Cuaca Ekstrem Ancam Jemaah Haji, Risiko Panas Diprediksi Meningkat

3 hours ago 2

Cuaca Ekstrem Ancam Jemaah Haji, Risiko Panas Diprediksi Meningkat

Ibadah haji oleh jemaah haji - Foto ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Perubahan iklim disebut mulai membawa ancaman serius bagi pelaksanaan ibadah haji. Studi terbaru mengungkap suhu panas dan kelembapan ekstrem saat musim haji berpotensi melampaui batas toleransi tubuh manusia, bahkan bagi orang sehat sekalipun.

Penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan European Geosciences Union (EGU) 2026 itu menyoroti kondisi cuaca saat haji 2024 yang dinilai sangat berbahaya bagi jutaan jemaah di Tanah Suci. Riset tersebut disusun tim peneliti dari Weather and Climate Services, Islamabad, Pakistan, bersama Climate Analytics, Berlin, Jerman.

Dalam kajian tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa pada Juni 2024 terjadi periode sekitar empat jam berturut-turut ketika kombinasi suhu tinggi dan kelembapan ekstrem menciptakan tingkat stres panas yang berpotensi mematikan apabila seseorang tidak mendapat pendinginan atau pertolongan cepat.

Kondisi itu disebut telah melewati ambang batas kemampuan tubuh manusia untuk beradaptasi terhadap panas, termasuk bagi orang dewasa muda dalam kondisi fisik sehat.

Ibadah haji sendiri setiap tahun diikuti jutaan umat Muslim dari berbagai negara. Aktivitas ibadah yang didominasi berjalan kaki di ruang terbuka dengan paparan sinar matahari langsung membuat jemaah sangat rentan mengalami dehidrasi hingga gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem.

Para peneliti menilai Hari Arafah menjadi fase paling berisiko karena jemaah menjalani aktivitas hampir seharian penuh di luar ruangan dengan fasilitas peneduh yang terbatas.

Arab Saudi sebenarnya telah melakukan sejumlah penyesuaian untuk mengurangi risiko cuaca panas, seperti menghadirkan area Sa’i tertutup dan membangun struktur perlindungan permanen di Mina. Namun, menurut EGU, langkah tersebut memang meningkatkan faktor keselamatan, tetapi di sisi lain turut mengubah nuansa tradisional pelaksanaan ibadah haji.

Selama musim haji 2024, sekitar 1.300 kematian dilaporkan terjadi. Sementara itu, pemerintah Arab Saudi juga disebut berencana meningkatkan jumlah jemaah pada tahun-tahun mendatang, sehingga memunculkan kekhawatiran baru terkait meningkatnya paparan panas ekstrem di lokasi ibadah.

Para ilmuwan memperkirakan dalam 20 hingga 30 tahun ke depan, musim haji akan berlangsung pada periode cuaca yang relatif lebih sejuk. Namun setelah sekitar tahun 2050, kalender haji diproyeksikan kembali bertepatan dengan musim panas ekstrem sehingga risiko cuaca berbahaya diperkirakan meningkat lagi.

“Mitigasi sangat penting tidak hanya untuk melindungi para jamaah, tetapi juga untuk melestarikan esensi dan praktik tradisional ibadah haji itu sendiri,” tulis para peneliti, dikutip Minggu (10/5/2026).

Peneliti menegaskan langkah adaptasi saja tidak cukup apabila pemanasan global terus berlangsung. Menurut mereka, perubahan iklim kini tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan, melainkan mulai memengaruhi pelaksanaan ibadah keagamaan dan aktivitas massal di berbagai negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |