The Fed Naikkan Bunga 25 Bps, Pertama Kali Sejak Juli 2023

3 hours ago 3

The Fed Naikkan Bunga 25 Bps, Pertama Kali Sejak Juli 2023

Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam konferensi pers hasil Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (16/9/2026) waktu Amerika Serikat atau Kamis (17/9/2026) dini hari waktu Indonesia. / dok. YouTube The Fed\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA— Federal Reserve atau The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan ke level 3,75%–4%. Kebijakan ini menjadi kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun atau sejak Juli 2023, di tengah tekanan inflasi dan kenaikan harga energi di Amerika Serikat (AS).

Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan keputusan tersebut diambil Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (16/9/2026) waktu Amerika Serikat. FOMC menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4%.

Keputusan kenaikan suku bunga itu berlangsung tanpa perbedaan suara. Seluruh 12 anggota FOMC menyetujui kebijakan tersebut dengan perolehan suara 12–0.

Tidak ada satu pun anggota FOMC yang menolak kenaikan bunga tersebut, setelah tiga presiden bank regional The Fed sebelumnya mendukung kenaikan bunga pada pertemuan Juli 2026.

"Dalam pertemuan tersebut, FOMC memutuskan untuk menaikkan kisaran target FFR menjadi 3,75%–4% untuk mendukung mandat ganda Federal Reserve," ujar Warsh pada Rabu (16/9/2026) waktu Amerika Serikat atau Kamis (17/9/2026) dini hari waktu Indonesia.

Inflasi dan Harga Energi Jadi Perhatian

Kenaikan suku bunga tersebut sekaligus mengakhiri periode ketika bunga acuan bertahan di level 3,5%–3,75% sejak Desember 2025. Tekanan harga energi membuat posisi The Fed untuk mempertahankan bunga semakin sulit ketika inflasi masih jauh dari sasaran.

Di sisi lain, The Fed menilai aktivitas ekonomi AS masih berkembang secara solid. Belanja domestik tetap resilien, sedangkan produktivitas dan investasi modal masih kuat.

Pertumbuhan lapangan kerja juga dinilai mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa aktivitas ekonomi AS masih bertahan di tengah tantangan inflasi.

Namun, inflasi tetap menjadi persoalan utama bagi bank sentral AS. The Fed menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk mempercepat pengembalian inflasi menuju sasaran sebesar 2%.

Tekanan terhadap inflasi semakin kuat setelah perang dengan Iran mendorong harga bahan bakar lebih tinggi. Harga minyak mentah Brent berada di sekitar US$109 per barel pada Selasa (15/9/2026).

Pada saat yang sama, harga bensin rata-rata di AS mencapai US$4,36 per galon. Pergerakan harga energi tersebut menjadi bagian dari tekanan yang harus diperhitungkan The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Data inflasi juga belum memberikan ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan. Indeks harga konsumen AS meningkat 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, sedangkan secara tahunan inflasi bertahan di level 3,4%.

Berbeda dengan Keinginan Donald Trump

Keputusan The Fed menaikkan bunga juga menempatkan Ketua The Fed Kevin Warsh pada arah yang berbeda dengan keinginan Presiden AS Donald Trump mengenai kebijakan suku bunga.

Trump selama berbulan-bulan mendorong bunga lebih rendah dan menginginkan AS memiliki tingkat bunga terendah di dunia. Sementara itu, Warsh merupakan pilihan Trump untuk memimpin Federal Reserve.

Dalam proses menuju jabatan tersebut, Warsh juga sempat menyampaikan pandangan bahwa suku bunga dapat turun. Namun, tekanan inflasi kemudian mengubah perhitungan kebijakan moneter.

Dalam simposium Jackson Hole pada Agustus 2026, Warsh telah memberikan sinyal bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi dasar tidak bergerak menuju target dengan kecepatan yang memadai.

Kini, The Fed menempatkan stabilitas harga sebagai fokus kebijakan ketika aktivitas ekonomi AS masih dinilai solid. Bank sentral juga mengakui ketidakpastian tetap tinggi, antara lain akibat perkembangan geopolitik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |