat data Colossus 2 akan diprioritaskan untuk kebutuhan xAI.

Meski menambah kapasitas komputasi dari pihak eksternal, Google dinilai tidak mengalami keterbatasan infrastruktur seperti yang pernah dihadapi Anthropic. Sejumlah estimasi bahkan menempatkan Google sebagai salah satu pemilik sumber daya komputasi AI terbesar di dunia.

Dalam keterangannya, Google menyebut langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan pelanggan terhadap produk AI terbaru mereka.

“Google Cloud dan SpaceX telah lama menjadi mitra. Ini adalah perjanjian jangka pendek yang tepat waktu untuk memastikan kami memiliki kapasitas tambahan guna memenuhi lonjakan permintaan pelanggan terhadap platform agen AI kami, Gemini Enterprise, yang ternyata jauh lebih tinggi dari perkiraan kami,” kata perwakilan Google.

Di tengah ekspansi bisnis AI yang semakin agresif, induk usaha Google, Alphabet, juga terus meningkatkan belanja investasinya.

Perusahaan diketahui telah mengalokasikan lebih dari US$180 miliar atau sekitar Rp3.240 triliun untuk belanja modal (capital expenditure/capex) sepanjang tahun ini. Nilai tersebut bahkan diperkirakan akan meningkat signifikan pada 2027.

Untuk menopang kebutuhan pendanaan tersebut, Alphabet baru saja mengumumkan rencana penjualan saham senilai US$80 miliar atau setara Rp1.440 triliun.

Seperti halnya kontrak yang dijalankan bersama Anthropic, kerja sama antara Google dan SpaceX juga memuat klausul penghentian perjanjian. Kedua pihak memiliki hak untuk membatalkan kontrak dengan pemberitahuan 90 hari setelah 31 Desember 2026.

Dokumen yang disampaikan kepada regulator menunjukkan akses Google terhadap pusat data akan ditingkatkan secara bertahap hingga September 2026 dengan biaya yang lebih rendah selama masa transisi.

Dalam dokumen yang sama disebutkan bahwa apabila SpaceX gagal menyediakan jumlah GPU sesuai komitmen hingga 30 September 2026, maka setelah masa tenggang satu bulan Google dapat mengakhiri kerja sama tersebut atau tetap menerima kapasitas GPU yang tersedia dengan penyesuaian biaya bulanan yang lebih rendah.

Pengumuman kontrak komputasi AI bernilai triliunan rupiah ini muncul hanya sekitar satu pekan sebelum saham SpaceX diperkirakan mulai diperdagangkan di bursa Nasdaq. Berdasarkan dokumen yang diajukan kepada regulator pasar modal Amerika Serikat, perusahaan menargetkan penghimpunan dana sekitar US$75 miliar atau setara Rp1.350 triliun dengan valuasi mencapai US$1,75 triliun.

Google sendiri merupakan salah satu investor lama di SpaceX. Setelah IPO terlaksana, nilai kepemilikan saham Google di perusahaan milik Elon Musk tersebut diperkirakan melampaui US$100 miliar atau sekitar Rp1,8 kuadriliun.

Selain kerja sama komputasi AI, kedua perusahaan juga dilaporkan tengah menjajaki pembangunan pusat data orbital di luar angkasa yang disebut-sebut menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang SpaceX setelah IPO.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |