
Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) membuka rangkaian Dies Natalis ke-61 bertema “Sinergi UAJY Mewujudkan Laudato Si’ untuk Semakin Berdampak dan Menjadi Berkat” melalui kegiatan Masterclass & Roundtable Discussion bersama Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan RI periode 2011–2014 sekaligus host Endgame Podcast./ Ist
JOGJA – Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) membuka rangkaian Dies Natalis ke-61 bertema “Sinergi UAJY Mewujudkan Laudato Si’ untuk Semakin Berdampak dan Menjadi Berkat” melalui kegiatan Masterclass & Roundtable Discussion bersama Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan RI periode 2011–2014 sekaligus host Endgame Podcast.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 3, Gedung St. Thomas Aquinas UAJY, Kamis (13/8/2026), membahas masa depan dan peran strategis Asia Tenggara di tengah perubahan geopolitik, ekonomi, teknologi, keberlanjutan, dan tata kelola global. Gita juga membedah bukunya, What It Takes: Asia Tenggara – Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global.
Rektor UAJY, Dr. G. Sri Nurhartanto, S.H., LL.M., mengatakan Dies Natalis ke-61 menjadi momentum untuk kembali menghidupkan nilai-nilai UAJY, yakni berintegritas, unggul, inklusif, dan humanis, dengan berpegang pada motto Serviens in Lumine Veritatis atau “Melayani dalam Cahaya Kebenaran”.
Dalam sesi Masterclass, Gita mengulas sejarah dan geopolitik Asia Tenggara, termasuk pengaruh kedatangan Portugis di Malaka pada 1511 hingga dinamika era Dinasti Qing. Menurutnya, negara-negara Asia Tenggara perlu menjaga equilibrium atau keseimbangan hubungan antara kekuatan Barat dan Tiongkok agar kawasan dapat meningkatkan kapasitas dan keluar dari kondisi mediocrity menuju capaian yang lebih unggul.

Pembahasan kemudian dilanjutkan dalam sesi roundtable yang menghadirkan enam akademisi lintas disiplin. Diskusi mencakup tata kelola pendidikan, geopolitik, komunikasi keberlanjutan, hukum, ekonomi pembangunan, hingga teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Nurhartanto menyoroti kesenjangan ekonomi antarnegara ASEAN, pemanfaatan sumber daya alam, serta dinamika Laut China Selatan dan AUKUS. Menurutnya, Indonesia dan negara-negara ASEAN membutuhkan strategi hedging yang cerdas dalam menghadapi perubahan kekuatan global. Perguruan tinggi juga berperan penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul sekaligus berlandaskan etika.
Guru Besar FISIP UMY, Prof. Faris Al-Fadhat, S.IP., M.A., Ph.D., menilai Asia Tenggara memiliki posisi strategis secara geografis dan ekonomi, tetapi pengaruhnya dalam structural power global masih perlu diperkuat. Ia mendorong ASEAN tidak hanya mempertahankan ASEAN Centrality, tetapi juga meningkatkan agency agar lebih aktif membentuk tatanan politik global.
Sementara itu, Guru Besar FISIP UAJY, Prof. Gregoria Arum Yudarwati, S.I.P., M.Mktg.Comm., Ph.D., menekankan pentingnya komunikasi yang mudah dipahami masyarakat dalam isu keberlanjutan. Menurutnya, komunikasi mengenai lingkungan perlu mengintegrasikan kearifan lokal, etnisitas, dan spiritualitas agar kepedulian terhadap lingkungan berkembang menjadi budaya.
Dari perspektif hukum, Dr. Norma Sari, S.H., M.Hum., Dosen Fakultas Hukum UAD, menyoroti pentingnya memperkuat kesadaran mengenai kedaulatan ekonomi. Ia mendorong Indonesia tidak hanya berdaulat sebagai konsumen, tetapi juga mampu menjadi penyedia barang dan jasa.
Di bidang ekonomi pembangunan, Prof. Aloysius Gunadi Brata, S.E., M.Si., Ph.D., menyoroti tantangan skala modal dan industri di Asia Tenggara. Ia menilai kawasan membutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk mendorong transformasi ekonomi dan meningkatkan daya saing.
Sementara itu, Prof. Ir. A. Djoko Budiyanto, S.H., M.Si., Ph.D., membahas perkembangan teknologi digital dan AI. Ia mengingatkan potensi echo chamber akibat algoritma digital serta pentingnya literasi dan regulasi yang memadai. Perguruan tinggi juga dinilai perlu memperkuat community of practice dan membuka ruang yang lebih luas bagi akademisi untuk menyampaikan hasil riset kepada masyarakat.
Sebagai bagian dari penguatan kemitraan akademik, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia dan UAJY.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan cenderamata dan foto bersama Gita Wirjawan, pimpinan universitas, para panelis, serta ratusan peserta. Pembukaan Dies Natalis ke-61 ini menjadi momentum bagi UAJY untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi sekaligus meningkatkan kontribusinya bagi masyarakat dan lingkungan. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.







































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4855687/original/012825900_1717681637-20240606IQ_Timnas_Indonesia_vs_Irak__15_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)