2,3 Juta Anak Belum Imunisasi, Pakar Ingatkan Risiko Wabah

8 hours ago 4

2,3 Juta Anak Belum Imunisasi, Pakar Ingatkan Risiko Wabah

Ilustrasi vaksinasi - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Tingginya jumlah anak yang belum memperoleh imunisasi dasar lengkap menjadi perhatian serius di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 2,3 juta anak pada tahun lalu belum pernah mendapatkan vaksinasi sama sekali atau masuk kategori zero-dose. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah anak tanpa imunisasi tertinggi di dunia dan meningkatkan risiko munculnya kembali berbagai penyakit infeksi yang sebenarnya dapat dicegah.

Besarnya jumlah anak zero-dose tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kekuatan perlindungan kesehatan masyarakat. Ketika cakupan imunisasi menurun, potensi penyebaran penyakit menular akan semakin besar karena perlindungan kelompok (herd immunity) ikut melemah.

Dosen Kedokteran Anak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bambang Edi Susyanto menjelaskan bahwa angka anak zero-dose diperoleh dari proyeksi dan pemantauan tren tahunan yang dilakukan secara berkala.

Menurut dia, meskipun angka tersebut bukan berasal dari sensus langsung terhadap seluruh anak di Indonesia, data tersebut tetap menjadi indikator penting yang menunjukkan masih adanya kelompok anak yang belum terlindungi dari berbagai penyakit infeksi berbahaya.

“Indonesia berada pada peringkat keenam dunia dalam jumlah anak zero-dose. Yang dimaksud anak zero-dose adalah anak yang hingga usia sekitar satu tahun belum memperoleh imunisasi sesuai dengan usianya. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan karena dapat berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembang anak,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).

Bambang menuturkan bahwa imunisasi anak merupakan salah satu intervensi kesehatan paling efektif dalam mencegah penularan berbagai penyakit yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Karena itu, rendahnya cakupan imunisasi tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat secara luas.

Ia menjelaskan bahwa ketika semakin banyak anak tidak mendapatkan vaksinasi sesuai jadwal, maka perlindungan kolektif yang terbentuk di masyarakat akan melemah. Situasi tersebut dapat membuka peluang terjadinya peningkatan kasus penyakit menular hingga Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Banyak penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun, ketika banyak anak yang terlewat imunisasinya, risikonya menjadi sangat besar. Misalnya imunisasi BCG yang bertujuan mencegah tuberkulosis berat, serta imunisasi DPT untuk mencegah difteri, pertusis, dan tetanus. Penyakit-penyakit tersebut bukan penyakit ringan karena dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa,” jelasnya.

Selain memberikan perlindungan kesehatan, program imunisasi dasar lengkap juga dinilai memiliki manfaat ekonomi yang sangat besar. Bambang menilai biaya yang diperlukan untuk pencegahan jauh lebih rendah dibandingkan pengeluaran yang harus ditanggung apabila anak terinfeksi penyakit berat dan membutuhkan perawatan intensif.

Karena itu, imunisasi tidak hanya dipandang sebagai langkah medis untuk melindungi anak dari penyakit menular, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.

“Imunisasi dikenal sebagai upaya kesehatan yang sangat cost-effective. Artinya, biaya yang dikeluarkan relatif kecil, tetapi manfaat yang diperoleh sangat besar. Karena itu, imunisasi tetap menjadi salah satu investasi kesehatan terbaik untuk menjaga kualitas hidup anak-anak Indonesia,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Bambang juga mengajak para orang tua untuk tidak menunda pemberian imunisasi kepada anak. Ia menegaskan bahwa berbagai reaksi ringan setelah vaksinasi, seperti demam, merupakan respons tubuh yang normal dalam proses pembentukan kekebalan dan tidak sebanding dengan manfaat perlindungan yang diperoleh.

Menurut dia, peningkatan cakupan imunisasi anak menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya kembali penyakit-penyakit yang sebelumnya telah berhasil dikendalikan melalui program vaksinasi nasional. Upaya ini membutuhkan keterlibatan aktif orang tua, tenaga kesehatan, serta dukungan berbagai pihak agar semakin banyak anak mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal.

“Semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin kuat perlindungan yang terbentuk di masyarakat. Karena itu, kesadaran orang tua untuk melengkapi imunisasi anak menjadi sangat penting dalam menjaga kesehatan generasi mendatang,” pungkas Bambang yang juga dokter speasialis anak ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |