Anak Jarang Bergerak, Dokter Ungkap Bahaya Gaya Hidup Sedentari

19 hours ago 6

Newswire

Newswire Kamis, 06 Agustus 2026 11:07 WIB

Anak Jarang Bergerak, Dokter Ungkap Bahaya Gaya Hidup Sedentari

Foto ilustrasi anak bermain ponsel. - Foto dibuat oleh AI/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Meningkatnya penggunaan gawai membuat anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan melakukan aktivitas fisik. Kondisi tersebut memicu meningkatnya gaya hidup sedentari atau kebiasaan minim bergerak yang dinilai dapat berdampak serius terhadap kesehatan dalam jangka panjang.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Septia Mandala Putra, mengatakan rendahnya tingkat aktivitas fisik pada anak masih menjadi tantangan besar, baik di Indonesia maupun di tingkat global. Menurutnya, masih banyak anak yang belum memenuhi kebutuhan aktivitas fisik harian yang penting untuk mendukung proses tumbuh kembang.

Risiko Penyakit Meningkat Sejak Usia Anak

Septia menjelaskan kebiasaan kurang bergerak dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga obesitas.

Ia menambahkan, sejumlah penyakit yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada orang dewasa kini mulai muncul pada kelompok usia anak akibat rendahnya aktivitas fisik.

Karena itu, ia menilai orang tua dan pengasuh perlu memahami pentingnya aktivitas fisik yang sesuai dengan usia anak agar kebiasaan hidup aktif dapat terbentuk sejak dini.

"Temuan terbaru dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, kelompok usia 10–14 tahun merupakan kelompok dengan risiko tertinggi mengalami gaya hidup sedentari," katanya dalam webinar Kemenkes soal Kebugaran Jasmani Anak Sekolah.

Disesuaikan dengan Usia

Septia menjelaskan aktivitas fisik sebaiknya mulai dibiasakan sejak anak masih berusia dini. Namun, bentuk dan intensitasnya harus disesuaikan dengan tahap pertumbuhan.

Pada usia 1–2 tahun, anak dapat melakukan aktivitas singkat yang diulang beberapa kali setiap hari di lingkungan yang aman. Bentuk kegiatannya antara lain permainan interaktif, berlari kecil, memanjat, atau latihan sederhana seperti berdiri dengan satu kaki untuk melatih keseimbangan.

Memasuki usia 3–4 tahun, anak dapat diajak berjalan bersama, bermain di luar rumah, bersepeda, atau melakukan permainan yang mendorong mereka lebih aktif bergerak.

Sementara itu, anak usia 5–9 tahun dianjurkan melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat selama setidaknya 60 menit setiap hari untuk mendukung pertumbuhan, kesehatan tulang, dan kebugaran.

Adapun pada kelompok usia 10–17 tahun, aktivitas fisik dapat ditingkatkan menjadi latihan yang lebih terstruktur melalui berbagai cabang olahraga. Selain meningkatkan kebugaran, kegiatan tersebut juga membantu mengembangkan koordinasi, kerja sama, dan sportivitas.

Kenali Intensitas Aktivitas dengan Talk Test

Menurut Septia, intensitas aktivitas fisik dapat dikenali menggunakan metode talk test.

Saat anak mulai terengah-engah dan hanya mampu berbicara dalam kalimat yang terputus-putus ketika berolahraga, kondisi tersebut menandakan aktivitas telah mencapai intensitas sedang hingga berat.

Namun, apabila anak hanya mampu mempertahankan aktivitas tersebut selama sekitar 10 menit, kemampuan fisiknya perlu ditingkatkan secara bertahap.

"Peningkatannya sebaiknya dilakukan dengan urutan menambah durasi, menambah frekuensi, baru meningkatkan intensitas. Jangan langsung menaikkan intensitas latihan, terutama pada anak yang baru mulai berolahraga, karena berisiko menimbulkan cedera," imbuhnya.

Tujuan Utama Mencapai Kebugaran Jasmani

Septia menegaskan tujuan aktivitas fisik bukan sekadar membuat anak lebih banyak bergerak, melainkan membangun kebugaran jasmani yang optimal.

Ia menjelaskan kebugaran tersebut mencakup empat komponen utama, yaitu kebugaran kardiorespirasi, kekuatan otot, daya tahan otot, dan fleksibilitas.

Keempat komponen tersebut termasuk dalam health-related fitness, yakni unsur kebugaran yang berkaitan langsung dengan kesehatan serta berperan penting dalam menunjang pertumbuhan sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit pada masa mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |