Konflik Iran Picu Krisis Asam Sulfat, Harga Pupuk Terancam

5 hours ago 6

Konflik Iran Picu Krisis Asam Sulfat, Harga Pupuk Terancam

Pekerja mengangkut pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia - ist/Antara/PT Pupuk Indonesia

Harianjogja.com, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Iran mulai berdampak luas terhadap rantai pasok global. Salah satu efek paling signifikan adalah terganggunya distribusi asam sulfat, bahan kimia penting yang digunakan dalam industri pupuk hingga pengolahan logam.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu lonjakan harga asam sulfat secara tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini diperparah oleh gangguan produksi dari kilang minyak di kawasan Teluk Persia yang selama ini menjadi pemasok utama bahan tersebut.

Asam sulfat sendiri merupakan komponen krusial dalam produksi pupuk fosfat serta proses ekstraksi logam seperti tembaga. Ketika pasokan terganggu, efek berantai langsung terasa pada sektor pertanian dan industri tambang global.

Situasi semakin kompleks setelah China, sebagai produsen asam sulfat terbesar dunia, mengambil langkah pembatasan ekspor. Kebijakan ini diambil untuk menjaga ketersediaan domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan global.

Freda Gordon dari Acuity Commodities menyebut bahwa pembatasan tersebut langsung mendorong kenaikan harga di pasar internasional. “Pasar pupuk berada dalam tekanan serius. Ketika pasokan menyusut, harga otomatis melonjak,” ujarnya.

Senada, analis Argus, Sarah Marlow, memperkirakan negara-negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor asam sulfat akan merasakan dampak paling besar. Chile dan Indonesia disebut sebagai dua wilayah yang berpotensi terdampak signifikan, terutama pada sektor pertanian dan industri pengolahan mineral.

Sebelumnya, laporan Bloomberg juga mengungkap bahwa China tengah mempertimbangkan larangan ekspor penuh asam sulfat mulai Mei 2026. Jika kebijakan ini diberlakukan, tekanan terhadap harga global diprediksi akan semakin tajam.

Di sisi lain, eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari turut memperparah kondisi. Gangguan pada jalur strategis Selat Hormuz menyebabkan distribusi energi global tersendat, yang pada akhirnya berdampak pada produk turunan seperti asam sulfat.

Akibatnya, harga energi dan bahan kimia naik bersamaan, menciptakan tekanan inflasi di berbagai negara. Bagi Indonesia, kenaikan harga asam sulfat berpotensi meningkatkan biaya produksi pupuk, yang dapat berimbas pada sektor pertanian nasional.

Dengan kondisi yang masih dinamis, pelaku industri kini dihadapkan pada ketidakpastian pasokan dan harga. Jika konflik berlanjut dan pembatasan ekspor diperketat, krisis asam sulfat berpotensi berkembang menjadi masalah global yang lebih luas, memengaruhi ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |