Chevrolet Hentikan Penjualan Mobil Baru di China Setelah 21 Tahun

12 hours ago 9

Chevrolet Hentikan Penjualan Mobil Baru di China Setelah 21 Tahun

Chevrolet Bolt EV - Chevrolet

Harianjogja.com, JOGJA—General Motors (GM) resmi menghentikan penjualan mobil baru merek Chevrolet di China. Langkah tersebut menandai berakhirnya kehadiran ritel Chevrolet di negara dengan pasar otomotif terbesar di dunia setelah hampir 21 tahun beroperasi.

Meski menghentikan penjualan domestik, GM menegaskan Chevrolet tidak sepenuhnya meninggalkan China. Produksi kendaraan merek asal Amerika Serikat tersebut tetap dipertahankan dan akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor di berbagai negara.

Keputusan itu mencerminkan perubahan strategi GM di tengah ketatnya persaingan industri otomotif China yang kini didominasi produsen lokal dan kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV).

Fokus Baru pada Pasar Ekspor

GM China menyatakan jajaran produk Chevrolet yang diproduksi di China saat ini dinilai lebih kompetitif untuk pasar internasional dibandingkan pasar domestik.

Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data China Passenger Car Association (CPCA), ekspor kendaraan Chevrolet dari China pada semester pertama 2026 mencapai 6.930 unit atau meningkat 6,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tren ekspor Chevrolet juga terus menguat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, ekspor tercatat mencapai 17.159 unit dan pada 2025 sebanyak 15.917 unit. Jumlah tersebut bahkan melampaui penjualan ritel Chevrolet di pasar China.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan GM memilih mempertahankan basis produksi di China sambil mengalihkan fokus bisnis ke pasar global.

Dari Masa Kejayaan hingga Penjualan Nyaris Nol

Chevrolet masuk ke pasar China pada 2005 melalui perusahaan patungan SAIC-GM. Dalam perjalanannya, merek tersebut sempat menjadi salah satu pemain utama berkat model-model populer seperti Chevrolet Cruze.

Puncak kejayaan Chevrolet terjadi pada 2014 ketika penjualannya mencapai sekitar 767.000 unit dalam setahun. Angka tersebut menjadikan Chevrolet sebagai salah satu merek kendaraan mainstream yang cukup kuat di China.

Namun kondisi berubah drastis beberapa tahun kemudian. Sejak 2018, performa Chevrolet mulai melemah dan terus mengalami penurunan.

Beberapa faktor disebut menjadi penyebab utama merosotnya penjualan. Pertama, keputusan menggunakan mesin tiga silinder yang kurang diminati konsumen. Kedua, persaingan yang semakin agresif dari produsen otomotif lokal China. Ketiga, lambatnya adaptasi Chevrolet terhadap perkembangan kendaraan listrik dan energi baru yang tumbuh sangat cepat di negara tersebut.

Akibat berbagai faktor tersebut, penjualan Chevrolet terus tergerus. Dari sekitar 410.000 unit pada 2019, angka itu turun menjadi 52.700 unit pada 2024 dan anjlok hingga di bawah 9.000 unit sepanjang 2025.

Situasi semakin berat pada 2026. Pada semester pertama tahun ini, penjualan ritel Chevrolet di China hanya tercatat 36 unit. Bahkan pada Mei 2026, Chevrolet dilaporkan tidak mencatatkan satu pun penjualan kendaraan baru.

GM dan SAIC Perpanjang Kerja Sama hingga 2047

Meski Chevrolet menghentikan penjualan ritel, GM justru memperkuat komitmennya di China melalui kemitraan dengan SAIC Motor.

Kedua perusahaan baru saja menandatangani perjanjian strategis baru yang memperpanjang masa kerja sama SAIC-GM selama 20 tahun hingga 2047.

Dalam kesepakatan tersebut, SAIC-GM menargetkan peluncuran sedikitnya 30 model kendaraan energi baru hingga 2030. Fokus utama pengembangan akan diarahkan pada merek Cadillac dan Buick yang tetap menjadi tulang punggung bisnis GM di pasar China.

Dilansir dari Reuters, Executive Vice President Global GM sekaligus Presiden GM China, John Roth, menilai kemampuan SAIC-GM dalam bidang rekayasa, manufaktur, dan pengendalian kualitas menjadi modal penting untuk memperluas pasar ekspor.

Pasar yang menjadi sasaran antara lain Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, Meksiko, hingga kawasan Asia-Pasifik.

Layanan Purnajual Tetap Berjalan

GM memastikan penghentian penjualan mobil baru Chevrolet tidak akan memengaruhi layanan bagi pelanggan yang sudah ada.

Perusahaan menyebut jaringan dealer tetap beroperasi untuk melayani kebutuhan purnajual. Pasokan suku cadang, servis berkala, hingga layanan perawatan kendaraan juga dijamin tetap tersedia.

Jaminan tersebut menjadi kabar penting bagi lebih dari 7,5 juta pemilik Chevrolet di China yang sebelumnya khawatir terhadap dampak keputusan tersebut.

Dengan demikian, Chevrolet memang menghentikan aktivitas penjualan mobil baru di China, tetapi tetap mempertahankan kehadiran operasionalnya melalui layanan purnajual dan basis produksi untuk pasar ekspor.

Mengulang Strategi yang Pernah Diterapkan di India

Langkah yang diambil GM di China bukan pertama kalinya dilakukan. Pada 2017, Chevrolet juga menghentikan penjualan domestik di India namun tetap mempertahankan fasilitas produksi untuk kebutuhan ekspor.

Kini strategi serupa kembali diterapkan di China. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa GM melihat nilai strategis manufaktur China sebagai pusat produksi global lebih besar dibandingkan mempertahankan pangsa pasar domestik yang terus tertekan oleh persaingan dan percepatan transisi menuju kendaraan listrik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |