Harianjogja.com, SLEMAN— Pemkab Sleman menyiapkan sejumlah langkah cepat untuk menindaklanjuti rekomendasi tim pakar terkait fenomena kemunculan api di salah satu rumah warga di Kapanewon Seyegan. Langkah yang akan dilakukan meliputi penataan ulang ruang dalam rumah, sterilisasi barang mudah terbakar, edukasi hunian aman, hingga penyediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Sleman, Makwan, menegaskan pemerintah daerah berkomitmen menjalankan rekomendasi yang disampaikan para akademisi setelah melakukan observasi di lokasi.
"Saya kira rekomendasi ini tentu akan kita laksanakan. Terutama dengan yang punya rumah, karena menyangkut penataan ruang, kamar mandi maupun kamar tidur," kata Makwan, Kamis (4/6/2026).
Menurut dia, Pemkab Sleman akan menggandeng Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman untuk memberikan edukasi mengenai hunian yang sehat dan aman bagi masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga mendukung rekomendasi untuk mengeluarkan benda-benda yang mudah terbakar dari area rumah guna meminimalkan risiko munculnya api.
"Kemudian kalau barang-barang yang mudah terbakar, saya kira itu iya, pasti harus dikeluarkan," ujarnya.
Terkait rencana penjenuhan cairan basa atau air kapur yang direkomendasikan tim akademisi, Makwan menyatakan prinsipnya mendukung pelaksanaan langkah tersebut selama tidak membahayakan keselamatan warga.
"Untuk penjenuhan cairan basa, itu saya kira tetap akan kita laksanakan, sepanjang tidak membahayakan juga, kan harus hati-hati. Karena elektrostatik tadi itu tidak mudah juga menerjemahkannya," katanya.
Selain fokus pada upaya penanganan fenomena api, Pemkab Sleman juga memberikan bantuan logistik kepada keluarga terdampak. Salah satu bantuan yang telah disalurkan berupa APAR untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
"Dukungan logistik sudah kita berikan, termasuk logistik untuk kesiapsiagaan berupa APAR. Karena beliau kemarin sudah mengeluarkan lima APAR. Kita kemarin isi ulang melalui Damkar APAR. Ini komitmen kami untuk kesiapsiagaan," tegas Makwan.
Pemkab Dengarkan Hasil Observasi Akademisi
Pemkab Sleman pada Kamis (4/6/2026) menggelar pertemuan di Kantor Kapanewon Seyegan yang melibatkan berbagai pihak, antara lain Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, peneliti Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Gegana Polda DIY, BPBD Sleman, serta sejumlah instansi terkait lainnya.
Pertemuan tersebut membahas hasil observasi lapangan dan langkah-langkah yang telah dilakukan untuk mengungkap penyebab fenomena api.
"Hari ini kawan-kawan akademisi masih melakukan observasi lapangan. Artinya, ini belum ada sebuah kesimpulan. Karena tadi itu sifatnya saling diskusi, cocok-cocokan data," ujar Makwan.
Ia menambahkan, Pemkab Sleman saat ini memprioritaskan keamanan warga terdampak sekaligus mulai mengkaji fenomena tersebut sebagai potensi ancaman baru yang belum pernah masuk dalam peta risiko bencana daerah.
"Jangan sampai terjadi kedaruratan bagi warga yang terdampak," katanya.
UGM Temukan Anomali Gas Hidrogen
Sebelumnya, Tim PKPE Fakultas Teknik UGM merilis kesimpulan sementara terkait fenomena kemunculan api di Seyegan. Tim menemukan anomali gas hidrogen dengan konsentrasi cukup tinggi di sekitar titik munculnya api.
Koordinator Tim PKPE Fakultas Teknik UGM, Prof. Alva Edy Tontowi, menjelaskan observasi awal dilakukan pada Sabtu (30/5/2026) menggunakan kamera termal.
Hasil pengamatan menunjukkan adanya anomali suhu, namun tidak signifikan karena hanya berada di kisaran 29 derajat Celsius.
"Namun tidak signifikan, hanya berkisar sampai 29 derajat Celsius. Artinya suhu di area rumah dan sekitarnya masih berada pada rentang suhu ambien dan tidak dijumpai anomali tinggi," jelas Alva dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Pada observasi lanjutan yang dilakukan Senin (1/6/2026), tim mendeteksi keberadaan gas hidrogen dengan konsentrasi cukup tinggi. Di area kamar mandi yang sempat muncul api, kadar hidrogen tercatat mencapai 0,11.
Saat kemunculan api kembali terjadi di salah satu kamar, alat ukur menunjukkan kadar hidrogen di dekat titik api mencapai 0,40.
"Pada waktu yang sama, terjadi kemunculan api di salah satu kamar. Tim mengukur kandungan gas di dekat titik api dan hasilnya terbaca adanya gas hidrogen yang sangat tinggi, sampai 0,40," ujarnya.
Diduga Berasal dari Limbah Organik Pemotongan Ayam
Berdasarkan hasil pengamatan sementara, tim UGM menduga gas hidrogen berasal dari proses fermentasi limbah organik rumah pemotongan ayam yang berada di dekat lokasi kejadian.
Selain hidrogen, tim juga membuka kemungkinan adanya gas fosfin (PH3) yang terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras bulu ayam.
"Sangat dimungkinkan, bersama dengan gas hidrogen tersebut ada gas lain yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yaitu gas fosfin, yang diduga bisa terbentuk dari material yang kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam," kata Alva.
Menurut dia, gas fosfin sulit terdeteksi karena akan langsung habis terbakar saat bersentuhan dengan oksigen.
"Tidak mudah terdeteksi dan akan habis terbakar jika bertemu oksigen. Sangat dimungkinkan gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen yang keluar bersamaan. Hal ini masih perlu diselidiki secara lebih mendalam," ujarnya.
Rekomendasi Tim UGM
Sebagai langkah mitigasi, Tim PKPE FT UGM merekomendasikan agar sirkulasi udara di dalam rumah dibuka selebar mungkin serta memasang blower atau kipas angin untuk mencegah akumulasi gas.
"Pasang blower dan atau kipas angin, untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api," kata Alva.
Tim juga menyarankan seluruh barang yang mudah terbakar dikeluarkan dari rumah.
Selain itu, UGM berencana membantu melakukan penjenuhan cairan basa atau air kapur pada tanah dan lantai rumah untuk menekan kemungkinan keberadaan bakteri Clostridium yang diduga berperan dalam menghasilkan gas hidrogen.
"Tim UGM akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah, untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































