Kemenkes: 3,3 Juta Warga Lansia Berisiko Terdampak Abu Krakatau

6 hours ago 4

 3,3 Juta Warga Lansia Berisiko Terdampak Abu Krakatau

Kepala Perum LKBN Antara Provinsi Banten Bayu Kuncahyo (kanan) membagikan masker kepada nelayan di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (6/9/2026). Pembagian masker secara swadaya tersebut bertujuan untuk melindungi pernapasan warga dan nelayan setempat dari paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus mengantisipasi risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Antara/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj.

Harianjogja.com, JAKARTA—Sekitar 3,3 juta jiwa lansia berisiko mengalami ancaman kesehatan akibat paparan abu erupsi Gunung Anak Krakatau. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai jumlah tersebut menunjukkan besarnya beban kesehatan yang perlu diantisipasi.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan abu vulkanis memiliki karakteristik berbeda dibandingkan debu biasa. Kandungan silika yang tajam dapat membahayakan paru-paru, mata, dan kulit.

"Abu vulkanis memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit. Bila bercampur dengan air, abu dapat mengeras seperti semen sehingga salah cara membersihkan justru menambah risiko," kata Imran Pambudi di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Abu Vulkanis Bisa Memperburuk Penyakit Kronis Lansia

Menurut Imran, kelompok lansia memiliki kerentanan lebih tinggi ketika terpapar abu vulkanik. Paparan tersebut dapat memicu gangguan pernapasan seperti ISPA, sesak napas, serta eksaserbasi asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).

Risiko terhadap sistem kardiovaskular juga meningkat, antara lain berupa tekanan darah yang naik dan potensi serangan jantung atau stroke.

Partikel abu vulkanik yang berukuran halus dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat memicu peradangan sekaligus memperburuk penyakit kronis yang sudah dialami.

Imran menjelaskan kondisi abu vulkanik berbeda dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap karhutla lebih banyak mengandung karbon, gas beracun, dan partikel organik.

Abu vulkanik dapat menimbulkan iritasi fisik secara cepat, sedangkan asap karhutla lebih banyak memberikan dampak jangka panjang dan kronis terhadap kesehatan pernapasan serta kardiovaskular.

Paparan abu juga dapat menyebabkan mata perih, berair, dan mudah teriritasi. Pada kulit, paparan dapat memicu rasa gatal dan peradangan.

"Tidak jarang lansia juga mengalami kebingungan atau penurunan konsentrasi akibat paparan berkepanjangan. Trauma evakuasi mendadak dan isolasi sosial menambah beban psikologis berupa stres dan depresi," katanya.

Erupsi Anak Krakatau Jadi Ancaman Kesehatan

Aktivitas vulkanis Anak Gunung Krakatau disebut selalu menjadi ancaman kesehatan yang nyata, terutama bagi kelompok lansia.

Sejarah mencatat gunung tersebut beberapa kali meletus dalam dua dekade terakhir. Salah satu peristiwa besar terjadi pada 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda.

Sementara itu, letusan pada September 2026 menyebarkan abu hingga Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat.

Setiap erupsi membawa dampak terhadap kesehatan masyarakat, sementara lansia menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap ancaman tersebut.

Kemenkes Minta Lansia Mendapat Perlindungan Khusus

Imran mengatakan mitigasi dampak abu vulkanik harus dilakukan secara menyeluruh. Masyarakat perlu menggunakan masker N95 atau KN95 dan kacamata pelindung.

Celah rumah juga perlu ditutup agar abu tidak masuk. Sementara itu, pembersihan abu harus dilakukan dengan cara membasahinya terlebih dahulu.

Keluarga dan caregiver diminta memastikan obat rutin lansia tersedia. Mereka juga perlu memantau tanda bahaya serta memberikan dukungan psikososial.

Di sisi lain, fasilitas kesehatan di daerah terdampak wajib menyiapkan oksigen konsentrator, obat ISPA, salep kulit, dan obat tetes mata. Tenaga kesehatan juga perlu disiagakan untuk menghadapi kemungkinan evakuasi darurat.

Abu Vulkanis Harus Dibersihkan dengan Hati-hati

Menurut Imran, proses membersihkan abu vulkanis dari rumah juga harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan kesehatan baru.

Abu vulkanis mengandung partikel silika yang tajam dan bersifat asam. Jika salah ditangani, abu dapat merusak lantai, kaca, dan kendaraan sekaligus membahayakan paru-paru.

Imran menilai letusan Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat.

Lansia, dengan berbagai keterbatasan fisik dan penyakit kronis yang dimiliki, perlu ditempatkan sebagai prioritas utama dalam strategi mitigasi.

"Dengan perlindungan individu, dukungan keluarga, dan kesiapan fasilitas kesehatan, risiko komplikasi dan mortalitas dapat ditekan, sehingga kelompok usia lanjut tetap terlindungi di tengah ancaman vulkanik yang terus berulang," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |