Jumali Minggu, 05 Juli 2026 14:57 WIB

Kendaraan pemudik terjebak kemacetan di Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM KM 150, Mekarjaya, Jawa Barat, Jumat (5/4/2024). Pada H-5 Lebaran 2024 arus lalu lintas di Tol Trans Jawa itu mulai terjadi kepadatan volume kendaaraan yang melintas. - Antara/Aprillio Akbar
Harianjogja.com, JOGJA—Kemacetan lalu lintas yang menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah kota besar ternyata tidak hanya menguji kesabaran pengendara. Di balik antrean kendaraan yang bergerak merayap, terdapat risiko tersembunyi yang dapat mempercepat kerusakan berbagai komponen mobil.
Kondisi stop-and-go atau berjalan lalu berhenti secara berulang membuat kendaraan bekerja dalam situasi yang jauh lebih berat dibandingkan saat melaju stabil di jalan bebas hambatan. Jika berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi perawatan yang tepat, dampaknya bisa berujung pada meningkatnya biaya servis hingga menurunnya usia pakai kendaraan.
Salah satu risiko terbesar adalah meningkatnya potensi overheat atau panas berlebih pada mesin. Saat mobil melaju normal, aliran udara dari depan kendaraan membantu menurunkan suhu radiator dan menjaga temperatur mesin tetap stabil.
Namun ketika kendaraan terjebak macet, aliran udara tersebut berkurang drastis. Sistem pendingin kemudian sepenuhnya bergantung pada kipas radiator untuk menjaga suhu tetap ideal. Apabila radiator, kipas pendingin, atau cairan pendingin mengalami masalah, suhu mesin dapat meningkat lebih cepat dan berpotensi menyebabkan overheat.
Kondisi ini menjadi lebih berisiko ketika kemacetan terjadi pada siang hari dengan suhu lingkungan yang tinggi. Karena itu, pemilik kendaraan disarankan rutin memeriksa kondisi radiator, kipas pendingin, selang, serta volume coolant agar sistem pendinginan bekerja optimal.
Kemacetan juga berdampak langsung terhadap konsumsi bahan bakar. Mesin yang terus menyala dalam kondisi diam atau idle tetap membutuhkan pasokan bensin meski kendaraan tidak bergerak. Ditambah lagi, pengemudi biasanya melakukan akselerasi pendek berulang kali ketika lalu lintas mulai bergerak.
Pola berkendara seperti ini membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros dibandingkan saat kendaraan melaju konstan. Tidak hanya itu, oli mesin juga bekerja lebih keras untuk melumasi komponen yang terus beroperasi dalam suhu tinggi. Akibatnya, kualitas dan volume oli berpotensi menurun lebih cepat apabila tidak dilakukan penggantian secara berkala.
Dampak berikutnya terlihat pada sistem pengereman dan kopling. Dalam kondisi macet, pengemudi harus lebih sering menginjak rem untuk menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Intensitas penggunaan yang tinggi membuat kampas rem mengalami gesekan lebih sering sehingga tingkat keausannya meningkat.
Pada kendaraan bertransmisi manual, kondisi serupa juga terjadi pada kampas kopling. Kebiasaan menggunakan setengah kopling saat merayap perlahan di tengah kemacetan menyebabkan gesekan berlangsung terus-menerus. Jika dilakukan setiap hari dalam jangka panjang, usia pakai komponen kopling dapat berkurang lebih cepat dari normal.
Selain itu, performa mesin juga dapat terdampak akibat pola berkendara yang tidak stabil. Mesin dipaksa berulang kali melakukan akselerasi dan deselerasi dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat efisiensi kerja mesin menurun karena suplai bahan bakar yang dibutuhkan menjadi lebih besar.
Dalam jangka panjang, kebiasaan menghadapi kemacetan setiap hari berpotensi membuat respons akselerasi terasa lebih lambat, konsumsi bahan bakar meningkat, dan keausan komponen mesin terjadi lebih cepat. Meskipun tidak menyebabkan kerusakan secara instan, akumulasi tekanan kerja tersebut dapat memengaruhi performa kendaraan secara keseluruhan.
Karena itu, pemilik kendaraan perlu memberikan perhatian lebih terhadap jadwal perawatan rutin apabila mobil sering digunakan di kawasan dengan tingkat kemacetan tinggi. Pemeriksaan sistem pendingin, oli mesin, rem, hingga kopling secara berkala menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi kendaraan tetap prima dan menghindari kerusakan yang lebih serius di kemudian hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































